1

BEST PRACTICE: MEMECAHKAN MASALAH KONTEKSTUAL OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT DAN PECAHAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DI SD-SMP N SATAP PULAU LONGOS (0)

Akbar Husen October 16, 2021

MEMECAHKAN MASALAH KONTEKSTUAL OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT DAN PECAHAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

DI SD-SMP N SATAP PULAU LONGOS

Disajikan pada

Tugas Akhir Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Program  Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan

LPTK Universitas Khairun Ternate

Tahun 2021

OLEH :

NAMA                            : AKBAR HUSEN, S.Pd

NOMOR PESERTA       : 201698568562

NPM                              : 10180210029

PROGRAM STUDI        : PENDIDIKAN MATEMATIKA

INSTANSI                      : SD-SMPN SATAP PULAU LONGOS

PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) DALAM JABATAN

JURUSAN MATEMATIKA ANGKATAN 3

LPTK UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE

TAHUN 2021

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan best practice ini. Karya tulis ini merupakan karya inovasi tentang “Memecahkan Masalah Kontekstual Operasi Hitung Bilangan Bulat dan Pecahan dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning di SD-SMPN Satap Pulau Longos”.

Melalui penyusunan best practice ini, penulis mencoba menjelaskan pengalaman pembelajaran matematika yang pernah dilakukan di sekolah. Dalam best practice ini disajikan bagaimana langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran matematika yang menyenangkan, menghidupkan suasana kelas serta pembelajaran berbasi STEM dan TPACK abad 21..

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung dalam penulisan best practice ini. Penulis juga menyadari bahwa didalam penyusunan best practice is ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaan karya tulis ini.

Pulau Longos,        Oktober 2021 Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………….i
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………………………………ii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………….iii
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………………………….iv
BAB I     PENDAHULUAN …………………………………………………………………………..1
A.    Latar Belakang Masalah …………………………………………………………..1
B.    Jenis Kegiatan ………………………………………………………………………..2
C.   Manfaat Kegiatan ……………………………………………………………………2
BAB II     PELAKSANAAN KEGIATAN …………………………………………………………..3
A.    Tujuan dan Sasaran ………………………………………………………………..3
B.    Bahan/Materi Kegiatan …………………………………………………………….3
C.   Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan ………………………………………..3
D.   Alat/Instrumen ………………………………………………………………………..6
E.    Waktu dan Tenpat Kegiatan ………………………………………………………6
BAB III HASIL KEGIATAN …………………………………………………………………………7
A.    Hasil ……………………………………………………………………………………..7
B.   Masalah yang Dihadapi ……………………………………………………………8
C. Cara Mengatasi ………………………………………………………………………9
BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI …………………………………………………..10
A.    Simpulan ……………………………………………………………………………….10
B.    Rekomendasi …………………………………………………………………………10
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………12
LAMPIRAN ………………………………………………………………………………………………13
1.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 
2.    Bahan Ajar 
3.    Media 
4.    Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) 
5.    Instrumen Evaluasi 
6.    Foto/Dokumentasi Kegiatan 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran matematika merupakan proses yang dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan peserta didik melaksanakan kegiatan belajar matematika, sehingga pemahaman konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dapat dipelajari dengan baik oleh peserta didik.

Dalam praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, penulis menggunakan buku peserta didik dan buku guru. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik digunakan di kelas karena diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata, dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan seperti materi dan tugas tidak sesuai dengan latar belakang peserta didik. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir peserta didik masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS). Penulis juga jarang menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kaku dan anak-anak tampak tidak ceria.

Berdasarkan hasil pengamatan pada proses pembelajaran sebelumnya diperoleh informasi bahwa (a) peserta didik malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah (b) selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru adalah penugasan atau Pekerjaan Rumah (PR). Sebagian peserta didik mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis. Tinggal menyalin dari buku teks atau mencontoh temannya.

Untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, peserta didik harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/PBL. PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks

peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya. Dalam PBL peserta didik dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, PBL membelajarkan peserta didik untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Setelah melaksanakan pembelajaran matematika dengan model PBL, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar peserta didik meningkat. Lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Ketika model PBL ini diterapkan pada kelas VIII dan IX ternyata proses dan hasil belalajar peserta didik sama baiknya. Praktik pembelajaran PBL yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model PBL.

  • Jenis Kegiatan

Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan best practice ini adalah kegiatan pembelajaran matematika Kelas VII pada Kompetensi Dasar Menjelaskan dan melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan dengan memanfaatkan berbagai sifat operasi

  • Manfaat Kegiatan

Manfaat penulisan best practice ini adalah meningkatkan kompetensi peserta didik dalam pembelajaran matematika Kelas VII pada Kompetensi Dasar Menjelaskan dan melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan dengan memanfaatkan berbagai sifat operasi yang berorientasi HOTS.

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN

  1. Tujuan dan Sasaran

Tujuan penulisan best practice ini adalah untuk mendeskripsikan best practice penulis dalam menerapkan pembelajaran berorientasi higher order thiking skills (HOTS).

Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah peserta didik kelas VII Semester 1 Tahun Pelajaran 2020/2021 di SD-SMPN Satap Pulau Longos sebanyak 35 anak.

  • Bahan/Materi Kegiatan

Bahan yang digunakan dalam best practice pembelajaran ini adalah materi kelas VII Semester 1 Tahun Pelajaran 2020/2021 pada Materi  Pokok Bilangan Bulat dan pecahan, dengan rincian KD sebagai berikut :

            3.2  Menjelaskan dan melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan        dengan memanfaatkan berbagai sifat operasi

            4.2  Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan                    bulat dan pecahan

  • Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan

Cara yang digunakan dalam pelaksanaan best practice ini adalah menerapkan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran problem based learning (PBL).

   Berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan best practice yang telah dilakukan penulis.

  1. Pemetaan KD

Kompetensi Dasar pada kegiatan ini adalah sebagai berikut :

              3.2  Menjelaskan dan melakukan operasi hitung bilangan bulat dan                                       pecahan  dengan memanfaatkan berbagai sifat operasi

              4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung                                       bilangan  bulat dan  pecahan.

  • Perumusan Indikator Pencapaian Kompetesi

IPK Kunci:

3.2.1 Menjelaskan urutan pada bilangan bulat (positif dan negatif) dan                      pecahan (biasa, campuran, desimal, persen)

3.2.2 Membandingkan urutan pada bilangan bulat (positif dan negatif) dan               pecahan (biasa, campuran, desimal, persen)

3.2.3 Menjelaskan berbagai sifat operasi hitung yang melibatkan bilangan                bulat dan pecahan.

3.2.4 Menghitung operasi hitung bilangan bulat dengan memanfaatkan          berbagai sifat operasi bilangan bulat dan pecahan.

4.2.1 Menyelesaikan permasalahan nyata yang terkait mengurutkan dan       membandingkan bulat (positif dan negatif) dan pecahan (biasa,                            campuran, desimal, persen)

  4.2.2 Memecahkan masalah kontekstual yang berkaitan dengan operasi                   hitung bilangan bulat dan pecahan.

  • Model pembelajaran yang dipilih adalah problem based learning (PBL) .
  • Merencanakan     kegiatan         Pembelajaran            sesuai dengan           Model Pembelajaran. Pengembangan desain pembelajaran dilakukan dengan merinci kegiatan pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan sintak PBL. rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan model PBL dapat dilihat pada lampiran.

1. Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Berdasarkan hasil kerja 1 hingga 4 di atas kemudian disusun perangkat pembelajaran meliputi RPP, bahan ajar, media,LKPD, dan instrumen penilaian. RPP disusun dengan mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan pendidikan karakter (PPK), dan kecakapan abad 21.

  • Alat/Instrumen

Alat yang digunakan dalam menyukseskan kegiatan pembelajaran adalah proyektor sebagai media penyampaian materi berupa video pembelajaran sebagai contoh pengaplikasian materi bilangan bulat dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan materi pokok adalah sebagai berikut

Bilangan bulat terdiri atas bilangan bulat positif atau bilangan asli, bilangan nol dan bilangan bulat negatif.

Bilangan bulat digambarkan pada garis bilangan sbb:

Description: E:\PPG 2021\DOKUMEN RANCANGAN PEMBELAJARAN\PERANGKAT JADI\GARIS BILANGAN.png

            Jenis-jenis Bilangan Bulat

Bilangan bulat terdiri dari

  • Bilangan bulat positif : { 1, 2, 3, 4,……. }
  • Bilangan bulat negatif : {….. , -4, -3, -2, -1}
  • Bilangan nol : {0}
  • Di dalam bilangan bulat termuat bilangan-bilangan : 1. Bilangan Cacah  (0,1,2,3,4,…)

bilangan yang dimulai dari nol

  • Bilangan Asli  (1,2,3,4,…)

Bilangan yang dimulai dari 1

  • Bilangan Genap  (2,4,6,8,…)

Bilangan yang habis dibagi 2

  • Bilangan Ganjil  (1,3,5,7,…)

Bilangan yang tidak habis dibagi 2 (bersisa)

  • Bilangan Prima  (2,3,5,7,11,…)

Bilangan asli yang hanya habis dibagi oleh bilangan satu dan bilangannya sendiri

  • Waktu dan Tenpat Kegiatan

Best Practice ini dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2021 sampai 22 September 2021 bertempat di kelas VII SD-SMPN Satap Pulau Longos.

BAB III HASIL KEGIATAN

  1. Hasil

Hasil yang dapat diilaporkan dari best practice ini diuraikan sebagai berikut.

  1. Proses pembelajaran matematika yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran PBL berlangsung aktif. Peserta didik menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai sintak PBL megharuskan peserta didik aktif selama proses pembelajaran.
    1. Pembelajaran matematika yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran PBL meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan transfer knowledge.

Setelah membaca dan mendiskusikan cara menentukan luas tabung melalui LKPD, peserta didik akan terlibat langsung proses menentukan luas tabung dan peserta didik aktif bertanya, diskusi dan juga menulis. Dan semua itu dilakukan dengan senang dan gembira, semua peserta didik dalam kelompok aktif dan kreatif.

Setelah selesai, peserta didik juga terlati untuk presentasi dari hasil diskusi kelompoknya serta kelompok yang lain menanggapi dengan aktif.

  • Penerapan model pembelajaran PBL meningkatkan kemampuan peserta untuk berpikir kritis.

Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi peserta didik untuk bertanya dan menanggapi masalah yang dibahas dalam pembelajaran khususnya saat presentasi.

Dalam pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi HOTS suasana kelas cenderung sepi dan serius. Peserta didik cenderung bekerja sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus guru adalah bagaimana peserta didik dapat menyelesikan soal yang disajikan; kurang peduli pada proses berpikir peserta didik. Tak hanya itu, materi pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali dengan ceramah teori tentang materi yang dipelajari, pemberian tugas, dan pembahasan), membuat peserta didik cenderung menghapalkan teori. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik adalah apa yang diajarkan oleh guru.

Berbeda kondisinya dengan praktik baik pembelajaran matematika berorientasi HOTS dengan menerapkan PBL ini. Dalam pembelajaran ini pemahaman peserta didik tentang menentukan luas tabung melalui sarana LKPD dan diskusi yang meuntut kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis.

  • Penerapan model pembelajaran PBL juga meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah (problem solving). PBL yang diterapkan dengan menyajikan permasalahan atau contoh kontekstual mampu mendorong peserta didik merumuskan pemecahan masalah. Sebelum   menerapkan                        PBL, penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku guru dan buku peserta didik. Meskipun permasalahan yang disajikan dalam buku teks kadang kala kurang sesuai dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, tetap saja penulis gunakan. Jenis contoh yang digunakan juga hanya contoh dari buku teks.

Dengan menerapkan PBL, peserta didik tak hanya belajar dari teks tulis, tetapi juga dari video serta diberi kesempatan terbuka untuk mencari data, materi dari sumber lainnya.

  • Masalah yang Dihadapi

Masalah yang dihadapi terutama adalah peserta didik belum terbiasa belajar dengan model PBL. Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru selalu mengguakan metode ceramah, peserta didik pun merasa lebih percaya diri menghadapi ulangan (penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui ceramah.

Kurang tepat nya penerapan alokasi waktu pada setiap sintak pembelajaran pada PBL sehingga proses pembelajaran selesai lebih cepat

Sebagian peserta didik  masih terlihat malu-malu dan ragu-ragu dalam menyampaikan gagasan, menanggapi dan bertanya kepada teman maupun guru sehingga terlihat kurang aktif dalam proses pembelajaran.

Masalah lainnya adalah guru tidak mempunyai kompetensi yang memadai untuk membuat video pembelajaran. Padahal selain sebagai media

pembelajaran,. Video juga merupakan bentuk teks audiovisual yang juga harus disajikan sesuai dengan rumusan KD.

  • Cara Mengatasi Masalah

Agar peserta didik yakin bahwa pembelajaran matematika dengan PBL dapat membantu mereka lebih menguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS akan membuat peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, kesadaran bahwa belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat peserta didik mau belajar dengan HOTS.

Menghimbau kepada peserta didik agar selalu berperan aktif dalam proses pembelajaran karena itu merupakan salah satu penilaian dalam proses pembelajaran

Lebih memaksimalkan waktu pada setiap sintak kegiatan pembelajaran yang tertera RPP yang telah dibuat agar proses pembelajaran sesuai dengan yang telah di rencanakan

Kekurangmampuan guru membuat video pembelajaran dapat diatasi dengan mengunduh video sesuai dengan KD yang akan dibelajarkan baik dari youtube maupun dari Rumah Belajar. Dengan demikian, selain menerapkan kegiatan literasi baca tulis, peserta didik juga dapat meningkatkan literasi digitalnya.

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.     Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Problem Based Learning layak dijadikan best practice baik pembelajaran berorientasi HOTS karena dapat meingkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.
    1. Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat, pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Problem Based Learning yang dilaksanakan tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan abad 21.

A.     Rekomendasi

Berdasarkan hasil praktik baik pembelajaran matematika dengan model pembelajaran problem based learning (PBL), berikut disampaikan rekomendasi yang relevan.

  1. Guru seharusnya tidak hanya mengajar dengan mengacu pada buku peserta didik dan buku guru yang telah disediakan, tetapi berani melakukan inovasi pembelajaran yang kontekstual sesuai dengan latar belakang peserta didik dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan.
    1. Peserta didik diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu peserta didik menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak mudah lupa).
  • Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana da prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis utuk mendesiminasikan best practice ini akan menambah wawasan guru lain tentang pembelajaran HOTS.

DAFTAR PUSTAKA

Husen, Akbar.2021.Laporan Praktik Lapangan.Pulau longos.

Basuni,Moch.2019.Laporan Peningkatan kompetensi Pembelajaran.Tuban

LAMPIRAN

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Materi Ajar

Media Pembelajaran

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Instrumen Evaluasi

Foto/dokumentasi Proses Pembelajaran

Lampiran: https://drive.google.com/drive/folders/1TOAlJOjAQ-EQGCi6_ErKaEp3aldzHTw-?usp=sharing

1 2

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar