0

Belajar Mendidik Anak dari Orang Tua Jojo (0)

AfanZulkarnain May 16, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Namanya Jojo. Bukan nama sebenarnya. Aku mengenalnya tiga tahun lalu. Dia siswaku. Anak yang cukup humoris. Kehadirannya di kelas seperti matahari yang memberikan keceriaan. Ada saja jokes yang ia lontarkan saat pelajaran, membuat suasana kelas menjadi tidak menegangkan.
Jojo adalah anak yang sederhana. Ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Demikian pula dengan pulangnya. Tak seperti anak lain yang diantar-jemput dengan mobil pribadi. Tampilannya juga selalu rapi. Untuk ukuran anak laki-laki, dia sangat bersih. Saat itu belum booming handsanytizer, karena belum pandemi, tapi Jojo selalu membawa barang tersebut.
Meskipun anak laki-laki, dia tidak gengsi membawa bekal. Aku pernah mengintip isi bekalnya saat jam istirahat. Makanan penuh gizi. Porsi karbohidrat, lemak, protein dan vitaminnya seimbang. Selalu ada buah dan susu setiap harinya. Ia tidak pernah jajan. Dia pernah cerita bahwa dia dilarang jajan sembarangan. Dia pun tak pernah membawa uang saku. Apabila ia membawa uang, pasti itu untuk membayar biaya sekolah atau iuran. Sebenarnya dia anak dari keluarga yang mampu. Itu kata rekan kerjaku. Aku sendiri tidak pernah tahu hal itu.
Aku baru mengerti kondisi sebenarnya setelah ia meminta remidial atas nilainya yang kurang memuaskan. Aku memberinya lima buah soal beberapa saat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Ia mengerjakan dengan tenang. Tanpa suara.
Jojo termasuk anak yang tidak terlalu menonjol di pelajaran matematika. Tapi yang aku suka, dia anak yang tekun. Kalau ada yang tidak ia pahami, pulang sekolah ia menyempatkan menemuiku untuk bertanya. Dia juga cukup kritis, apabila aku membagikan kertas hasil ulangan, ia selalu bertanya, “Kenapa nilai saya seperti ini,Pak? Kesalahan saya dimana? Bagaimana cara Bapak mengkoreksi dan menilai pekerjaan saya?”
Setelah aku beri tahu, ia akhirnya mengerti. Jojo adalah satu-satunya anak yang nilainya belum memenuhi standart minimal. Lalu dengan tegas dia mengatakan, “Pak, saya ingin perbaikan. Saya ingin remidial.”
Aku mengabulkannya. Tapi aku hanya bisa memberikannya program perbaikan setelah jam pulang.
Sekolah sudah mulai lengang. Hanya tersisa aku dan Jojo yang masih mengerjakan soal. Langit yang mendung, mendadak menurunkan hujan. Cukup lebat. Sampai Jojo merampungkan remidinya, tak ada tanda hujan berhenti.
Beberapa kali ia melirik jam tangannya kemudian menerawang melihat langit yang masih dipenuhi awan kelabu. Mungkin dalam hatinya berdo’a agar hujan cepatlah reda. Sementara tangan kanannya beberapa kali mengelus perut. Ah…mungkin dia kelaparan. Aku menawarkan bakso, namun dia menolaknya. Tidak boleh jajan sembarangan, begitu alasannya. Aku pun sempat menawarkan tumpangan, karena aku memiliki dua buah jas hujan. Tapi dia menolak. Alasannya, tak mau merepotkan.
Aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Aku memilih untuk menemaninya. Kami mengobrol banyak hal, dari anime hingga game yang saat itu populer.
“Pak, sepertinya saya mau hujan-hujanan saja.”
“Jangan, nanti kamu sakit. Saya antar,ya.” Aku kembali menawarinya.
“Tapi, saya gak mau merepotkan orang lain.”
“Tidak usah sungkan. Saya tidak keberatan. Kalau kamu sakit karena kehujanan, itu malah yang akan merepotkan”
Akhirnya ia mau menerima tawaranku. Kami pun mengenakan jas hujan kemudian motorku menerobos hujan. Ia menunjukkan arah menuju rumahnya. Cukup jauh. Selang lima menit, kami sampai. Sebuah rumah besar di kompleks perumahan elit.
Kami disambut oleh mamanya. Seekor anjing mungil juga menyambut kami. Menyalak cukup keras saat melihatku. Mengetahui aku cukup takut dengan binatang itu, Jojo langsung menggendong anjing tersebut dan membawanya masuk.
Secangkir teh yang disuguhkan, membuat kehangatan sedikit menjalar keseluruh tubuh, mengusir rasa dingin setelah diterpa hujan. Mamanya Jojo amat ramah. Beliau bercerita banyak hal, termasuk tentang caranya mendidik putra semata wayangnya itu.
“Saya ingin dia jadi anak yang sederhana, Pak. Rendah hati. Tidak sombong dengan apa yang ia miliki. Makanya saya minta dia berangkat sekolah dengan jalan kaki. Pulangnya juga. Agar dia bisa membaur dengan teman-temannya. Katanya banyak temannya yang berjalan kaki.
Saya juga mendidiknya untuk disiplin. Apalagi jika berkaitan dengan uang. Sedari kecil saya menanamkan padanya bahwa mencari uang itu sulit, sedangkan menghabiskannya itu mudah. Makanya, saya melarangnya jajan sembarangan. Saya memilih membawakannya bekal yang bergizi.
Setiap hari, saya memberinya uang saku, tapi tak dibawa ke sekolah, dia masukkan ke celengan. Setiap sore pun ia selalu saya ajak ke toko. Saya ajari dia melayani pembeli dengan ramah. Bagaimanapun dia adalah penerus usaha kami, dia harus dipersiapkan. Sedikit demi sedikit.”
Aku mendengarkan cerita beliau dengan takzim sembari melihat sebuah foto keluarga yang terpajang di ruang tamu. Cukup besar. Tampak Jojo tersenyum lebar didampingi kedua orang tuanya.
Keluarga Jojo hari itu mengajariku banyak hal. Salah satunya tentang pentingnya mendidik kesederhanaan, kedisipilinan dan kemandirian kepada anak sedari kecil. Meskipun terkesan keras, tapi akan sangat bermanfaat untuk membentuk karakternya di masa depan.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar