0

Behaviorisme dan Perlindungan Guru (0)

Fitri pamulatsih March 4, 2020

Behaviorisme dan Perlindungan Guru

Umumnya banyak guru yang sering mengeluhkan keadaan kelas di mana siswa suka membuat kegaduhan. Kegaduhan itu bisa berasal dari suara siswa yang mengobrol, siswa yang berkejaran di kelas, dan siswa yang beradu fisik dengan siswa lain (misalnya saling dorong). Keadaan ini membuat guru harus selalu mengingatkan siswa berkali-kali dan tidak jarang guru cenderung melakukan kekerasan verbal maupun nonverbal.

Contoh kasus yang terjadi adalah rekan sejawat saya. Beliau guru senior yang hampir pensiun sering mendapat teguran tidak menyenangkan dari wali murid karena dianggap terlalu galak. Beliau akan memaki siswa jika sedikit saja membuat gaduh dan tidak mengerjakan tugas dengan benar. Berkali-kali ditegur tidak membuat beliau memperbaiki sikapnya. Perilaku memaki memang tidak dibenarkan, namun ada cara kreatif untuk mengurangi bahkan menghilangkan perilaku memaki, yaitu menerapkan teori behaviorisme dari Guthrie.

Guthrie menjelaskan bahwa pembelajaran terjadi melalui pemasangan stimulus dan respons (Shunck, 2012). Guthrie menyakini bahwa perulangan sebuah situasi akan menambah gerakan, mengkombinasikan gerakan-gerakan menjadi tindakan, dan membentuk tindakan dalam kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk menyalurkan energi siswa di kelas adalah melatih siswa melakukan tindakan produktif pada situasi-situasi di mana perilaku tersebut dibutuhkan (pada waktu luang/ selesai mengerjakan tugas). Guru menyiapkan kotak bertuliskan “I AM DONE” yang berisi beberapa stik es krim yang bertuliskan tugas/tindakan yang harus diambil siswa setelah selesai mengerjakan tugas guru. Tindakan produktif dilakukan secara bervariasi sesuai pilihan siswa.

Guthrie (dalam Shunck, 2012) menyatakan bahwa organisme (dalam hal ini siswa) hanya akan memproses secara efektif pada sebagian kecil dari stimuli yang dihadapinya, dan selanjutnya proporsi inilah yang akan diasosiasikan dengan respons. Pernyataan Guthrie ini menjadi dasar siswa boleh memilih tugas dari kotak yang ingin ia kerjakan. Kotak berisi tugas ini dapat membantu siswa menyalurkan energinya untuk melakukan kegiatan produktif. Tindakan-tindakan yang tertulis pada stik es krim yaitu menggambar bebas, menulis diary, menulis cerita, menulis puisi, menggubah lagu, dan membuat kerajinan tangan.

Tugas-tugas di dalam kotak memanfaatkan gerakan-gerakan lincah dari siswa untuk melakukan tindakan produktif. Contohnya gerakan membuat pola/gambar dihubungkan dengan gerakan mewarnai pola/gambar. Gerakan mewarnai pola/gambar dihubungkan dengan gerakan memotong pola/gambar yang sudah diwarnai. Terakhir, gerakan memotong pola/gambar yang sudah diwarnai dihubungkan dengan gerakan menempel pola/gambar di kertas. Gerakan yang saling terhubung ini menghasilkan tindakan produktif membuat kerajinan tangan yang dapat mengurangi kegaduhan. Tindakan-tindakan produktif seperti ini harus sering dibiasakan/dilatih setiap hari dalam situasi-situasi yang persis di mana tindakan-tindakan produktif diperlukan. Pembelajaran kontiguitas menurut Guthrie (dalam Shunck, 2012) bermakna bahwa sebuah perilaku dalam sebuah situasi akan diulang ketika situasi tersebut muncul kembali. Harapan guru adalah tindakan-tindakan produktif ini secara mandiri dilakukan siswa walaupun guru/wali kelas tidak mengawasi atau tidak ada di kelas atau ketika kelas diisi guru lain.

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan teori behaviorisme Guthrie berhasil baik di kelas 3A. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya kegaduhan yang dibuat siswa, munculnya regulasi diri siswa, bahkan potensi/bakat terpendam siswa bisa diketahui (misalnya ada siswa yang memiliki bakat seni). Selain itu, pengurangan hukuman dan penggantian hukuman atas kesalahan siswa, membuat siswa tidak merasa takut pada guru, sehingga siswa tetap memiliki motivasi belajar tinggi di sekolah. Uraian ini juga menjadi salah satu jawaban atas permasalahan kegaduhan siswa. Ini menunjukkan bahwa ada banyak cara kreatif yang bisa dilakukan guru untuk meredam atau mengurangi kegaduhan siswa tanpa melibatkan kemarahan guru. Akibat lain adalah melindungi guru dari protes wali murid.

DAFTAR PUSTAKA

Schunk, Dale. 2012. Learning Theories Edisi 6 (Terj). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

408 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar