0

BANGSALAE (0)

@ahysholih February 2, 2022

Uhuk uhuk uhuk, terbatuk-batuk aku tak kuasa menahan cobaan kurang sehat dari yang Maha Kuasa. Mungkin ini salahku, menikmati sejuknya pagi kemarin tanpa perisai yang memadai.

Ba’da subuh, selepas berjamaah saudara ipar ngajak jalan bersama seorang tetangga. Insyaa Allah, jawabku basa-basi. Mengajar lagi ya, selorohnya setelah ajakan pigi mancing sebelumnya aku tolak dengan jawaban tersebut. Ah, ndak semalam aku liat status teman fb yg rada kecewa sbb ga’ teliti lihat tanggal sehingga hari ini dia luangkan untuk mengajar, padahal job nyanyinya lagi rame-ramenya. Kebetulan tanggal merah libur imlek, tahun baru etnis tionghoa.

Menyiram tanaman meski ga’ rutin mengisi pagi terinterupsi suara motornya, tetangga yg janjian tadi. “Beliau nelpon, berangkatnya agak pagian ada juga urusan lain katanya”, teriaknya padaku yang buru-buru menyelesaikan aktifitasku bersegera masuk mengganti kostum.

Sejurus kemudian sampailah kami di rumah beliau, disambut senyum dengan seragam sporty langsung diangkatnya bekal seadanya di baskom ukuran sedang berisi air dalam wadah air mineral ukuran besar.

Wah, sayang pancingnya ga’siap satunya, Tali senarnya ngejelimet gapapa kan. Aku terdiam, bagiku ikut mereka ya Alhamdulillah, daripada melewatkan liburan di rumah saja.

Mobil yang kami tumpangi melaju perlahan membelah jalanan beraspal, beragam cerita selama perjalanan sekedar mengusir kebosanan. Singgah sejenak di pasar Siwa, pasar terbesar kedua di daerahku. Sehingga wajar jika wilayah ini terkenal dengan kemakmurannya. Segala fasilitas nyaris tersedia.

Setelah membeli kandoang, udang mentah untuk umpan. Beliau masih sempat melirik setandan pisang di pintu masuk. Rejeki ga kemana bagi si penjualnya.

Tiba di pelabuhan yang melayani penyeberangan Siwa-Tobaku pulang pergi Sulsel ke Sultra tersebut menjumpai tak sedikit penumpang yang merapat menunggu naik ke kapal yang kelihatan sibuk menurunkan beban muatannya.

Tanpa banyak cas cis cus, kami berjalan menuju spot memancing tak resmi tak jauh dari dermaga dimana kapal bersandar.

Ternyata aku kebagian alat pancing sederhana dari besi ringan mirip alat pancing dari bambu ketika aku masih seusia SD dulu. Segera kupasang umpan & melempar kail ke lautan lepas.

Ombak yang memainkan tirta sepertinya memaksa yang dipancing ogah mendekat. Seorang calon penumpang disapa dengan penuh keramahan oleh Kakak ipar, dari Obrolan mereka aku dapat info gratis, Dia dari Bantaeng, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang sempat dipimpin oleh Bupati yang visioner yang kemudian ditakdirkan menjadi Gubernur, beliau Bapak Nurdin Abdullah.

Mengobrol akrab dalam bahasa Makassar sebab Kakak Ipar asli Bulukumba, Bumi Panrita Lopi, daerah penghasil kapal Pinisi yang famous hingga mancanegara. Daerah Tujuan Wisata kedua ternama di Sulsel tersebut memang didiami beragam etnis. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Suku Kajang yang memilih hidup seperti Suku Badui di Jawa Barat.

Dari pembicaraan mereka, aku tahu kenalan baru kami itu bekerja di pembibitan tanaman produktif semacam mangga & sejenisnya. Dia tak sendiri melainkan bertiga dengan teman sedaerahnya yang berprofesi sama dengannya hendak menyeberang dengan durasi sekitar 3 jam via Bangsalae, pelabuhan di Siwa ini. Kalau lewat Bajoe di Bone harus memakan waktu 7 jam, ungkapnya.

Suasana pagi yang sejuk dengan mentari pagi yang malu-malu menampakkan dirinya membuat betah meski sejak tadi mata kail kami belum mendapat satupun mangsa. Alhamdulillah, sekitar setengah sembilan lewat kami meninggalkan tempat tersebut, beralih ke destinasi selanjutnya singgah di Jalan Andi Kollo, menemui sejawat kakak ipar.

Pulang dari sana, Beliau berinisiatif mengajak kami ke Warung Coto langganannya di Atapange, cukup jauh dari keramaian kota kecil di Majauleng tersebut, kecamatan yang identik dengan kelahiran Kerajaan Wajo yang kini berstatus kabupaten dengan nama yang sama. Ending yang memuaskan, setelah berlapar-lapar sejak pagi, Alhamdulillah perut terisi dengan kuliner kenamaan asal SulSel tersebut ditemani dengan beberapa ketupat mini sebagai karbohidratnya.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar