2

Belajar dengan Bertanya (0)

Imran Muliadi October 18, 2020

Ujung akal adalah pikir katanya Hamka. Tanda mereka yang berpikir adalah bertanya. Semakin canggih pertanyaan itu maka bisa dipastikan proses berpikir mereka pun tidak sederhana.
Dengan kata lain sepertinya jauh lebih mudah memberikan jawaban. Dibandingkan dengan membuat pertanyaan.
Bahkan Voltaire seorang filosof dari Perancis sejak 4 abad yang lalu sudah menekankan hal tersebut. Nilailah seseorang dari pertanyaan bukan jawaban.
Hal ini berbeda kemudian dengan kebiasaan kita kebanyakan. Keberhasilan pendidikan diukur dari beberapa butir jawaban. Jika mereka menjawab benar maka bisa dikatakan lulus dalam satuan pendidikan.
Hal ini secara sederhana mengesampingkan rangkaian proses belajar dan pembelajaran. Dimana belajar itu sesungguhnya adalah membentuk manusia yang seutuhnya.
Pendidikan itu membakar api bukan mengisi bejana katanya Socrates. Bertanya adalah bukti peserta didik itu telah terbakar.
Pandemi ini merubah banyak hal dalam hidup dan kehidupan. Pun termasuk juga dalam bidang pendidikan. Pada saat peran guru hampir digantikan secara totalitas oleh media teknologi digital.
Dalam setiap perubahan baru dalam kehidupan. Terdapat dua sisi mata uang yang tak pernah terpisahkan. Ada rangkaian kebermanfaatan dan barisan kerugian.
Pada saat serbuan arus informasi datang bertubi-tubi. Siapakah yang akan mengendalikan. Mampukah orang tua. Sanggupkah guru. Disini peserta didik berekspresi dengan liar. Bahkan kemampuan dan hasrat mereka bertanya. Bisa dengan mudah tersalurkan. Ada media pencarian atau search engine. Ada forum diskusi. Ada media berbagi dan sebagainya.
Apakah murid akan menjadi lebih cerdas dari gurunya. Ataukah mereka akan menjadi semakin tidak bisa dikendalikan.
Inilah sekelumit kecil tentang belajar saat pandemi. Belajar dengan media digital. Pada saat peserta didik diwajibkan menjawab pertanyaan. Semudah mengetikkan beberapa karakter dalam layar gadget mereka. Hanya membuat beberapa jari menari di layar gawai mereka. Jawaban itupun sudah tersedia.
Akankah mereka menjadi manusia yang seutuhnya. Mampukah mereka menjadi manusia yang merdeka akal dan pikirannya. Bisakah mereka peka akan kondisi lingkungan sekitarnya. Bisakah mereka peduli kepada bangsa dan negaranya.
Semoga hal tersebut menjadi bagian dari pertanyaan dalam jiwa mereka yang terdalam. Sehingga ada maupun tidak adanya guru yang mengarahkan secara langsung. Mereka tetap akan mencari jati diri mereka sendiri.
Pandemi ini mengajarkan kita semua untuk bisa berubah. Bisa beradaptasi dengan zaman dan teknologi. Jangan sampai kita terlena dengan nostalgia puluhan tahun silam. Kita lupa hidup di zaman digital. Bukan berarti harus update terus menerus. Tidak. Bahkan kita harus bijak menyikapi segala perubahan zaman.
Dimana sekolah sudah tidak lagi dibatasi oleh dinding tinggi dan tembok yang besar. Tidak lagi eksklusif. Bahkan bisa jadi sangat inklusif dan terbuka.
Zaman ini adalah kreativitas. Dimana ada kesempatan yang sama bagi siapa saja. Bahkan peranan sekolah bisa menjadi tergantikan dengan mudah. Jika tidak berbenah. Selamat datang revolusi pembelajaran berbasis teknologi. Terima kasih pandemi. Telah mengajarkan kepada kami. Kami harus berubah dan beradaptasi. Lebih akrab lagi dengan sains dan teknologi. Membuat kami terus bertanya dan tidak berhenti untuk belajar.

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (2)

  1. Selamat Malam 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar