4

Belajar Teori atau Mencoba Praktik? (0)

Thurneysen Simanjuntak March 20, 2021

“Ah, teori.”

Barangkali kita sering mendengar perkataan tersebut. Bahkan sebuah iklan pernah mengangkat itu menjadi jargonnya dan populer semasa saya kuliah dulu. Kalau sahabat pembaca pernah mendengarnya, berarti sezaman dengan saya hehe…

Sepertinya dari perkataan tersebut, kita dapat menafsirkan apa yang sedang diharapkan oleh seseorang tersebut. Bukan sekedar berteori saja, tetapi juga diharapkan ada praktiknya.

Mengapa demikian?

Umumnya manusia itu menginginkan sesuatu yang dapat dirasakan maknanya atau dialami keberadaannya dalam kehidupan. Manusia lebih senang dengan sesuatu yang riil atau nyata daripada yang abstrak atau tidak kelihatan.

Barangkali, bukan berarti seseorang tersebut tidak senang dengan teori atau tidak mau menerima teori, mungkin saja selama ini orang tersebut telah tercekoki dengan banyak teori, sehingga ingin sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Teori memang sangat diperlukan dan mutlak adanya. Sebelum sesuatu itu dipraktekkan bukankah hal tersebut telah dilandasi oleh sebuah teori? Satu hal yang paling penting jangan pernah puas dan berhenti pada ranah teori saja. Upayakan dilanjutkan pada ranah praktik.

Demikian halnya pada pembelajaran di sekolah. Jika seorang guru hanya berhenti pada ranah teori, maka anak didik tersebut, tentu akan merasa bosan. Atau barangkali tidak mengerti untuk apa ilmu tersebut dipelajari. Bukankah banyak anak didik uring-uringan belajar karena mereka tidak mengetahui mengapa hal tersebut dipelajari?

Tetapi ketika seorang anak didik tahu, kenapa harus mempelajari teori tersebut, terlebih ketika mereka diajak untuk melakukan peragaan (praktik), tentu mereka akan lebih paham dan bahkan mengingat proses pembelajaran yang dilakukan.

Konfusius (seorang filsuf Cina Kuno) pernah berkata “Saya mendengar dan saya lupa, saya melihat dan saya ingat, saya melakukannnya dan saya mengerti”.

Kalau saya kaitkan dengan tulisan ini, maka ketika kita berteori maka cenderung apa yang kita sampaikan lebih mudah dilupakan, sementara kalau kita melakukannnya dengan sebuah praktik maka akan lebih mudah kita mengerti.

Dulu saya pernah mengajari materi tentang materi “Pers” kepada anak didik saya di kelas XII SMA, ternyata mereka lebih tertantang ketika mereka diajak bukan sekadar mendengar teori tentang Pers. Sekali lagi bukan berarti teori tidak penting, saya juga bukan anti teori, saya bahkan tetap akan mengajarkan teori, tetapi itu akan menjadi pijakan bagi mereka melakukan sebuah praktek atau menghasilkan sebuah karya.

Alhasil, anak didik saya menerima tantangan tersebut. Dua orang dari mereka karyanya dimuat pada harian nasional, Kompas cetak. Sebagian ada yang dimuat di majalah dan lain sebagainya. Mereka terlihat sangat bahagia.

Sekarang yang perlu tetap saya pikirkan, bagaimana agar setiap teori pembelajaran bisa dipraktikan dalam pembelajaran, secara khusus di masa sekarang yang sarat dengan teknologi digital, bagaimana praktik pembelajaran bisa lebih kekinian.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar