0

Berjuang di Media Sosial (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 19, 2021

Dunia interaksi sekarang ini mulai mengalami pergeseran. Orang lebih suka ketika tampilan di media sosial digital menarik, sehingga banyak melakukan tindakan untuk mencari perhatian dari pengguna medsos. Ada yang melakukan secara amatir karena hoby, dan ada juga karena sudah menjadi lahan pencarian. Interaksi dunia maya seakan menjadi nyata. Semua yang dulu maya , sekarang mencoba dihadirkan ke dunia maya. Sisi sisi kehidupan seseorang yang dulu tabu untuk diungkap, di medsos dengan mudahnya diungkap. Sebagai contoh, anda mungkin tabu masuk ke kamar orang lain, dimana orang tersebut sedang tidur. Hal sedemikian sudah tidak menjadi tabu lagi dengan adanya tontonan di media sosial yang mengumbar hal ini, mungkin hanya untuk sensasi menarik perhatian pemirsa atau viewer. Sehingga hasrat dari para viewer mereka tampung demi menjaga para pendukungnya atau subscribernya. Bahkan kita pernah lihat adanya prank , sebuah tindakan untuk menjahili kemudian divideokan dimana orang tersebut tidak sadar. Konten-konten yang ada sekarang ini ibarat surga neraka jadi satu, tergantung para user mau pilih jalan mana. Maka diperlukan kedewasaan dalam bermedsos. Perubahan yang begitu sangat cepat apalagi dikatalisis oleh adanya bencana pandemi yang memaksa sebagian orang yang dulu tidak kenal dunia medsos harus mengenal dan akrab, terutama anak-anak usia sekolah.

Tingkah laku seseorang dimedsos mencerminkan akhlak seseoramg yang mungkin tidak nampak pada saat dunia nyata. Pada saat bermedia sosial yang hadir disana mempengaruhi tindakannya adalah dirinya dan konten media sosial tanpa ada paksaan, sehingga merupakan realitas akhlak seseorang. Realitas akhlak seseorang dapat terlihat dari sikap dia dalam bermedsos. Ada 2 sikap atau pemikiran yang membedakan dalam bermedsos yaitu sikap yang produktif dan sikap yang reaktif atau pereaksi dalam bermedsos. Dua jenis golongan ini ada dalam menyikapi konten yang ada di dalam media sosial.

Pengguna medsos yang pertama adalah golongan mereka yang menggunakan media sosial sebagai ajang beraktualisasi diri dalam berbagai dimensi dan media. Ada yang dalam bentuk foto, gambar, video, tulisan, lagu dan suara, sehingga menemukan sesuatu ajang yang sanggup menerima dirinya tanpa komplain, tinggal respon pemirsanya yang menjadikan bahan masukan dirinya untuk meningkatkan kualitas dirinya. Menurut Prof Widodo Muktiyo menyatakan dalam suatu artikel bahwa media sosial ini sebagai nutrisi bagi sang pengguna, karena banyak sekali yang dapat diserap dalam media sosial untuk mengasah intelektualnya, jiwa seninya, mengasah bersosialisasi secara positif dalam media sosial.

Tetapi ada juga beberapa pengguna media sosial yang bersikap reaktif dan kurang dewasa dalam menyikapi konten yang ada dalam media sosial. Media sosial malah menjadikan sekat yang tebal antar beberapa golongan, sebagai ajang saling hujat, menimbulkan pemikiran yang linier dan hitam putih menyikapi persoalan, kemauan untuk menghargai pendapat yang berbeda menjadi sangat jarang. banyak yang mengkonsumsi informasi yang ada di medsos dan bereaksi dan semakin berkepanjangan. Larut dalam opini dan diskusi yang kurang produktif dan rawan akan perpecahan.

Media sosial bagi orang bersikap pereaksi yang kurang dewasa dalam bermedsos bukan lagi menjadi nutrisi, malah menjadi racun. Racun radikalisme, racun pornografi, racun rasisme akan menjalar begitu mudah tanpa adanya filter kedewsaan dalam bermedsos. Sehingga diperlukan pendidikan bermedia sosial , bagi elemen bangsa ini. Seperti halnya pendidikan pada saat interaksi di dunia nyata. Seseorang di dunia nyata mungkin merasa risih atau malu berkata kotor atau jorok, seharusnya di media sosial pun harus malu dan risih karena bertentangan dengan norma-norma yang ada.

Dalam bermedsos serasa hilang semua norma yang ada bagi mereka yang kurang dewasa bermedsos, kontrol terhadap hasratnya hilang tak terkendali sehingga liar menjadi bumerang bagi dirinya. Kasus-kasus penghinaan atau pelecehan di media sosial ketika sudah ditindak di dunia nyata, maka para pelakunya pun merasa bersalah dan malu yang sesungguhnya mereka menyadari bahwa perbuatannya adalah salah.

Salah satu yang dilakukan untuk mengurangi konten yang berpotens menjadi racun yaitu dengan mentralisirnya dengan konten-konten yang edukatif . Dengan membanjiri media sosial berupa konten-konten positif inilah, laksana para pejuang kebajikan terpanggil untuk terus memproduksi konten-konten positif . Dengan menulis artikel yang positif sebanyak mungkin, membuat video edukasi, gambar-gambar yang edukasi sehingga pelan-pelan konten negatif menjadi yang memalukan untuk diakses karena atmosfer yang tercipta adalah atmosfer positif di dunia media sosial atau secara umum di dunia maya.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar