7

Berkolaborasi dengan Guru-guru di Thailand (+3)

Amiroh March 29, 2013

Awal bulan Maret yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Negara Gajah Putih, Thailand, bersama dengan sekitar 30 orang guru, dari 17 SMK dan perguruan tinggi se-Indonesia.

Kami berangkat membawa bendera SEAMOLEC (South East Asia Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre),  sebuah institusi yang bernaung dibawah Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) atau Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se Asia Tenggara yang bertanggung jawab untuk mengembangkan Pendidikan Terbuka dan Pendidikan Jarak Jauh di Asia Tenggara.

Organisasi inilah yang menjembatani kami dalam melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah di Asia Tenggara, termasuk dengan sekolah-sekolah kejuruan di Thailand. Dan selama lebih kurang 1 tahun ini, sekolah saya telah mengikat kontrak kerja sama dengan Chon buri College dan Min buri College.

Kunjungan kami kali ini adalah dalam rangka menindaklanjuti kontrak kerjasama dengan kedua sekolah partner tersebut, yang diramu dalam acaraWorkshop on Development of Partnership Activities Utilizing Collaborative E-Learning Tools under the Vocational Partnership Program.

 

Bersama guru-guru dari 20 college di Thailand, kami  membuat project plan dan timeline tentang kegiatan yang akan kami lakukan bersama, selama 6 bulan mendatang. Project plan tersebut selanjutnya kami uraikan dalam proses, serta media pembelajaran menggunakan media kolaborasi yang popular saat ini, yaitu EdmodoMedia kolaborasi Edmodo ini kami pilih karena dapat menjembatani komunikasi antara guru – siswa dari kedua negara dan mengembangkan pembelajaran melalui virtual class yang telah kita buat.

Berada di antara guru-guru di Thailand, secara tidak sengaja membuat saya memperhatikan kebiasaan mereka ketika bertemu dengan kami. Jika di lingkungan kita selalu berjabat tangan, ketika bertemu dengan sesama, maka lain lagi dengan di Thailand. Mereka merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, dengan posisi jari-jari mengarah ke atas, sambil berucap, “Sawaadi kaa..”, yang artinya “selamat pagi/siang/malam/datang”, ketika bertemu dengan kami. Tradisi bersalaman orang Thailand seperti ini biasa disebut sebagai Wai.

Penampilan mereka pun tak luput dari perhatian saya. Hampir semua bapak guru mengenakan setelan Jas warna Hitam/coklat lengkap dengan dasi, sedangkan ibu guru menggunakan setelan jas dipadu dengan rok untuk bawahannya. Penampilan mereka terlihat sangat rapi dan bersih.

Mereka pun tidak terlihat membawa tas ransel, meskipun mereka membawa semua peralatan seperti Laptop, Charger, dan perangkat mobile lainnya. Semua peralatan terkumpul dalam satu tas seperti koper kecil, yang mereka jinjing saat memasuki ruang workshop. Berbeda dengan teman-teman guru dari Indonesia, yang hampir semua bapak/ibu guru menggunakan pakaian kebanggaan, yaitu seragam Batik dengan tas ransel dipunggung 🙂

Komunikasi yang intens dengan sekolah partner juga membuat saya banyak mengerti perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan Thailand. Jika di Indonesia, pendidikan kejuruan dimulai dari tingkat sekolah menengah atas hingga level perguruan tinggi seperti sekolah tinggi dan universitas. Maka pendidikan kejuruan di Thailand, diselenggarakan oleh sekolah menengah dengan lama pendidikan 5 tahun, dengan rincian 3 tahun berada pada pendidikan menengah umum dan 2 tahun pendidikan kejuruan. Lulusan program pendidikan kejuruan di Thailand pun setara dengan lulusan pendidikan D-II di Indonesia walaupun penyelenggara pendidikan adalah sekolah menengah atas.

Banyak hal penting yang kami  pelajari dari mengikuti program ini, terutama pada pemanfaatan media kolaborasi Edmodo, yang selama ini belum banyak kami digunakan secara optimal sebagai media kolaborasi dan interaksi di antara siswa dan guru, siswa dan siswa, guru dan orang tua. Pada kegiatan ini, kami belajar bagaimana cara mewujudkan kelas virtual yang interaktif, inovatif dan komunikatif, layaknya berada di kelas yang nyata.

Jika selama ini kami, pengguna sistem ini hanya memanfaatkan media ini untuk mengirimkan bahan ajar (menyuruh siswa untuk men-download-nya dan membacanya) atau hanya untuk mengirimkan penugasan/kuis untuk memperoleh nilai siswa, maka melalui Workshop ini kami belajar bagaimana berkomunikasi dengan siswa melalui media ini secara efektif dan interaktif dengan memberikan ruang bagi siswa untuk memberikan pendapat/pikirannya setelah mempelajari materi yang telah diberikan.

Siswa juga diberi kesempatan untuk berdiskusi / bertukar pikiran dengan sesama teman sekelasnya (virtual class mate) tentang topik-topik yang sedang menjadi pembicaraan saat ini (trending topics). Dengan begitu,  suasana interaksi di kelas virtual menjadi hidup layaknya suasana di kelas konvensional.

Kondisi cuaca, lingkungan, dan penduduk yang memiliki raut wajah yang sangat mirip dengan warga Indonesia, terutama menu makanan yang kebanyakan berasal dari seafood, dengan aneka olahan berkuah dan bumbu rempah komplit, pedas, asam dan manis, seperti Tom Yam (makanan favorit saya :)), membuat 5 hari berada di negeri ini, serasa berada di negara sendiri.

Meski kami tidak memiliki banyak waktu untuk menikmati ragam wisata bersejarah di negara ini, namun aneka souvenir dan oleh-oleh berlabel Gajah Putih yang kami beli di pasar Wisata di daerah Nakhon Ratchasima, membuat kami merasa cukup puas.

Mudah-mudahan kerja sama yang kami jalin, dapat meningkatkan perkembangan ilmu di bidang IT di antara kedua negara  Indonesia-Thailand. Terutama untuk mempersiapkan para pelajar dan guru menyonsong Komunitas ASEAN 2015.  Amin..

http://amiroh.web.id

Comments (7)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar