5

“Bergeraklah, pengalaman yang tidak terlupakan” (+3)

Olivia Herlina Hanggi May 20, 2015

Cita-cita penulis dari kecil adalah menjadi seorang guru. Penulis menjadi sangat terinspirasi dengan seorang guru matematika SMA, Beliau tidak cantik, bersahaja, dengan dandanan yang sederhana, tapi mengajar dengan cara yang luar biasa. Hingga saya yang tidak suka matematika. Menjadi ketagihan belajar matematika dengan beliau. Kehadirannya sangat dinantikan. Inilah yang mengantarkan saya ingin menjadi seorang guru. Mulai mengajar di tahun 1997, di sebuah Pesantren. Kebetulan penulis mengajar bahasa Inggris, karena pada saat itu penulis masih terdaftar menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Internasional, sebuah Universitas swasta di kota Bandung. Tetapi sebelum mengajar setaraf sekolah menengah pertama di Pesantren, penulis sudah mulai membina ibu-ibu pengajian sebulan sekali dalam hal pemberian materi pembelajaran keagamaan, terkadang sebagai fasilitator atau mediator untuk ibu-ibu pengajian dalam pertemuan rutin bulanan dengan menghadirkan, penceramah dari luar. Sempat juga penulis sekolah D1 PGTK. Dan sempat mengajar TK selama sebulan. Kemudian penulis berhenti mengajar selama satu tahun, Di tahun 2000 penulis mulai mengajar lagi di Bogor, sampai tahun 2010. Ikut test pegawai Negeri Sipil lolos dan akhirnya mengajar di SMP negeri di Bogor sampai sekarang.

Perjalanan yang cukup panjang, tapi tentunya bukan lamanya waktu perjalanan tapi keindahan berbagi sesuatu pada siapapun yang mau belajar, adalah pengalaman yang  tidak terlupakan. Sebagai pemula di tahun awal-awal mengajar, pasti dari segi tekhnik, penguasaan bahan materi masih banyak kekurangan disana-sini. Namun dari segi ghiroh atau semangat, boleh dikatakan mendominasi. Yang membuat penulis geli adalah  santri-santri Pesantren jadi ingin belajar diluar untuk mengetahui  seperti apa dan bagaimana kehidupan diluar pesantren. Artinya ini bukan prestasi yang baik menurut pihak Pesantren, karena para santri-santri belum maksimal diberikan penanaman Aqidah yang baik untuk mampu mengolah informasi dunia luar dengan baik, tidak sekedar mengetahui saja yang bisa berdampak pada terseretnya santri kearah westernisasi dan pembodohan. Penulis sangat paham maksud dari pihak pesantren demi kebaikan santri-santrinya. Hikmah yang dapat diambil dari kejadian ini adalah sungguh besar peranan guru, performance guru terhadap perubahan pola pikir peserta didik. Meski seberapa besar para pembesar, pemuka agama, ulama dan pemerintah sekalipun dalam menentukan kebijakan pendidikan, tanpa peran guru sebagai ujung tombak pencapai tujuan, adalah statis belaka.

Pengalaman penulis menjadi guru di Bogor mulai dari tahun 2000, inilah yang paling berkesan karena kemampuan mengolah kelas, tekhnik mengajar, penguasaan materi mulai meningkat. Penulis selalu menyisipkan cerita-cerita lucu dalam bahasa Inggris untuk mengakhiri materi pelajaran. Kadang-kadang diceritakan berulang-ulang dalam setiap paragraf atau bahkan kalimat… (mengingat daerah tempat saya mengajar itu adalah desa yang belum memiliki akses sempurna tentang informasi jadi sangat kurang sekali perbendaharaan yang dapat dikuasai). Terkadang penulis dalam bercerita harus mengganti kata-kata yang tidak dimengerti menjadi kata-kata familiar atau akrab didengar. Dan penulis geli ketika mereka hanya diam mendengar cerita lucu penulis, setelah beberapa saat mereka mulai mengerti arah pembicaraan penulis, mereka langsung senyum-senyum.. Hahaha…. Sungguh lucu kalau melihat muka mereka yang bengong diam tak mengerti. Kadang ada saja peserta didik yang ikut tersenyum tapi dengan mukanya mengisyaratkan  ketidakmengertian.. setelah dijelaskan temannya baru dia tertawa. Dalam pembelajaran pun saya terkadang meyelipkan lagu-lagu dalam bahasa inggris. Menebak kata-kata yang masih kosong dalam teks lirik. Mereka diminta menyimak sebuah lagu dan mendengar tiap kata dalam lagu tersebut dan mencocokkannya kedalam teks, ketika bertemu dengan sebuah bait lagu yang kosong, mereka diminta untuk mengisinya dengan bait lagu yang diperdengarkan. Seru. Kadang hasil dari lagu yang diperdengarkan, membuat mereka terbiasa dengan pengucapan yang sesuai dengan kaidah pronunciation bahasa Inggris. Bahkan cerdas-cermat perkelompok dalam tiap kelas, penulis lakukan untuk menstimuluskan kemauan belajar peserta didik. Seiring dengan waktu yang berlalu, saya mulai menambahkan banyaknya nasehat dan pesan moral dan religius pada setiap sesi materi pembelajaran penulis. Penulis merasa banyak sekali kerusakan moral pelajar untuk segera dituntaskan minimal diminimalisir melalui peran guru dalam pembelajaran. Dan itu sangat membuat penulis merasa pengalaman belajar yang demikian dapat tercipta kesan menyejukkan. Karena dengan berbagai pesan moral dan religius itu mengharuskan penulis ikut memberikan contoh sebagai manifestasi pembelajaran di dalam kehidupan.

Tahun 2006 pemerintah mulai mencanangkan sertifikasi guru, yang mengharuskan tenaga pengajar mempunyai ijazah S-1 sesuai bidang yang diampu. Ini membuat penulis mulai berfikir untuk kuliah lagi mengambil akta IV. Karena guru diharuskan mempunyai SIM berupa akta IV, maka pada tahun itu penulis memutuskan untuk kuliah lagi walau berat dari segi waktu dan biaya.  Lepas  kuliah, penulis  mencoba mendaftar test Pegawai Negeri Sipil, Alhamdulillah diterima dengan formasi guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Daerah penugasannya di Gunung Sindur. Memang ketika mengambil kuliah lagi konsentrasi yang diambil penulis adalah Pendidikan Agama Islam tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.

Kehidupan baru sebagai guru Agama di Sekolah Menengah Pertama ini membuat penulis sedikit canggung. Maklum sebagai guru baru pasti punya banyak ketakutan-ketakutan dalam mengajar. Untuk memulai bidang yang baru ini, penulis berusaha setiap malam membuka buku, membuat ringkasan, membuat bahan dengan tekhnik seperti apa materi pada saat itu-baik diberikan. Sampai lengkap penilaian sikap dan karakter para peserta didik. Meski usaha sudah maksimal tetap saja buat guru pemula, itu  terkesan sederhana. Karena semua ditulis dengan manual, tanpa alat bantu.

Penulis terus berusaha akrab dengan bidang yang baru ini, Dalam benak penulis harus menggunakan alat bantu untuk memudahkan penulis menyampaikan pesan pembelajaran. Akhirnya dibantu dengan suami mulailah penulis menggunakan komputer untuk memudahkan pembelajaran. Awalnya penulis browsing materi khusus tentang bahan ajar yang berjudul “Halal haramnya sumber makanan yang berasal dari hewani”. Lalu kemudian menampilkannya dengan infokus yang disediakan disekolah. Walhasil peserta didik menjadi lebih tertarik dengan begitu banyak gambar dan info yang ditulis dengan font besar dan berwarna. Sehingga meski sudah beralih pada materi lain, peserta didik masih ingat apa saja yang mereka sudah tangkap melalui penginderaan mata mereka.

bahan ajar dengan TIK

bahan ajar dengan TIK

Seperti ketagihan, penulis terus membuat lagi slide powerpoint untuk materi ajar yang lain. Bahkan penulis khusus ikut diklat online tentang pembuatan animasi bergerak untuk bahan ajar. Ketika pengawas  dari Kantor Kemenag Kabupaten datang untuk meninjau sekolah perbatasan, dan ikut masuk melihat bahan ajar penulis yang berupa slide itu, Beliau mengatakan sudah bagus dan menyarankan untuk menelorkan keterampilannya dalam membuat media bahan ajar tersebut ke guru-guru yang lain. Kemudian penulis berinisiatif agar peserta didikpun dapat membuat presentasi hasil diskusi kelompok dengan penggunaan Tekhnologi Informasi Komputer ini melalui instruksi kilat penulis. Alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan.

presentasi diskusi kelompok dengan menggunakan slide powerpoint

presentasi diskusi kelompok dengan menggunakan slide powerpoint

Betapa senangnya punya keterampilan baru, tapi untuk sebagian guru-guru di era baru sekarang, keterampilan yang penulis buat mungkin masih standar. Mudah-mudahan dengan bergabungnya di Guraru ini, penulis mampu meningkatkan ketrampilan pengunaan TIK disetiap bahan ajarnya. Mengutip pesan yang diberikan oleh DR. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. “Bergeraklah, jangan diam. Akan selalu ada keberkahan saat engkau bergerak”. Dengan terus meningkatkan diri, kita sekiranya diharapkan  mampu memberikan pendidikan dan pembelajaran yang terbaik buat generasi emas kita di masa yang akan datang.  Amiin ya Robbal Alamiin

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar