1

BERDAMAI DENGAN GAWAI, MESKI HARUS PINJEM (0)

Rr Umi Chabibah, M.Pd. October 18, 2020

Rr Umi Chabibah, M.Pd.

 SMPN 4 Balikpapan-Kaltim

Pandemi Corona memang telah mengubah banyak hal, termasuk dalam masalah belajar dan mengajar. Yakni proses belajar tatap muka yang biasa guru dan sisiwa lakukan di sekolah ditiadakan. Proses pembelajaran ini kemudian di ganti dengan pembelajaran jarak jauh yang mengharuskan siswa menggunakanhandphone dan  internet untuk mengaksesnya. Sayangnya tak semua siswa memilikki uang yang cukup untuk membeli kuota internet agar bisa sekolah. Siswa yang tinggal di daerah dengan akses internet yang masih sulit dan akses sarana yang kurang,  terpaksa harus memutar otak agar bisa tetap belajar. Seperti yang dirasakan oleh kakak beradik Sima dan Ola ( sebut saja begitu ), mereka adalah siswaku ketika mengobrol curhat soal betapa susahnya mereka  untuk belajar online. Bersama orang tua mereka saya undang ke sekolah karena masukan dari beberapa rekan guru yang mengajar, berdua ini tidak terlalu aktif pada proses pembelajaran.

Memang, ekonomi menjadi kendala utamanya. Orang tua Sima dan Ola  hanya berprofesi sebagai buruh angkut di pelabuhan, yang penghasilannya tidak menentu. Hingga sekarang, mereka mengaku telah mengeluarkan uang sebanyak Rp 500.000, untuk digunakan mengisi pulsa data internet untuk daring. Masalah tak sampai di situ, mereka berdua hanya mempunyai satu perangkat gawai dan itupun hanya pinjam dari tetangganya. Ponsel yang dipinjami tetangganya tersebut mereka pakai bergantian selama belajar daring.  Merasa ingin protes dengan sistem pembelajaran daring selama masa Pandemi Covid-19. Sima dan Ola merasa kesulitan belajar di tengah sistem pembelajaran yang tak efektif. Namun, hal itu seolah terkubur ketika mereka juga melihat dan  mendengar cerita bahwa gurunya mengajar tanpa keluh kesah. Materi pembelajaran disampaikan dengan maksimal dan tekad bulat meskipun terkendala koneksi internet yang tak stabil, saat belajar, dan koneksi hati yang terbatasi.

 “Beliau tentunya tidak akan pernah menyangka pembelajaran akan dilaksanakan secara daring, “ kata Ola diiyakan oleh orang tuanya.  Dan ternyata itu semua terjadi sampai sekarang sehingga mau tak mau beliau harus beradaptasi dengan realitas yang terjadi. Ola tidak ingin berhenti belajar menuntut ilmu dan menjadi pemilik masa lalu, namun  ini giat belajar dengan tujuan menjadi pemilik masa depan. Kini mereka jadi prioritas sekolah dalam program bantuan  Peduli Pendidikan. Seperti kata Aristoteles, yaitu Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis. Seperti yang Sima dan Ola yang tetap giat belajar meski sebagian besar terkendala perangkat dan akses internet. Tetap semangat belajar ya anak-anakku.

#WritingCompetition

#NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Sore 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar