1

Bogem Mentah di Era New Normal (0)

Ditta Widya Utami October 18, 2020

Guru itu digugu dan ditiru. Begitu anggapan yang hingga kini masih dipercaya. Tak salah memang, karena guru memang harus bisa menjadi teladan bagi anak didiknya. Bila ingin peserta didik yang disiplin, maka yang harus disiplin terlebih dahulu adalah gurunya. Begitu pula, bila ingin peserta didik yang semangat belajar, maka sang guru pun harus memiliki cukup motivasi untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Bukan sekedar tuntutan profesi, namun atas kesadaran dan intropeksi diri. Ing ngarso sing tuladdha.

Di masa new normal, proses belajar dari rumah masih berlanjut. Tantangan tersendiri bagi seorang guru untuk dapat menghidupkan kelas maya. Terutama jika mengajar murid baru yang sama sekali belum pernah bertemu. Sebagai seorang guru, tentu saya pun ikut bersiap menyambut peserta didik baru.

Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran daring menjadi hal yang tak terelakkan. Baik siswa maupun guru harus bersiap dengan segala perubahan cara belajar.

Persiapan Awal

Sebelum masa new normal diberlakukan, saya sudah mempersiapkan diri untuk proses pembelajaran tahun 2020-2021. Salah satu persiapan yang saya lakukan adalah dengan mengikuti diklat daring, massif dan terbuka (Didamba) PPPPTK IPA. Saya memilih kelas Blended Learning dengan Edublogs karena berpikir bahwa mungkin pembelajaran di era new normal akan dilakukan secara blended (perpaduan antara belajar tatap muka dan online).

Tak hanya diklat, saya pun mengikuti tantangan menulis bersama Prof. Eko Indrajit menghasilkan sebuah buku dalam seminggu dengan judul Menyongsong Era Baru Pendidikan. Buku ini menjabarkan tentang standar kompetensi yang harus dimiliki guru dalam mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi ke dunia pendidikan. Membuat buku ini bersama pakar pendidikan tersebut, semakin menambah wawasan saya akan pentingnya teknologi bagi dunia pendidikan. Selain itu, saya pun menjadi sadar betapa seorang guru harus senantiasa mengembangkan kompetensi yang dimilikinya.

“Sesungguhnya guru yang berhenti belajar sama saja dengan telah berhenti menjadi guru.” Kata-kata Prof. Eko itulah yang telah menjadi salah satu motivasi saya untuk terus mengembangkan diri walau di masa pandemi. Mencari bekal sebaik mungkin hingga bisa diterapkan ke anak didik nantinya.

Saat kenyataan tak sesuai harapan

Seolah mendapat bogem mentah. Ilmu yang telah saya cari sebelum masa kebiasaan baru rasanya menjadi tak berguna ketika muncul informasi betapa ‘banyak’ (saya beri tanda kutip karena sebetulnya yang dilaporkan tidak sampai setengah dari jumlah anak didik saya) yang merasa pusing dengan link atau tugas yang diberikan. Hal itu pada akhirnya mengharuskan saya “menurunkan standar” penggunaan teknologi di kelas.

Sebetulnya saya senang mendapat informasi tersebut karena bisa jadi bahan evaluasi dan refleksi diri. Saat itu, saya menggunakan Google Form (dengan pilihan upload dokumen) untuk mengumpulkan tugas siswa. Jadi, setelah menyampaikan materi melalui video pembelajaran, saya meminta peserta didik melakukan praktik mengukur dengan satuan baku dan tidak baku secara mandiri. Peserta didik kemudian harus mengumpulkan foto ketika mengukur disertai keterangan nilai benda yang diukur (sesuai satuannya). Sebagai tambahan bukti bahwa peserta didik melakukan pengukuran, maka peserta didik pun harus berswa foto dengan benda yang diukur. Agar tidak bingung, saya sertakan contoh foto yang harus dikirimkan.

Tugas tersebut diberi jangka waktu 1 minggu untuk menyelesaikannya. Mengingat mungkin ada yang menggunakan hp orang tua dan orang tuanya harus bekerja dari pagi sampai sore sehingga si anak baru bisa mengerjakan di malam hari.

Saya memang sudah memperkirakan bahwa akan ada satu dua anak yang merasa kesulitan. Biar bagaimana pun, penggunaan unggah dokumen melalui google form (selanjutnya akan saya sebut kantung tugas) menurut saya masih termasuk penggunaan aplikasi teknologi yang paling dasar. Saya bahkan belum meminta siswa melakukan virtual meeting dengan google meet atau zoom dan webex, membuat poster dengan canva, menulis laporan dalam bentuk softfile word/pdf, melakukan praktik mandiri dengan simulasi PhET, membuat video praktikum yang dilengkapi penjelasan alat bahan dan prosedur, apalagi menggunakan fitur-fitur Microsoft 365. Oleh karena itu, saya memprediksi bahwa meski baru pertama kali, peserta didik akan bisa mengumpulkan tugas ke Google Form dengan bimbingan guru.

Ternyata inilah kesulitan yang dialami peserta didik di kelas yang saya ampu.

Saya siapkan kantung tugas dengan Google Form berdasarkan pertimbangan jumlah siswa yang saya ajar. Saat ini saya mengajar di 7 kelas. Setiap kelas berisi 32 siswa. Maka total ada sekitar 224 siswa yang menjadi tanggung jawab saya. Memang, pada pelaksanaan PJJ ini (berdasarkan pengalaman sebelumnya) tidak semua siswa mengumpulkan tugas. Masih ada peserta didik yang belum memiliki gawai atau terkendala sinyal dan keterbatasan kuota sehingga tidak bisa mengumpulkan tugas secara online. Namun, bisakah Anda bayangkan jika kita hanya menampung setiap tugas melalui WA dan ternyata ada lebih dari 100 peserta didik yang mengumpulkan?

Belajar saat new normal memang tak melulu berisi tugas. Ada kalanya saya hanya menyampaikan materi, bahkan sekedar memberi motivasi saat semangat siswa dalam belajar tampak menurun. Namun, dengan adanya kantung tugas, maka tugas yang telah dikumpulkan siswa akan terarsipkan dengan rapi. Berbeda halnya jika hanya mengandalkan chat. Chat yang tertumpuk memungkinkan seorang guru melewatkan menilai tugas. Inilah yang saya hindari.

Bukan tidak bisa, kalian hanya belum terbiasa

Hari demi hari berlalu, saya sempat lakukan home visit. Ternyata bukan tidak bisa. Mereka hanya belum terbiasa. Dari berbagai pertanyaan peserta didik, umumnya mereka mengalami kesulitan teknis. Misalnya lupa password akun Google sehingga form tidak terbuka (pada beberapa kasus ada anak yang diminta login sebelum form terbuka). Ada juga yang bisa masuk tapi pusing ketika harus memilih file yang harus diunggah karena muncul tampilan seperti file manager.

Peserta didik memang beragam. Mereka yang memiliki motivasi tinggi untuk belajar, terus bertanya bagaimana caranya bisa mengumpulkan tugas. Bahkan ada peserta didik yang mengirimkan video hasil screen recorder (rekaman layar) yang menunjukkan permasalahannya. Wah, ini sih sudah canggih!

Akhirnya saya memberi beberapa opsi pengumpulan tugas. Peserta didik boleh memilih mana yang menurutnya paling mudah. Biar bagaimana pun, proses bagaimana anak belajar jauh lebih penting. Belajar dari rumah harus tetap menyenangkan, bukan memberatkan.

Berdasarkan hasil survei inilah pada akhirnya saya lebih mengoptimalkan penggunaan WA di masa New Normal

Harapan yang tak akan pernah padam

Dari tugas pertama, sebetulnya salah satu tujuan saya adalah mengenalkan teknologi kepada peserta didik. Saat masa pandemi, banyak sekali data yang dikumpulkan dengan memanfaatkan aplikasi seperti Google form. Tengok saja beberapa webinar. Bukankah satu dua diantaranya menggunakan Google form untuk kepentingan administrasi? Mengecek kehadiran peserta (presensi online) misalnya.

Ke depan, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tentu akan menjadi hal yang biasa. Saya masih ingat sebuah diskusi dengan teman yang mengatakan bahwa saat ini, kita (guru) sedang menghadapi generasi z (lahir antara 1995-2010) dan generasi alpha (lahir setelah 2010). Keduanya merupakan generasi yang dekat dengan teknologi.

Maka, pertanyaannya adalah … jika tidak dikenalkan (pemanfaatan teknologi dalam pendidikan) dari sekarang, harus menunggu sampai kapan? Jika tidak dimulai dari kita, harus mulai dari siapa? Tak perlu takut dengan perubahan. You are what you think. Jika kita selalu menganggap hal yang baru itu sulit, niscaya selamanya akan terasa sulit.

Butuh proses, tentu. Maka biarlah anak mulai mengenali walau hanya sebatas tahu. Bisa jadi, dari situ muncul keingintahuan yang lebih besar sehingga anak akan belajar lebih baik. Siapa tahu dari situ, anak akan terbiasa menggunakan teknologi dalam pembelajaran dan siap menghadapi tantangan masa depan. Bukankah salah satu kecakapan abad 21 adalah menguasai teknologi?

Teknologi memang hanya sebuah alat atau jembatan dalam memperoleh dan mengkreasikan pengetahuan di masa new normal ini. Saat semua kembali normal, bisa jadi pembelajaran akan kembali berjalan secara konvensional. Syukur jika ternyata pemanfaatan teknologi terus dilanjutkan. Biar bagaimana pun, saya tetap yakin bahwa suatu saat akan tiba masanya peserta didik di lingkungan tempat saya mengajar siap dengan segala kecanggihan teknologi yang ada.

Tetap optimis dan semangat karena perubahan adalah keniscayaan. Inilah saatnya kita (guru maupun siswa) meningkatkan kapasitas diri di era revolusi industri yang serba cepat. Ingat, pilihannya hanya 2 : berubah atau tergerus zaman.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Malam 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar