3

BELAJAR (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto January 14, 2021

Bagi sebagian besar orang, belajar itu adalah duduk di depan buku. Memusatkan pikiran kepada buku di hadapannya, kalau perlu ditambah dengan menulis seuatu di buku tulis.

Kalau definisi belajar adalah seperti itu, maka saya ini termasuk orang yang jarang belajar. Ya, saya tidak tahan jika harus berlama-lama menghadapi buku pelajaran, apalagi jika pelajarannya tidak saya sukai. Mungkin perilaku saya yang seperti ini adalah imbas dari cara bapak saya mendampingi saya dan kakak saya belajar dulu.

Bapak saya dulu termasuk orang yang keras dalam mendampingi belajar. Dan urusan belajar anak-anaknya sepenuhnya beliau yang bertanggung jawab. Yang bisa saya ingat, saat menjelang masuk SD bapak mengajari saya membaca. Tetapi caranya sungguh saya tidak suka. Karena jika tidak bisa, saya akan dimarahi dengan sangat keras. Setiap anak-anaknya menghadapi ujian, beliau membuat soal-soal yang harus kami selesaikan dalam waktu tertentu. Jika belum selesai beliau akan menganggapnya hutang, dan akan dikejar terus, meskipun saat itu kami sedang berada di kamar mandi.

Mungkin karena pengalaman belajar yang menegangkan itulah, saat sudah menjadi ibu saya benar-benar membuang gaya bapak dalam mengajari anaknya. Kepada anak saya yang tiga orang itu saya tidak pernah menekan mereka untuk belajar seperti saya dulu saat seusia mereka. Saya lebih suka mereka belajar dari sekitarnya, mengeksplorasi sekitar.

Saya ada pengalaman yang mungkin bagi sebagian ibu memalukan. Saat anak pertama saya masuk PAUD, di sekolahnya sudah mulai dikenalkan membaca dengan metode cantol raudhah. Anak-anak diberi kartu yang berisi susunan huruf. Diawali dengan ba bi bu be bo, ca ci cu ce co, da di du de do, dan seterusnya. Di saat teman-teman anak saya sudah jauh pencapaiannya, anak saya baru 1 kartu ba bi bu be bo saja belum pernah naik. CD lagu sudah saya putarkan, di rumah saya coba ulang lagi, masih belum ada perubahan. Sampai kartunya menjadi lecek dan tidak bisa dipakai lagi, sehingga harus pinjam kepada gurunya untuk difoto kopi.

Jika ditanya bagaimana perasaan saya, biasa saja. Saya beranggapan bahwa usia anak saya yang belum genap 4 tahun waktu itu belum bisa dipaksa untuk belajar membaca. Saya tidak ingin memaksa anak saya untuk bisa, sehingga dia menganggap aktivitas belajar itu menakutkan, seperti saya dulu. Saya tetap menagajari dia, tetapi tidak memaksakan hasilnya.

Penantian saya akhirnya berbuah manis. Suatu ketika di TV saya menemukan acara kartun untuk anak-anak yang judulnya “Monster ABC”. Di situ dikenalkan huruf-huruf dengan melalui cerita dan kemasan yang sangat menarik. Ternyata anak saya suka dengan acara itu. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah dia selalu menontonnya. Alhamdulillah sedikit demi sedikit kemampuan membacanya mulai meningkat. Dia mulai suka membaca. Tulisan apa pun yang ditemuinya pasti dibaca dengan riang gembira.

Saya sangat bersyukur melihatnya. Anak saya sudah menemukan titik lejit potensinya lewat acara TV. Sampai sekarang dia menjadi anak yang sangat suka membaca. Dan itu semua tanpa ada paksaan dari saya. Bayangkan jika dulu saya memaksanya harus bisa membaca, mungkin dia akan menganggap kegiatan membaca itu sangat menakutkan.

Jika waktu kecil bapak saya tidak memperlakukan saya dengan keras, mungkin saya yang akan memperlakukan anak saya dengan keras. Dari bapak, saya belajar bahwa sebenarnya anak hanya ingin dipahami dan dipercaya bahwa mereka mampu.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar