10

BELAJAR SEJARAH DENGAN METODE BERMAIN PERAN (+4)

wiwik khafidhoh May 21, 2015

Belajar sejarah itu gampang-gampang susah. Kuncinya mau membaca, insya Allah bisa. Tetapi masalahnya daya membaca anak-anak rendah, apalagi jika penulisan sejarah dalam buku-buku teks pelajaran masih disesaki dengan banyak tanggal, nama-nama dan pemilihan Bahasa yang kaku. Karena itu mau tidak mau guru harus lebih kreatif bagaimana agar anak mau dan suka belajar sejarah. Di beberapa bagian dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terdapat materi tentang sejarah. Pada awal-awal saya mengajar IPS ketika materi tentang sejarah, saya menggunakan metode ceramah. Hasilnya nilai anak-anak jeblok,  kalau sudah begitu mau tidak mau harus diremidi, dan parahnya meski diremidi kadang masih berat, bahkan kadang nilainya hanya sampai pada ketuntasan minimal saja.

Nah agar anak-anak mencintai  Sejarah , maka saya menggunakan metode bermain peran. Ketika kami tawarkan anak-anak untuk bermain peran, anak-anak sangat antusias, apalagi di kelas kami sudah ada pelajaran teater, jadi anak-anak tidak kesulitan untuk mengubah teks-teks sejarah tersebut menjadi visual.

fot4

Langkah pertama yang kami lakukan adalah,  membagi anak-anak dalam satu kelas menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 6-7 anak. setiap kelompok diberikan materi yang berbeda-beda.  Ini dilakukan agar anak-anak bisa belajar banyak materi dalam sekaligus. Waktu yang kami berikan sekitar 2 minggu untuk mempersiapkan pertunjukan. Dan setiap kelompok hanya diberi waktu sekitar 10-15 menit untuk menampilkan materi yang ditugaskan.

Keuntungan menggunakan metode ini;

  1. Melatih pemahaman anak terhadap bacaan. Untuk membuat sebuah pertunjukan anak-anak harus sangat paham dengan materi yang akan ditampilkan. Mereka harus bisa mengambil inti dari yang dibaca, dan memilah mana yang penting dan tidak penting.
  2. Lebih kreatif. Dengan bermain peran anak-anak akan menjadi lebih kreatif. Anak-anak akan belajar bagaimana berperan dengan baik. Melatih ekspresi wajah dan gerak tubuh. Anak-anak juga harus siap membuat properti yang sesuai dengan peran yang dilakoni, mulai dari baju, atau peralatan lainnya seperti pistol mainan, dan lain-lain. Tidak itu saja anak juga harus mengubah sebuah teks menjadi dialog-dialog. Dari dialog-dialog ini bisa juga dilihat apakah disajikan dengan kaku atau luwes dan mudah dipahami
  3. Melatih kerjasama. Dalam bermain peran kerjasama sangatlah diperlukan, karena jika tidak ada kerjasama tampilannya tidak akan bagus. Anak-anak harus bisa melengkapi satu sama lain, mereka diajarkan bekerja di dalam tim, dan saling membantu untuk mencapai kesuksesan bersama.
  4. Belajar mengatur sebuah pertunjukan. Dalam bermain  peran  tentu ada salah satu anak yang menjadi pimpinan atau pemenej jalannya cerita atau dalam dunia film disebut sutradara. Dia yang akan mengatur adegan per adegan dan berapa waktu yang dibutuhkan.
  5. Menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Kita tahu bahwa dalam memahami sebuah teks diperlukan otak kiri, namun agar apa yang kita pahami bisa melekat kuat dan tahan lama maka diperlukan peranan otak kanan, dalam hal ini bisa diwakili bermain peran atau menvisualisasikan dari teks menjadi nyata. Gerak tubuh dan pelibatan emosi juga akan membuat memori mengingat sejarah dengan tahan lama.

fot3

Akhirnya banyak sekali keuntungan yang bisa kita ambil dari bermain peran ini. Belajar  sejarah menjadi menyenangkan. Guru dan anak-anak juga merasa terhibur karena terkadang adegan yang diperankan anak-anak menjadi lucu dan sangat alami.  Senangnya menjadi guru.

fot1

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

 

 

Comments (10)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar