5

Bukan Profesi, Tapi Hobi (+2)

Intan Daswan May 14, 2015

Mengajar sejak masih di bangku kelas 3 SMA, memberikanku banyak pelajaran. Mulai dari bagaimana menguasai materi hingga memahami karakter setiap peserta didik. Semua itu aku sadari bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang terlalu sulit untuk dipelajari. Meskipun dulu, tidak pernah terbersit sedikit pun dalam benakku untuk menjadi guru. Aku bahkan dengan yakin mengatakan kalau aku tidak ingin menjadi guru.

Saat itu, aku berpikir menjadi guru itu tidak enak. Aku membayangkan saat aku masih duduk di SD hingga SMA, ketika guru itu baik, maka ia akan dikerjain oleh muridnya. Dan tentunya sebaliknya, ketika guru itu kurang baik, maka akan dibenci oleh muridnya. Sebuah profesi yang β€˜berat’, menurutku saat itu.

Tapi semuanya berubah ketika aku diminta menggantikan sementara kelas kakak di sebuah lembaga bahasa. Saat itu aku yang masih kelas 3 SMA harus mengajar murid-murid kelas 1 SMP. Awalnya aku menolak, karena aku pikir, aku tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang guru. Namun, saat itu aku dihadapkan pada pilihan yang sulit, yang pada akhirnya aku menyanggupi mengajar.

Di luar dugaan, ternyata anak-anak senang aku mengajari mereka. Mereka bahkan meminta kepada kakakku agar aku bisa mengajar. Mulai saat itu, aku jadi ketagihan untuk berdiri di depan kelas. Aku pun mulai mengajar di lembaga bahasa itu.

Aktivitas tersebut aku jalani hingga aku lupa kalau aku harus segera mendaftar ke sebuah universitas impianku. Aku terlalu menikmati hari-hari bertemu dengan anak-anak yang selalu penuh keceriaan. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk mengambil kuliah kelas karyawan di sebuah universitas swasta. Aku mengambil jurusan yang sesuai dengan pelajaran yang aku ajarkan selama ini, tentunya dengan fakultas keguruan dan pendidikan.

Tidak terbersit rasa kecewa sedikit pun ketika aku harus menanggalkan impianku selama ini. Semua itu terobati karena aku bisa bertemu banyak karakter anak dengan berbagai keceriaan. Sejak kuliah, aktivitas mengajarku bertambah. Aku diminta mengajar di sebuah SD. Di sekolah ini, aku memiliki panggilan khusus Miss. Games. Ya, sebuah panggilan yang sering membuat guru-guru yang lain bingung. Mereka kadang tidak tahu siapa Miss. Games itu.

Beberapa bulan sebelum aku lulus, aku pun diminta mengajar di salah SMA negeri di kota kelahiranku. Sebuah tawaran yang tentunya tidak akan aku tolak. Meskipun saat itu, aku sudah memiliki lembaga bahasa sendiri dengan murid yang lumayan banyak, tapi aku tetap menerimanya. Bukan karena materi, tapi aku ingin menambah lebih banyak pengalamanku.

Di SMA ini, aku benar-benar menambah banyak pengalaman. Meskipun di lembaga bahasaku juga ada murid SMA, tapi tentunya berbeda ketika aku mengajar di sebuah lembaga formal. Aku mendapat tantangan karena awalnya tidak semua suka dengan mata pelajaran yang aku ajarkan.

Saat itu, aku harus memutar berpikir kreatif agar mereka menyukai pelajaran yang ada dalam UN. Aku bersyukur, karena sedikit demi sedikit ada perubahan. Cara mengajarku yang katanya berbeda, bisa membuat mereka mulai suka dengan mata pelajaran ini. Tidak jarang sebelum jam pergantian pelajaran, mereka sudah menagih untuk segera belajar. Bahkan ada beberapa yang tertarik untuk menjadi guru Bahasa Inggris sepertiku.

Aku bersyukur karena aku diberikan kesempatan mengajar di berbagai usia. Karena aku memiliki lembaga bahasa, aku bisa merasakan mengajar dari mulai anak usia 2 tahun hingga 80 tahun. Dan tidak hanya itu, aku pun diberi kepercayaan untuk mengajarkan Bahasa Indonesia kepada beberapa mahasiswa dan dosen dari negeri orang. Aku benar-benar menikmati aktivitas ini. Aku selalu mengatakan kalau aktivitas ini bukan profesiku tapi lebih tepatnya ialah hobiku.

 

Intan's File

Intan’s File

Intan's file

Intan’s file

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan Acer One 10.

 

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar