5

Berdakwah Lewat Tulisan (0)

Supadilah S.Si December 7, 2020

Berdakwah bukan hanya dengan ceramah, lho. Berdakwah bisa juga melalui tulisan. Demikian yang ditulis oleh Kholid Ma’mun yang tersiar di Kabar Banten (28/1). Tentunya jika tulisan kita berisi kebaikan-kebaikan yang bisa menggerakkan dan memotivasi pembaca untuk melakukan kebaikan pula.

SECARA etimologis, menurut para ahli bahasa, dakwah berakar kata da’a-yad’u-da’watan, artinya ”mengajak” atau ”menyeru”.

Secara terminologis, dakwah adalah mengajak atau menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah Swt, berdasarkan ayat Al-Quran:

“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…” (QS. An-Nahl:125).

Upaya mengajak manusia supaya masuk ke dalam jalan Allah secara menyeluruh (kaffah), baik dengan lisan, tulisan maupun perbuatan sebagai ikhtiar muslim mewujudkan Islam menjadi kenyataan kehidupan pribadi, usrah (kelompok), jama’ah dan ummah. (Amrullah Ahmad, 1999).

Berdakwah Lewat Tulisan

Pengajar pondok pesantren (ponpes) Modern Daar El Istiqomah ini mengatakan, dengan menulis kita juga bisa berdakwah kepada ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang,  terlebih di era berkembangnya teknologi informasi seperti ini. Kita bisa menggunakan menuliskan ide dan gagasan kita melalui media WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, sampai dengan buku dan kitab. Kemudian, kata beliau, syarat menjadi penulis adalah rajin membaca, fokus pada bidang yang dikuasai, dan semangat serta pantang menyerah.

Sejalan dengan pemikiran beliau, saya meyakini bahwa berdakwah bukan hanya dengan ceramah. Dakwah bisa lewat berbagai sarana lainnya.

Secara terminologis dakwah berarti mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan.

Allah Swt, berdasarkan ayat Al-Quran: “Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…” (QS. An-Nahl:125). Maka setiap pemikiran, perkataan, dan perbuatan kita baik secara terang-terangan atau tidak bisa dimaknai sebagai dakwah.

Ada syair-syair yang justru dianjurkan oleh agama Islam. Yakni syair-syair yang mengingatkan manusia kepada Allah, mendekatkan kepada ajaran agama, memberikan semangat hidup, dan berisikan kebaikan-kebaikan. Ketika saat industri musik kerap diwarnai dengan lagu-lagu yang laghwu atau melenakan dengan syair berisi percintaan, perselingkuhan, dan mengumbar gaya hedonis, maka kehadiran lagu-lagu yang islami sangat dibutuhkan sebagai alternatifnya. Bisa disebut grup nasyid dan penyanyi solo  mereka yang berjuang lewat lagu ini. Mereka menghadirkan lagu-lagu yang menyejukkan, teduh, dan bisa menambah keimanan kita. Contohnya adalah grup nasyid SNADA (Neo Shalawat dan Jagalah Hati) yang populer pada tahun 2000-an, grup musik Bimbo (Sajadah Panjang), Haddad Alwi Sulis (Cinta Rasul), Opick (Tombo Ati) dan lainnya.

Di era milenial ini, hadir Nisa Sabyan yang menjadi popoler dengan Deen Assalam yang hampir 200 juta kali diputar di Youtube. Lagu yang menceritakan tentang Agama Islam adalah agama perdamaian, penuh dengan toleransi, dan rasa cinta ini layak menjadi salah satu referensi perjuangan dakwah lewat lagu.

Supadilah. Guru di SMA Terpadu Al-Qudwah

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar