2

Bersama Kita Bisa (+4)

Novi Komariyatiningsih May 17, 2015

Pertama kuinjakkan kakiku di tempat tugas pertama, SMA Negeri 1 Penukal Utara, ku di sambut dengan wajah ceria siswa-siswa di sana. Tempat itu merupakan tempat pertamaku menjalankan profesiku sebagai guru.  Kepala sekolahnya merupakan kakak tingkatku waktu di kampus, dan beliau merupakan partner kerja yang baik.

Saat itu, sekolah itu berumur 2 tahun. Jarak tempat ku tinggal ke sekolah lumayan jauh, kalau jalan kaki bisa menyita waktu sekitar 15 – 20 menit.  Selama bertugas di sana untuk ke sekolah, ada siswa yang antar jemput, terkadang nebeng juga dengan rekan kerja.  Walaupun tamatan FKIP Matematika,  di sana ku pernah mengajar fisika dan geografi.  Selain itu ku pernah diberi amanah sebagai pembina rohis, dan pembina OSIS.

Menjalani hari-hari pertama mengajar di sana, mulai rasa stres, karena sikap siswa yang kurang sopan, siswa yang mayoritas tidak buat PR, baju yang kurang rapi.  Padahal dulu ku juga pernah merasakan sebagai siswa SMA, tapi ku dan teman-teman tidak begitu.  Ku coba mengikuti dunia mereka, ku perhatikan aktivitas-aktivitas mereka di luar sekolah, ku ikuti kegiatan mereka di luar sekolah, terutama saat hari libur.

Dari hasil pengamatanku, mereka memang jarang mengulang pelajaran di rumah, mereka kadang bekerja membantu orang tua.  Pernah saat libur ku diajak ‘nugal’ (menanam padi) di sawah, dengan senang hati aku ikut, ku pikir itu akan jadi pengalaman baru untukku.  Sepanjang perjalanan dari dusun ke tempat mereka nugal, kalamullah terucap di hati dan bibir ini. Ku takut saat di tengah perjalanan, karena medan untuk menuju ke sana cukup menantang, sampai-sampai kami haru melewati “jembatan shiratal mustaqim”, hee..he…ban motor kempis. Rasanya mau kembali saja, urungkan niat untuk nugal.  Tapi hal itu tidak mungkin mengingat sudah separuh jalan.  Akhirnya ku hanya pasrah saja, sampai akhirnya kami sampai di lokasi.  Sesampainya kami langsung siapkan semua yang dibutuhkan, ku pakai topi kerucut yang terbuat dari bambu, dan siap dengan padi yang akan di tanam.  Seru, ada rasa kebersamaan di sana, saling gotong royong menanam padi.  Setelah itu kami makan siang bersama, dan bersiap-siap kembali ke dusun.

Ada kedekatan yang kurasa dengan mereka, secara perlahan ku mulai mengerti siapa siswaku.  Dalam hati ku bersyukur, hidupku bersama orang tua tidak sesulit mereka.  Meskipun demikian, ku memotivasi mereka untuk tetap semangat belajar.  Keingntahuanku tentang habitual masyarakat di sana kutingkatkan dengan menjadi guru honor di SMP dan SD yang terbaik di sana.  Suasana yang kuperoleh tidak jauh beda dengan di SMA, jadi wajar saja kau siswa-siswa ku di SMA begitu.

Siswa yang bisa dikatakan dekat denganku, kuajak untuk les di rumah, termasuk siswa yang sering antar jemput ku ke sekolah. Senang dengan hasil yang mereka peroleh saat di sekolah, dan terkadang mereka kujadikan ketua kelompok dalam pembelajaran di kelas. Mereka membantu temannya yang kesulitan dalam belajar.

Saat dalam pembelajaran, ku coba mengajak siswa dikelas muhasabah, alhamdulillah terlihat perubahan dalam sikap mereka. Rupanya hati mereka perlu untuk disentuh.  Pas saja waktu itu ku sebagai pembina rohis, ku buat acara kerohanian di sana.  Ku buat acara nonton bareng film “The Message”.  Persiapan untuk kegiatan itu lumayan memeras tenaga, pikiran, juga materi, karena keterbatasan yang ada.  Namun bagiku yang penting Acc pimpinan, ku harus lanjut.  Panitia kususun, dan bersama siswa ku membagi kerja, kami mengajukan proposal ke “Golden Spike”, dan alhamdulillah dapat bantuan dana.  H-1 kegiatan ku bersama beberapa siswa mengambil dana bantuan, sebagian siswa kuamanahkan untuk menyiapkan masjid yang akan digunakan.  Jujur ku khawatir meninggalkan mereka, karena biasanya siswa akan menghilang kalau gurunya tidak ada. Dari awal kegiatan ini direncanakan, ku tanamkan kepada panitia untuk saling jaga amanah, bekerja sama, jadi tim yang solid, alhamdulillah mereka bisa wujudkan itu.  Singkat cerita kagiatan kami berjalan lancar, masing-masing panitia kebagian Rp5000,00 atas hasil kerjanya (sisa uang kegiatan). Uang itu pada dasarnya hanya untuk ganti uang bensin saja, karena mereka tidak pernah meminta untuk itu selama motor mereka digunakan.  Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan “bersama kita bisa”.

Dalam hal akademik, ku coba adakan kegiatan Lomba Matematika di sekolah. Itupun persiapannya lumayan ekstra, banyak kerikil-kerikil yang harus kami lewati. Sama seperti sebelumnya, selama masih ada dukungan dari pimpinan, ku berani lanjutkan, ku berusaha agar kegiatan itu berjalan dengan baik, lagi-lagi tim yg solid yang kuandalkan.  Beberapa siswa ku beri tugas untuk membersihkan lingkungan sekolah agar terlihat rapi dan nyaman, mengingat mengundang sekolah lain. Alhamdulillah ada juga rekan2 guru yang bisa membantuku sebagai juri, dan juga proposal dana kami cair sehingga kegiatan bisa berlangsung dengan baik.  Kegiatan kali ini juga tidak lepas dari bantuan ibu ku di rumah, saat ku pulang ku ceritakan dengan ibu tentang kegiatan yang akan ku buat lagi, dan halangan-halangan yang ada.  Ibu ku mengajarkan aku apa-apa yang harus aku lakukan, termasuk konsmsi yang mudah untuk membuatnya.  Sesampai di dusun ku kerahkan siswa-siswaku menyiapkan konsumsi untuk acara, mereka sampai nginep di rumah.

Sembari mereka memasak, laptopku menemaniku dalam pembuatan soal.  Di tengah malam mereka sudah mengantuk, kubiarkan mereka istirahat. Sementara jari-jariku tetap di atas keyboard sambil menunggu kue matang. Menjelang subuh selesai sudah soal yang kubuat, kue-kue pun telah siap.

 

Setelah subuh, siswa memasukkan kue-kue itu ke dalam kotak snack.  Jam 06.00 mereka pulang bersiap-siap ke skolah, panitia yang lain sudah datang untuk membawa kotak-kotak konsumsi ke sekolah. Ku bersyukur, karena semua panitia bekerja profesional, jadinya urat leherku tidak perlu untuk keluar heee. Acara berlangsung khidmat saat pembukaan, yang dibuka oleh kepala sekolah.  Pelaksanaan lomba pun berlangsung tertib.  Hari itu kami tinggal menunggu tropi pesanan kami yang dibawakan sopir travel, syukurnya tiba tepat waktu. Meskipun saat pengumuman pemenang, siswa yang dari sekolahku tidak mengantongi juara 1.  Namun di balik semua itu, ku puas dengan hasil kerja kami, ku bangga dengan siswa-siswaku, meskipun mereka siswa desa, tapi mereka mau untuk diarahkan ke arah yang baik.

Selain kegiatan itu, kegiatan perpisahan dengan kelas XII pun siswa banyak membantuku.  Ku hanya buat acara doa bersama, dan ada selingan acara yang diisi oleh siswa sendiri, tidak pakai orgen tunggal.  Awalnya ada siswa yang nyeletuk “Bu, kami bosan dari SD-SMP yasinan saja”.  Lucu juga waktu dengar siswa komentar begitu, ku hanya berikan mereka pengertian saja, sampai akhirnya kegiatan perpisahan berlangsung dengan khidmat, dan berkesan.

Seiring berjalannya waktu, daerah itu telah menjadi kabupaten sendiri, yang mengakibatkan ku harus mutasi dari sana.  Acara terakhir yang kupersiapakan bersama siswa adalah acara perpisahan kami.  Terakhir kalinya ku bilang kalau setiap ku adakan kegiatan, rintangan selalu ada, dan alhamdulillah bisa kami hadapi bersma, dan kali ini pun tidak lepas dari bantuan ibuku tersayang.

H-1 kukerahkan semua panitia, dari siang saat ku tiba di dusun sampai menjelang maghrib, kami persiapkan semua.  Ku sms teman-temanku untuk datang tepat waktu, sebagai wujud kalau mereka hargai apa yang sudah kulakukan.  Keesokan harinya ku lihat mereka sudah datang lebih dahulu dariku, senang rasanya, dan tak kuasa membendung air mata saat siswa-siswa tampil, dan kami saling bersalaman, ada rasa sedih meninggalkan mereka, tapi senang juga akhirnya bisa mutasi.

Ku bangga pernah jadi bagian dari mereka.  Nak..terima kasih atas kerja samanya selama ini, kalian ajarakan ibu untuk tetap kuat dan bertahan hadapi rintangan yang ada, dengan kebersamaan kita selama ini, kita mampu hadapi itu semua, yang pasti ibu sayang kalian. Perpisahan ini bukan akhir segalanya, tapi adalah langkah-langkah awal kita melalui jalan sukses kehidupan yang telah kita rencanakan.  Terima kasih telah membuat ibu bangga menjadi seorang guru.

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

 

 

 

 

 

 

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar