9

Budaya Bersih itu Indah (+2)

M. Rasyid Nur January 16, 2014

KEBERSIHAN dan keindahan sekolah sangat ditentukan oleh warga sekolah itu sendiri. Guru, siswa dan pegawai lainnya akan menjadi penentunya. Menyerahkan kebersihan dan keindahan sekolah kepada petugas kebersihan sekolah (jika memang ada) saja tidaklah akan membuat sekolah benar-benar bersih dan indah.

‘Kebersihan pangkal keindahan’. Slogan itu mungkin ada di sekolah. Tapi slogan itu tidak akan pernah terwujud di sekolah jika kebersihan sekolah hanya diserahkan kepada petugas kebersihan saja. Kecuali petugas kebersihan yang khusus digaji untuk menjaga dan memastikan kebersihan sekolah, maka petugas atau pesuruh yang menyambil melaksanakan tugas-tugas kebersihan sekolah disamping tugas-tugas lain, tidak akan mampu membuat sekolah bersih. Lagi pula jika menyerahkan hanya kepada petugas kebersihan tanpa partisipasi warga sekolah lainnya tentu saja tanggung jawab kebersihan itu akan lebih rendah kadarnya.

Sejatinya kebersihan dan keindahan sekolah menjadi tanggung jawab semua warga sekolah. Kepala Sekolah menyusun Program Kebersihan dan Keindahan Sekolah (PK2S) dengan atau tanpa mendelegasikan ke Wakasek Sarana Prasarana atau staf lainnya, misalnya lalu program itu menjadi dasar oleh warga sekolah untuk melakukan tindakan berkaitan dengan usaha kebersihan dan keindahan sekolah. Para Wali Kelas menjadikan program yang sudah disusun sekolah sebagai acuan untuk melaksanakan kegiatan dan atau gerakan kebersihan dan keindahan di kelas masing-masing. Guru Mata Pelajaran (GMP) juga selalu menjadikan PK2S sebagai salah satu setting pembelajaran terutama berkaitan dengan karakter.

Target yang yang harus dicapai oleh PK2S sesungguhnya adalah lahirnya ‘budaya bersih’ di lingkungan sekolah. Budaya bersih berarti sikap yang dimiliki oleh setiap komponen sekolah untuk secara terus-menerus menjaga dan memelihara kebersihan sekolah. Setiap warga sekolah menjadikan sikap tetap ingin bersih ini menjadi sikap sehari-hari selama berada di sekolah bahkan sampai di rumah atau di tengah masyarakat. Terutama guru, selalu berusaha melaksanakan PK2SW dengan cara mencontohkan bagaimana kebersihan dan keindahan harfus dilaksanakan.

Ketika seorang guru melintas atau berjalan di teras atau di lorong-lorong sekolah, dia tidak membiarkan sampah berserakan begitu saja. Sekecil apapun sampah yang ditemukan di tempat-tempat itu tidak dibiarkan begitu saja. Jika tidak ada siswa yang bisa membantu membuang sampah itu, dia sendiri dengan sadar memungut dan membuangnya ke dalam tong sampah yang ada. Begitu juga ketika di dalam kelas atau di ruang-ruang pembelajaran lainnya, guru senantiasa bersikap dan bertindak untuk dan demi keberishan. Guru tidak membiarkan sampah berserakan walau sekecil apapun sampah itu.

Para siswa (peserta didik) pun, andai melihat kertas yang berserakan di tempat-tempat tertentu juga tidak membiarkan kertas-kertas itu tergeletak begitu saja. Secara otomatis dia akan tergerak untuk memungut dan membuangnya ke tong sampah yang sudah disediakan sekolah atau kelas. Tidak ada siswa yang dengan sengaja membiarkan saja sampah berserakan di sekitarnya atau di tempat-tempat yang mereka lalui atau di manapun mereka berada.

Jika semua orang –siswa, guru, pegawai– sudah memiliki sikap seperti itu, itulah bukti bahwa sekolah ini sudah memiliki budaya bersih. Budaya bersih inilah yang wajib ditumbuhkan oleh sekolah bagi warganya. Dengan memiliki budaya bersih setiap orang akan merasa bertanggung jawab terhadap pentingnya keberishan sekolah. Dari situlah akan datang keindahan yang menjadi harapan sekolah. Budaya bersih adalah kunci akan terwujudnya keindahan sekolah. Semoga***

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (9)

  1. Budaya bersih siapa takut..Tapi harus dimulai dari diri sendiri. Dan jagan cuek ketika lihat anak didik buang sampah sembarangan, langsung beri contoh supaya diikuti oleh yang lain. Saya biasa ambil bungkus permen dan minta tolong pada siswa supaya membersihkannya. Tentunya ngga usah pakai ngedumel.

  2. kebersihan adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan, kebersihan sebagian dari iman, namun memang sulit menanamkan budaya bersih kalau tidak terbiasa dari kecil sehingga kita yang masih punya anak kecil mari kita biasakan budaya hidup bersih

  3. Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua terubah tidak. Begitu peribaha orang tua-tua dulu, ya Bu Mia. Jadi, kalau anak-anak kita dibiasakan sedari kecil untuk berbudaya bersih maka pasti sudah besar akan terbiasa juga bersih. Terima kasih, Bu Mia. Salam kenal.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar