4

Belajar Mengapresiasi (0)

Supadilah S.Si November 6, 2020

Belajar Mengapresiasi – Dalam sebuah pelatihan, Jack Ma membuat sebuah simulasi. Pemilik Alibaba Group itu menuliskan sejumlah soal matematika. Soalnya tidak rumit. Bahkan terlalu mudah dan sederhana. Dengan sengaja, Jack Ma menuliskan satu jawaban salah, sementara jawaban lainnya benar. Saat tiba di jawaban yang salah, peserta pelatihan memprotes Jack Ma. Para peserta riuh memprotes jawaban terakhir yang salah itu.

Kemudian Jack Ma seraya  tersenyum mengatakan bahwa jawaban soal terakhir memang disengaja salah. Kata Jack Ma, kenapa kalian hanya fokus pada satu kesalahan jawab saja, dan tidak mengapresiasi atas jawaban  yang benar? Seketika membungkam seluruh peserta.

Demikianlah hakikat kehidupan kita. Kita lebih mudah menemukan dan bereaksi terhadap kesalahan orang. Juga, kita lebih mudah membesar-besarkan kesalahan orang lain ketimbang kebaikan-kebaikannya.

Dalam keseharian kita, mungkin simulasi Jack Ma ini sering kita alami. Baik kita sebagai subjek atau sebagai objeknya. Begitu pula dalam aktivitas pekerjaan, organisasi, dan lainnya. Pernah tidak teliti memperhatikannya? Penulis beberapa kali mengalami. Pada beberapa pekerjaan yang dikerjakan, sering kali kritik lebih dahulu dan lebih banyak diterima ketimbang apresiasi atau pujian. Benar jika memang ada kekeliruan atau kesalahan. Tapi alangkah baiknya menilai sebuah pekerjaan itu dimulai dengan mengapresiasi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa  orang cenderung lebih mudah mengeluarkan kalimat negatif daripada kalimat positif. Implikasinya orang lebih mudah mengkritik daripada mengapresiasi.

Hal ini lumrah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Di sekeliling kita sering kita temui banyak orang-orang yang berkomentar dengan apa yang kita lakukan. Hal yang baik saja dikomentari apalagi hal yang buruk.

Padahal, dari penelitian juga, pemilihan kata yang bersifat negatif bisa memberikan dampak buruk bagi otak yang tentunya akan mempengaruhi psikologis bahkan kesehatan seseorang.

Kondisi ini terjadi hampir pada semua kalangan dan tingkat kehidupan kita. Baik wong cilik atau elit.

Apakah perlu energi yang lebih besar untuk mengeluarkan kalimat negatif ketimbang mengeluarkan kalimat positif? Entahlah. Padahal, kebaikan dan keburukan itu bisa beresonansi. Keburukan atau kebaikan akan menular. Dia juga akan memantulkan kembali energi yang dilepaskan.

Jika energi keburukan yang kita lepaskan, energi keburukan pula yang akan berbalik kepada kita. Sebaliknya, jika energi kebaikan yang kita lepaskan, energi kebaikan pula yang akan kita terima. Ayo belajar mengapresiasi, utuk kebaikan kita juga.

Mudah-mudahan kita bisa menyimpan energi kita untuk hal-hal yang baik. Dalam ilmu fisika ada gaya aksi reaksi. Jika kita beraksi baik maka akan menerima reaksi baik pula. Jika kita beraksi positif akan beraksi positif pula.

Orang akan bereaksi sesuai yang kita lakukan. Maka pilihlah aksi yang membuat hidup semakin meningkat. Jika energi untuk berbuat baik atau buruk adalah sama besar maka jangan buang- buang energi untuk sesuatu yang bisa kita sesali di kemudian hari.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar