6

Belajar dari Erin Gruwell (+1)

Agus Firman June 16, 2012

Setelah beres melaksanakan syukuran atas ulang tahun anak ku yang ke 2 tadi malam, saya mengajak adik sepupu dan keponakan untuk menonton Film ‘The Freedom Writers’. Kebetulan, adik sepupu saya tengah kuliah di fakultas pendidikan tingkat akhir, jadi saya memberinya masukan bagaimana sikap seorang guru yang baik, melalui film yang kami tonton.


Mungkin bisa dikatakan ketinggalan, karena saya yakin banyak dari rekan guraru yang sudah nonton film ini, namun saya tetap ingin membahasnya, hanya untuk menyampaikan kekaguman saya akan sosok Erin Gruwell.

Film berjudul ‘The Freedom Writers’ ini diangkat dari kisah nyata. Mengisahkan tentang perjuangan seorang guru, bernama Erin Gruwell dalam mendidik anak anak di sebuah sekolah di daerah Long Beach. Anak anak yang ia didik merupakan anak anak berperilaku keras, hampir semua merupakan anggota geng. Mereka pun terbagi dalam kelompok kelompok berdasarkan warna kulit / ras, sehingga sering terjadi perkelahian, baik di ruang kelas maupun di luar kelas.(Karena saya tidak berniat mengulas tentang cerita film nya, jadi untuk lebih lengkapnya, tongton saja yah film nya).
Dari film tersebut (setelah 3 kali nonton), saya menangkap beberapa pelajaran penting yang berkaitan langsung dengan sikap seorang guru, serta InsyaAllah akan segera ditiru, yaitu:


(Sosok asli Erin Gruwell, Pendiri yayasan The Freedom Writers)

a. Pantang Menyerah
Di hari pertamanya mengajar, Erin (Mrs. G) sudah dihadapkan pada permasalahan yang pelik. Terjadi perkelahian di kelas antar muridnya, disusul di hari berikutnya terjadi perkelahian masal di sekolah, dimana ia melihat anak didiknya membawa senjata api. Belum lagi permasalahan dengan pengelola sekolah, dimana ia tidak diijinkan untuk meminjam buku buku di perpustakaa untuk anak anaknya. (Yah, jujur, kalau saat itu saya adalah Erin, saya mungkin sudah lari dan mengundurkan diri). Namun Erin tidak, Ia dudah punya tekad bahwa anak anak ini harus diselamatkan, anak anak didiknya pun anak anak yang punya kesempatan, karenanya ia tidak pernah menyerah dan terus berjuang agar anak didiknya menjadi manusia yang lebih baik.

b. Kerendahan hati
Salah satu trik Erin dalam menyatukan mereka adalah dengan mengadakan permainan ‘Line Game’, di mana ia membuat sebuah garis di tengah kelas dengan selotip merah, lalu menanyakan sebuah pertanyaan kepada siswa. (contoh: “Siapa diantara kalian yang punya album ‘Nidji’ yang baru?) Nah siswa yang misalnya punya album Nidji tersebut, maju menginjak garis. Salah satu pertanyaan yang ia tanyakan adalah ‘Siapa diantara kalian yang menjadi anggota geng?’ Tentu saja semua anak mundur dari garis. Menyadari kesalahannya, ia pun meminta maaf kepada anak anak nya dengan sungguh sungguh. Padahal, saya sebagai guru jarang sekali mau meminta maaf ke anak anak saat saya melakukan kesalahan.

c. Mengajar dengan cinta
Yah, Erin selalu melihat siswa nya dengan penuh cinta. Betapapun siswanya membuat ia jengkel, marah, namun ia tahu bahwa siswanya belum mengerti. Bahkan saat banyak siswa yang membencinya, ia tidak membalasnya dengan kebencian, karena ia melakukan semua itu dengan cinta. Karena ia yakin, bahwa anak didiknya suatu saat akan mengerti, apa yang dilakukannya untuk kebaikan mereka sendiri.

d. Rela Berkorban
Mungkin pengorbanan Erin bisa dikatakan ‘keterlaluan’, bagaimana tidak, ia bekerja di luar jam ngajarnya sebagai penjual bra dan resepsionis hotel hanya untuk memenuhi kebutuhan anak anaknya akan buku. Seperti saya sampaikan sebelumnya, saat ia mau meminjam buku untuk dibaca oleh anak anaknya, ia tidak diijinkan oleh pihak sekolah, karena pihak sekolah menganggap bahwa anak anak tersebut hanya akan mencuri atau merusak koleksi bukunya. Karena dari itu, Erin pun bekerja paruh waktu untuk membeli buku untuk anak anak didiknya. Nah, untuk berkorban sampai ke arah sini, saya pribadi sepertinya belum mampu. 😀

e. Pandai membaca situasi
Saat menghadapi masalah, Erin selalu mencari solusinya, ia membaca sekitar lalu membuat sebuah langkah nyata, trik atau metode agar permasalahan tersebut bisa terpecahkan. Seperti saat ia melihat bahwa murid muridnya berlatar belakang kekerasan, maka ia mencari bacaan yang bisa menginspirasi mereka. Ia pun menyadari bahwa hal pertama yang harus ia perbaiki adalah sikap anak didiknya, maka saat ia melihat terjadi pengelompokan (geng-geng an) di kelas nya, ia mencari cara bagaimana agar kelasnya menjadi sebuah keluarga.

f. Tidak membawa masalah pribadi ke kelas
Salah satu bagian yang paling #JLEB ke hati saya adalah saat Erin menghadapi perceraian. Kesibukan nya mengurus anak didiknya telah dianggap berlebihan oleh suaminya, sehingga suaminya pun memutuskan untuk meninggalkannya. Namun, di hadapan murid muridnya, Erin sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang menghadapi masalah besar, ia tetap tersenyum dan penuh semangat. Beda banget dengan saya, ada masalah kecil aja, kadang anak anak yang jadi korban.

Mungkin masih banyak hal lain yang bisa kita pelajari dari film ini. Meski banyak adegan kekerasan, ataupun budaya yang bersebrangan, namun tentunya para pembaca bisa melihat sisi baiknya dari film ini. Selamat menonton.
 

* Gambar diambil dari : http://wkunews.files.wordpress.com/2010/11/erin-gruwell.jpg

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar