28

Berjuang Agar Bisa Menulis Dan Berbagi ( 2 ) (+4)

Sri Sugiastuti January 14, 2014

Salam, Guraruesr yang dimuliakan Allah, tulisan ini adalah lanjutan dari perjuangan saya agar bisa menulis dan berbagi. Sengaja saya buat berseri agar guraruers semakin memahami bahwa hidup itu perjuangan dan semua harus berproses. Proses saya yang tak lelah untuk belajar agar bisa menulis ini, berharap bisa menggugah hati guraruers punya minat menulis atau paling tidak mau berbagi pengalaman mengajar, hidup atau memberi opini pada sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kita.

Baik. Saya lanjutkan ya. Ceritanya happy banget nich dapat hadiah flashdisk dan 5 buku dari Kang Dani. Dari 5 buku itu tambah juga ilmu saya karena bisa melihat berbagai jenis tulisan dan gaya bahasa dari tiap penulis. Saya juga jadi ingin punya blog yang bisa menghasilkan uang . sering saya ngeklik iklan-iklan di internet yang mengiming-imingi cara mudah cari uang secara online. Yang intinya kita bisa jual tulisan kita ke agen yang ada di mbah google.

Dalam berjuang, Saya ngga sayang mengeluarkan uang 1 juta ambil private buat web yang bisa mendatangkan uang karena akan dipandu sampai berhasil mendapatkan uang. Tapi baru belajar dua kali si tutor malah ke rumah ngajak istrinya seorang penulis buku entrepreneur yang diterbitkan oleh Elex.Pembicaraan akhirnya bermuara pada passion saya yaitu menulis. Istrinya si tutor saya pameri dan saya kasih softcopy tentang tulisan-tulisan yang ada di file computer. Berselang beberapa hari dia SMS dan memberi apresiasi. Katanya tulisan saya sederhana, gaya bahasanya ringan, tapi EYDnya masih amburadul. Ibu bisa koq dari sketsanya ini dijadikan novel ( hiks hati saya tersanjung ). Nah masalah kelanjutan bikin webnya jadi macet. Karena memang ngga mungkin saya buat 500 artikel tentang design interior dengan ngunduh gambar terus diduplikasi dengan gaya bahasa saya. Wah pokoknya ribet dan saya belum mampu.

Akhirnya saya konsen ingin membuat novel saja lah. Saya coba buat outlinenya dan mengembangkan ide jadi sebuah novel yang cukup tebal. Apalagi ada yang ngompori bisa nimbus penerbit Elex. Dalam waktu 6 bulan novel itu selesai, saya cicil tiap Bab untuk diedit sama yang ngompori saya sebut saja Mba Alpha. Dia punya link di Elex. Dia sempat bebrapa kali kasih feedback dari tulisan saya, dan minta biaya Rp.300.000,- untuk ngeprint dan kirim naskah karena pihak Elex mintanya dalam bentuk hardcopy. Karena sudah merasa dikirim ke Penerbit, saya tinggal nunggu kabar dan buat MOU ya kalau naskah itu diterima.

Tapi apa yang terjadi guraruers? Harapan saya kandas. Si mba Alpha ini dengan enaknya memberi info kalau masih antri di penerbit. Kalau Ibu mau cabut silahkan saja. Setelah itu dia tidak pernah memberi kabar lagi. Akhirnya saya ke penerbit lain. Jalan sendiri melalui email saya kirim naskah itu pada penerbit mayor yang ada di Bandung. Dalam hal ini saya pro aktif dan selalu meminta kejelasan nasib naskah saya ini. Ternyata setelah menunggu 5 bulan, saya gagal lagi dengan alasan Naskah saya kurun waktunya terlalu panjang dan pada tahun ini penerbit sudah mencetak 3 novel dengan genre yang sama.

Guraruers apakah saya putus asa? Oh tidak. Saya rajin searching ke penerbit indie dan bertanya pada rekan yang sudah pernah menerbitkan buku sendiri. Dan akhirnya saya putuskan untuk menerbitkan buku sendiri dengan menggandeng salah satu penerbit di jawa timur, tapi mencetak bukunya di Yogyakarta. Awalnya saya diberi 2 contoh buku dengan dana sekitar Rp. 350.000,-untuk cover, ngedit dan ISBN, sedang yang dimakan brokernya Rp. 250.000,-. Ini broker nakal dan saya begitu percaya padanya. Tapi ketika buku itu terbit, saya komplain karena masih banyak EYD dan cover tidak sesuai yang saya mau. Akhirnya tanpa melalui broker saya bisa nembus langsung ke editornya dan konsulatasi sesuai yang saya mau.

Karena saya merasa sudah merasa pas. Maka saya berani menerbitkan 100 buku. Dan memasarkan sendiri novel yang saya buat, Alhamdulillah karena saya berbisnisnya dengan Allah dalam waktu 4 bulan novel itu tersisa 10 buku. Karena ini novel perdana saya, maka banyak sekali masukan dari pembaca. Saya paham bahwa latar belakang pembaca dari berbagai sudut pandang. Dan Mereka berhak memberi apresiasi maupun kritik pada tulisan saya.

Kebahagiaan yang saya peroleh dari menulis novel sungguh luar biasa walau belum sehebat penulis buku best seller tapi saya sudah memiliki kepuasan batin tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan materi.
Nah itu tadi sepenggal kisah saya berjuang belajar nulis dan membuat novel. Besok saya lanjut ya, masih seru koq perjuangannya , tunggu ya lanjutannya.

http://astutianamudjono.blogspot.com/2013/12/sinopsis-novel-hidayah.html

Comments (28)

  1. Seandainya saya punya hak veto untuk memberi voteup lebih dari satu kali. Saya pasti memberikannya lebih banyak voteup untuk tulisan yang insyaallah mampu mengajak guru untuk menulis. Karena menurut saya, guru dan menulis itu tidak bisa terpisahkan.
    =================================================================
    Voteup +1 dan Socialshare +1 hanya ini yang bisa saya persembahkan sebagai penghargaan semangat untuk menulis dan berbagi.
    =================================================================
    Barakallah!

  2. Pak Sakti, mari dicontoh yang baiknya. Maka banyak sekali tulisan saya yang belum sempurana dan harus diedit lagi biar enak dibaca. Besok saya lanjutkan dengan pengalaman saya menulis buku di penerbit mayor yang ada royaltynya ya.

    Salam Menulis

  3. Pak Holis, insyaallah tetap sasaran saya meulisnya disini, dengan berbagai suka duka. Karena saya sangat meyakini bahwa memulai sesuai bila setengah setengah hasilnya jadi “bantet” atau mogol istilah jawa timurnya apa ya?

    Matur nuwun untuk potenya. Sukses juga untuk Pak Holis.

  4. saya sudah jadi anggota guraru sejak 30 Mei 2012, tapi baru kali ini bener bener melihat dinamika guraru yang menyenangkan, menyegarkan dan menyemangati

    sik sebentar, saya juga pingin sharing jadinya…. pengalaman nembus Esensi Erlangga

    Bu Sri Novelnya sudah habiskah?… saya jadi pingin baca 😉

    • Bu Sri yang baik, berkali-kali nama saya dicolek jangan2 saya bisa kena Hidrochepalus nantinya 😀 hehehehe … namun terima kasih sudah sering disinggung berarti akan sering disenggol kena momentum (istilah saya kena kejutan)

  5. Pak Rudy, Tidak sampai terkena Hidrochepalus ah, kan isinya dikeluarkan semua dalam tulisan dan blog yang hebring. Yang ada malah membuat guraru bahagia dan termotivasi dengan kehairan Pak Rudy.
    ==========================================================================
    Baik. Saya segera ke TKP ya

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar