15

Bermain atau belajar? (+15)

Rudy Hilkya May 14, 2013

Biasanya menjelang ulangan akhir semester atau ulangan umum, para siswa mengalami kejenuhan yang luar biasa. Belum ditambah tugas-tugas, PR-PR, dan ulangan-ulangan rutin yang benar-benar menyita waktu dan perhatian mereka. Ada lagi menjelang akhir semester ini, siswa-siswa saya harus menampilkan senam ritmik bersama dengan irama pop dangdut dan gerakan senam inovatif yang mampu mereka buat dengan meniru gaya boyben atau gelben untuk menggerak 108 otot badan dalam pelajaran penjasorkesrek (pendidikan jasmani olah raga kesehatan dan rekreasi), juga ada tugas tari-menari tarian daerah yang menjad portfolio pelajaran muatan lokal (seni tari).

Apalagi yang namanya jurusan ilmu alam (sebagai jurusan premium, karena banyak dituju dan banyak juga penugasannya), mengalihkan pandangan saya, apakah harus dihajar habis-habisan dengan ulangan, ataukah ulangannya merupakan tes kinerja, sekaligus penilaian juga observasi terhadap inovasi siswa mengembangkan pengetahuan-pengetahuan fisikanya melalui permainan sederhana. Di antara kebingungan, muncul ide yaitu kegiatan bermain sekaligus mereka belajar sendiri, saya tinggal memetik hasil berupa kerja dari para siswa, keterampilan (handy-craft) yang mereka rancang dan bangun serta nanti dipajang di dalam laboratorium fisika, pun kemampuannya memainkan peralatan yang mereka rancang dan bangun tersebut sebagai bekal kecerdasan non-akademisnya di masa mendatang. Masa mendatang itu saya rasa juga tidak lama, sekitar setahun lagi, sebab mereka akan menjadi mahasiswa dan selama menjalani pendadaran menuju strata tersebut akan ada masa orientasi kemahasiswaan yang juga secara tidak disadari menuntut hal yang sama sepertiΒ  yang tengah mereka (siswa ini) alami sekarang.

Suatu kelas XI jurusan Ilmu Natural saya tawarkan menampilkan penerapan ringan dan ringkas (karena mereka tinggal memperhatikan walau secara curi-curi pandang dalam lab internet/komputer ke blog saya atau twit yang saya kicaukan setiap hari baik siang maupun malam) berupa memainkan roket air, roket bertenaga angin (blowind rocket) – “sebenarnya kanon udara ini mirip dengan kanon kentang, tetapi berhubung harga sekilo kentang di tempat saya setara dengan makan siang yang mengenyangkan maka kanon kentang dicoret dengan sukses dalam daftar permainan sambil belajar fisika”, bumerang, sumpit, pesawat terbang kertas, lempar tangkap freesbee (piring terbang lempar),Β  atau layang-layang.

Ternyata siswa-siswa di kelas ini, yang saya minta berkelompok untuk mengerjakan mainan tersebut lebih condong bermain roket-roketan dan sumpitan serta ada juga yang mencoba membuktikan kegembungan balon menggunakan campuran soda kue dan asam, serta melepaskan roket gabus menggunakan bahan sejenis tapi keduanya gagal total. Ada pula yang dengan sukses melepaskan roket kanon udara yah tidak terlalu jauh cuma sekitar 20 meteran, juga ada roket air tapi tidak memiliki sayap sehingga keseimbangan terbang roket sangat tidak memadai keadaan aerodinamisnya pun sangat tidak mumpuni.

Setelah diputuskan di kelas melihat kegagalan-kegagalan selain keberhasilan-keberhasilan permainan mereka, saya baru menilai kekompakan kelompok dan keberhasilan mainan yang mereka buat sebagai poin kerja sama, saya menetapkan untuk membuat sumpit saja dan selanjutnya roket bertenaga air sebagai permainan akhir semester ini.

Berikut adalah dokumentasi perjalanan menjelang akhir semester genap tahun 2013/2014 di SMAN-2 Palangka Raya.

1 2 3 45Β 6789101112

Cikal bakal permainan sumpit di dalam Lab Fisika

Cikal bakal permainan sumpit di dalam Lab Fisika

Hasilnya nancap

Hasilnya nancap

Mencoba berbagai pose

Mencoba berbagai pose

17

Sebelum permainan berakhir adalah bersama membersihkan lapangan, mencari benda atau barang yang tercecer – kekompakan tim

16

Ada yang menduga lomba lari - tapi sebenarnya

Ada yang menduga lomba lari – tapi sebenarnya

bersama-sama mencari peluru sumpit yang tertembak tidak sengaja

bersama-sama mencari peluru sumpit yang tertembak tidak sengaja

kebersamaan

kebersamaan

Team Work

Team Work

Akhir dari pelajaran ini adalah kebersamaan dalam kelas merupakan modal dasar untuk maju dan berhasil dalam belajar dan bekerja.

 

Tagged with: , , ,

About Author

Rudy Hilkya

Guru Fisika di SMAN-2 Palangka Raya, aktif berkicau di http://twitter.com/fisikarudy, juga menulis di blog pribadi http://fisikarudy.wordpress.com, mendirikan klub Fisikarudy di facebook selain bisa ditemui bertwitter di @fisikarudy - line, whatsapp juga SMS ke 0811-5204-209 sekarang aktif menjadi reviewer di http://rudyhilkya.com/ juga pada blog abal-abal http://rudykit.blogspot.com, rudyhilkya.wordpress.com

View all posts by Rudy Hilkya →

Comments (15)

  1. Salam untuk Pak Rudy dan semua siswanya. Melihat pembelajaran yang terjadi di sana, saya khawatir…..jangan-jangan anak-anak malah tidak ingin segera keluar dari SMADA. Hehehee…….keasyikan, sih!

    • Anak-anak ini pada masanya juga akan kembali ke orang tua pak, nah posisi kita sebagai guru adalah orang tua mereka di sekolah dan membuat mereka asyik untuk bermain sambil belajar, sebab dengan demikian kehidupan mereka akan menjadi lebih bermakna dan memberi arti di seluruh lini kehidupannya di masa mendatang
      Salam Asyik

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar