5

Bukan Sebuah Pengorbanan, Melainkan Sebuah Kehormatan (+5)

Furiyani Nur Amalia May 21, 2015

Topik : Pengalaman Menyenangkan Menjadi Seorang Guru

Reading time : 10 – 15 menit

Saya menulis ini dengan pandangan bahwasanya guru bukanlah sebuah profesi yang keberadaannya selalu terlihat “berat” karena tugasnya adalah membentuk dan memanusiakan anak manusia. Bagi saya menjadi seorang guru adalah sebuah rangkaian proses pembelajaran dan pendidikan selain ditujukan untuk orang lain juga terhadap diri sendiri. Terlepas dari segala pujian sebagai pahlawan tanpa tanda jasa atau pendidik bangsa, sejatinya setiap orang yang terdidik di negeri ini pasti mampu dan mengantongi tanggung jawab untuk menjadi guru bagi orang lain. Namun, tak ada salahnya untuk mencoba menjadi seorang guru berdiri di depan kelas dan disaksikan oleh muridnya akan tutur yang dia ucapkan setiap harinya.

Empat tahun lalu saya mengajar di sekolah daerah terpencil dan tertinggal di daerah perbatasan Indonesia dan Filipina. Keinginan saya untuk mencoba menjadi seorang guru tidak lebih karena saya ingin ikut memikul tanggung jawab atas janji yang negeri ini berikan. Terlalu berat memang, namun semua alasan yang menyebutkan kenapa saya harus jadi guru, mengapa saya harus bersusah-susah ke daerah perbatasan sedangkan banyak orang yang mencibir di daerah pinggiran juga masih banyak yang kekurangan guru, itu semua sirna ketika saya bertemu dengan 48 murid dari kelas 1 sampai 6 yang sampai sekarang masih menyisakan ikatan batin antara guru dan murid.

 

Belajar di kelas

Belajar di kelas

Belajar bersama

Belajar bersama

Sebagai seorang lulusan teknik yang belajar ilmu keguruan dan pedagogi anak, saya berusaha memahami betul bagaimana menyampaikan pelajaran yang benar, silabus apa yang harus saya buat dan evaluasi apa yang terus saya perbaiki supaya target akan murid saya ini bisa sukses. Sesampainya disana, nyatanya teori selalu tidak sebanding dan kadang tidak sejalan dengan praktiknya. Indonesia yang begitu luas dan beragamnya memberikan pelajaran kepadaku bahwasannya, setiap daerah di Indonesia itu unik dengan kearifan budayanya masing-masing. Begitu pula muridku yang tidak lancar berbahasa Indonesia dengan benar, membuatku harus mau belajar Bahasa Sangir.

Aktifitas di Kelas

Hal pertama yang saya ajarkan dan saya pelajari ketika saya menjadi guru disana adalah, kenapa kalian harus sekolah dan mengapa kalian harus belajar, Nak? Proses ini amat sangat menyenangkan. Daerahku tinggal adalah sebuah pulau yang subur dan dikelilingi lautan Sulawesi dan Samudera Pasifik yang kaya akan ikan. Letaknya pun jauh dari kota, listrik dan signal telepon pun tidak ada. Maka jangan heran guru pun kadang enggan tinggal disini. Hari pertama saya menjadi guru, di kelas 2 hanya ada 4 orang dari 10 murid yang masuk. Kelas 6 ada 3 orang dari total 6 murid yang duduk di bangku. Sisanya? Membantu orang tuanya melaut. Salah satu muridku, Rinto, yang masih aku ingat sampai sekarang pernah menanyakan kepadaku dengan tatapan penasaran, “Ibu guru, saya pun tidak bersekolah bisa makan dan dapat uang. Kalau sekolah malah uang tidak dapat dan penghasilan mamak berkurang.”

Menjawabnya tidak serta merta dengan hal yang taktis, namun dengan hal yang praktis. Saya juga mencoba menjadi pedagang ikan bersama ibu angkat saya, ikut bapak piara melaut di malam hari, untuk tahu jawaban apa yang pas untuk Rinto ini. Darinya saya paham maksud dari penjelasannya. Oleh karenanya saya mencoba menerangkan dengan hal simple seperti ini,

“Rinto, kalau di pasar ada orang ingin menipu Rinto nanti bagaimana? Atau bagaimana caranya Rinto dapat untung kalau musim ikan sudah mau habis, sedangkan ombak sudah mulai meninggi, Rinto tahu bagaimana aturnya?” Lantas diapun diam.

“Tidak tahu Ibu.”

“Di sekolah nanti, kamu akan mendapatkan ilmunya Rinto. Jadi sekolah bukan membuat kamu susah tapi membuat kamu lebih tahu dan mampu”

Setelah itu, walau sebelumnya manjadi murid urutan pertama yang kuantitas masuk kelas paling rendah, dia jadi rajin masuk sekolah dan banyak bertanya.

Hal yang menyenangkan menjadi seorang guru adalah menemukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga dan kita juga harus berpikir untuk menjawab dengan sepemahaman mereka. Begini contohnya:

Mayoritas penduduk di pulau itu adalah Kristen katolik dan saya adalah seorang muslim. Keberadaan penduduk yang cukup mengelompok membuat segala kegiatan peribadatanku diketahui banyak orang bahkan oleh muridku. Tak heran, ketika saya adakan kelas sore di rumah, saya selalu meminta izin ke murid-murid untuk izin solat duhur atau ashar. Nampaknya itu yang membuat muridku, Jernol suatu saat bertanya sambil berbisik,

Perkenalkan saya Jernol

“Ibu, di agama Kristen kita selalu diberi tahu untuk beribadah dengan tenang. Tapi megngapa Ibu beribadahnya seperti senam? Gerak terus dari bangun sampai jatuh ke lantai. Berdoa terus-terusan. Lalu mandi terus sebelum berdoa.”

Saya sangat tercengang sekaligus tersenyum mendenger pertayaannya. Tentu saya tidak bisa langsung bilang, “kan kita beda agama. Beda agama beda cara ibadah loh.” Oleh karenanya saya berusaha tahu bagaimana cara berdoa mereka. Sehingga saya menerangkan kepada Jernol,

“Jernol, berdoa memang harus tenang dan suci. Di agama Ibu guru, tata cara ibadahnya mengharuskan seperti itu. Dan sebagai umat yang taat Ibu harus mematuhi perintah Tuhan. Sama seperti agama Jernol, berdoa dengan cara yang diajarkan.”
Dari situ saya pun juga belajar untuk bagaimana mengajarkan sesuatu tidak dimulai dengan alasan yang negatif, namun selalu dimulai dari sisi positif. Sehingga anak akan lebih bisa menerima dan paham akan penjelasannya.
Menjadi seorang guru tidak melulu penuh keluh kesah, lantas tidak selalu gembira melihat muridnya paham akan pelajar, namun yang paling menantang adalah menemukan metode baru mengajar murid-murid yang kadang lelah belajar di dalam kelas. Saya sangat beruntung saat itu, karena tempat yang saya tinggali dikelilingi pantai pasir putih dan di belakangnya hutan lebat. Di pantai kadang saya belajar berhitung, di hutan kadang kami belajar IPA, dan kadang saya membiarkan mereka bermain begitu saja. Pun setelahnya, mereka selalu meminta di setiap minggunya, “Ibu, kapan kita belajar di hutan lagi?” atau “kapan kita bermain di pantai?”
Dari belajar di hutan itu pula saya bisa menyisipkan pelajaran untuk tidak buang sampah sembarangan, menjaga kelestarian hutan, juga tidak mengotori hutan dan lingkungan sekitarnya.

Bermain di Hutan

Belajar dan bermain di hutan

 

Bermain di pantai selepas kelas

Kenalkan Rinto

Dengan tidak pernah ada penyesalan sedikitpun walaupun hanya setahun, menjadi guru bukan hanya sebuah pengorbanan, namun sebuah kehormatan bagi saya. Dari menjadi seorang guru saya tahu bagaimana mendidik, mengajarkan kepada murid bagaimana sesuatu yang tabu menjadi tahu. Dari seorang guru pula saya tahu bagaimana menghargai guru saya dulu. Tak hanya itu, menjadi guru juga meningkatkan kemampuan leadership dalam kapasitas menginspirasi orang-orang di sekitar. Sebuah kehormatan untuk bisa melayani negeri ini dengan menjadi seorang Guru.

Untuk semua guru yang pernah membimbingku, Terima kasih

Muridmu,

Furi

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar