7

Belajar dari Covid-19 (0)

Pela Indrayanih September 28, 2020

Kalau bapak menteri mengambil ibroh belajar dari covid dari sisi teknologi saya akan membahas dari sisi urgensi pendidikan dikembalikan pada tanggung jawab sekolah dan keluarga. Saya pribadi semakin menyadari pentingnya lembaga pendidikan dibangun, didirikan serta selalu berkembang dari zaman ke zaman. Saya semakin menyadari bahwa kami orang tua tidak lebih baik menjadi pendidik terutama untuk anak anak kami Saya menyadari harus lebih banyak muatan sabar dalam mendidik anak anak kami. Saya menyadari orangtua tidak salah menitipkan sebagian waktu anak anak mereka untuk dididik dengan pribadi-pribadi guru yang amat memiliki muatan kesabaran yang besar dalam menunggu anak-anak untuk memahami ilmu yang diterimanya. Saya sebagai orangtua semakin menyadari bahwa dengan ikut terjun langsung kita mendidik anak anak kita sendiri, kita merasakan bagaimana menjadi guru, yang mendidik lebih dari satu individu, tanpa menjustifikasi anak anak kami. Saya sebagai orang tua menyadari betapa sulitnya menanamkan kepahaman sebuah materi agar bisa diserap dengan baik dengan penuh keikhlasan dan ketawaduan yang nanti terpancar pada anak anak kami. Saya semakin menyadari mengajak anak sharing tentang kewajiban utamanya yakni bertakarrub kepada sang khalik lebih penting yang nanti nya akan melahirkan kesadaran anak tentang menjalankan kewajiban sebelum menuntut hak. Saya semakin menyadari pendidikan tanpa dua arah ini akan melahirkan generasi cacat, yang kurang siap menghadapi masa depan mereka kelak.

Di samping sekolah mengisi ruang kosong pada fikiran dan hati anak anak kita, ada ruang yang tidak bisa kita serahkan sepenuhnya pada sekolah. Karena dasar pendidikan benar terletak pada keluarga. Mari kita lengkapi ruang kosong tersebut sehingga anak anak kita tidak lagi malu ketika kita sedang berada pada posisi di bawah dan tidak congkak serta menghina ketika kita berada pada posisi di atas. Tidak hanya orang tua, kami pun guru banyak mengambil pelajaran dari masa pandemik ini. Bagaimana berinovasi, bagaimana inti dari sebuah ilmu sampai dengan baik pada anak. Mulai dari mencoba hal yang paling bisa kami gunakan dengan memberikan tugas via pesan watsapp. Hingga belajar membuat video melalui kinemaster, yang membutuhkan ekstra kreativitas, waktu dan ide yang cukup menyita. Sehingga az screen menjadi tempat persinggahan kami untuk menjelaskan slide yang sudah kami siapkan. Kemudian jamboard sambil menjelaskan secara ‘live’ namun berujung pada sebuah rekaman papan putih dan spidol hitam yang saya upload pada YouTube dan benar seperti yang dijelaskan oleh salah seorang pembicara seminar bahwa “teknologi tercanggih yang kita miliki adalah teknologi yang ada di sekitar kita yakni teknologi yang kita buat sendiri”. Bagaimana kami guru terus belajar mencari media yang efektif dan efisien sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Di samping media, ada pula penilaian yang terus menerus kami gali, kami berinovasi dan kami perbaiki karena masa PJJ sulit untuk menilai secara objektif apakah tugas tersebut benar benar “bauh karya yang jujur” yang dikerjakan oleh anak itu sendiri? Setelah penilaian kamipun belajar bagaimana membangun kedekatan kami yang tanpa bertemu, membangun kepercayaan, tanggung jawab serta kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa disentuh, digenggam dan bisa dikerjakan anak anak kami. Tanpa beban tanpa paksaan melainkan kesadaran. Karena mendidik tidak hanya transfer knowledge namun juga transfer akhlak yang tidak anak-anak dan kita temui pada laman Google. Dan terakhir, siswa akan belajar betapa pentingnya memanfaatkan waktu luang, betapa pentingnya nikmat sehat, betapa pentingnya bersosialisasi, menanamkan betapa ilmu itu. Kita yang butuh maka kita yang cari, datangi dan kejar. Seperti yang telah kalian lakukan pada masa pandemik. Kami tahu siapa di antara kalian yang butuh dan haus ilmu. Nak… Allah sedang menguji kita semua, antara kesabaran dan keikhlasan kita, mana yang lebih lama bertahan. Semoga kita semua bisa melewati masa sulit ini dengan karya kita masing-masing. Semangat terus buat seluruh guru di Dunia khususnya di Indonesia. Negara kita tercinta.

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (7)

  1. Selamat sore Ibu. Pela 😉
    terima kasih atas partisipasi Ibu di Guraru Writing Competition 2020.

    Kami ikut merasakan bahwa PJJ membuat rekan-rekan guru terus-menerus menggali dan belajar mencari media yang efektif dan efisien juga banyak sekali penyesuaian sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Cerita dan sharing Ibu Pela kali ini menambah ilmu kita dimana kesabaran dari para tenaga pendidik di Indonesia sangat penting dan berpengaruh bagi proses belajar mengajar.

    Semangat terus Ibu Pela, dalam menanamkan ilmu kepada anak murid Ibu. Bagaimana rekan guraru-ers lainnya ? kami tunggu cerita dan sharing selanjutnya dari Ibu Pela dan rekan guru lainnya 😉

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar