0

Bu Nenda, Kartini Kita, Sang Pahlawan Jamban (0)

Supadilah S.Si April 15, 2021

Bu Nenda mungkin bukan wonder women, tapi bisa menolong banyak orang. Kiprahnya dalam dunia perjambanan membuatnya dikenal sebagai pahlawan jamban. Ya, selain memberikan kebahagiaan lewat kaki palsu, Indah Prihanande juga melakukan proyek kebaikan lainnya dengan membuat ribuan orang bisa buang air besar (BAB) di jamban. Ya, benar. Jamban.
Meskipun bangsa kita telah 74 tahun merdeka, namun masih banyak yang hidup dalam keterbelakangan secara ekonomi dan kesehatan. Bahkan, untuk sekadar memiliki jamban. Zaman now, apa masih ada yang tak punya jamban? Ada. Banyak, malahan. 
Awalnya, Bu Nenda berkunjung ke Desa Parigi di daerah kabupaten Pandeglang, Banten. Untuk membayangkan letak Pandeglang, ingat saja tragedi tsunami Selat Sunda pada penghujung tahun 2018 lalu, yang menewaskan semua personil grup band Seventeen, kecuali sang vokalis. 
Nah, saat berkunjung itu, di perjalanan tercium bau yang tidak sedap. Bau tinja manusia. Sesampainya di sana, ketahuan bahwa masyarakat di sana masih banyak yang masih belum memiliki fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) yang mamadai. 


Padahal, jamban kan merupakan hal yang urgen. Mereka tak punya jamban. Warga di sana yang buang air besar sembarang (BABS). Di sana dikenal istilah dolbon (modol di kebon).


Padahal, BABS ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua sanitasi terburuk setelah India. Sekitar 150 ribu orang Indonesia meninggal akibat buang air besar sembarangan (BABS). 

BABS juga memicu banyak penyakit seperti kolera, muntaber, polio, dan hepatitis A. Belum lagi, sanitasi yang buruk bisa menyebabkan stunting atau kondisi anak yang memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Jika hal ini dibiarkan, maka kualitas generasi mendatang terancam. 


Inilah kemudian yang menggerakkan hati Bu Nenda untuk totalitas memberikan penyadaran kepada warga tentang bahaya BABS. Dia melepaskan pekerjaannya di Jakarta sebagai direktur di perusahaan keuangan. Dari kerja yang nyaman, ruangan kerja bersih rapi serta gaji besar pindah ke pekerjaan yang penuh risiko, tantangan, dan pengorbanan. Rela berpanas, berpeluh, dan kerepotan lainnya.

Pengorbanan yang tidak remeh. Setelah keluarga bisa diajak kompromi, rekan-rekan kerjanya tidak sedikit yang menyayangkan keputusannya. Namun, tekadnya sudah bulat. 


Meskipun niatnya baik, tidak lantas ajakan Bu Nenda diterima dengan baik pula. Sebabnya, warga sudah terlanjur menganggap hal itu –BABS- merupakan hal biasa, tidak ada yang salah. Mereka telah melakukannya secara turun temurun. 


Ibu Niah, misalnya. Di usianya yang sudah 45 tahun, dia baru merasakan buang air besar (BAB) di jamban. Selama ini, beliau dan hampir semua warga di desanya buang air besar di kebun, sawah, dan ladang. 

Dan kalau malam ingin BAB, mereka harus menggunakan obor atau penerangan lainnya. Harus waspada jika bertemu dengan ular atau binatang berbisa lainnya.
Dia tidak secara sporadis mengatakan bahaya BABS. Untuk bisa mengubah karakter warga, terlebih dahulu masuk ke dunia mereka. Bahkan, Bu Nenda harus mau tinggal bersama mereka, untuk menjalin kedekatan dengan warga.
Kadang, saat tinggal bersama mereka, terpaksa harus ikut kebiasaan mereka. Mau gimana lagi? 
Pendekatan Bu Nenda berprioritas pada ibu-ibu. Mereka diajak arisan jamban. Menyisihkan ribuan demi ribuan untuk arisan. Sampai satu persatu menang arisan yang lantas dibelikan jamban. 

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar