6

Balada Bu Guru Ratih (0)

Tantri January 16, 2021

Bu Ratih merupakan lulusan sebuah perguruan tinggi di kotanya. Dulu dia tidak terpikirkan untuk menjadi seorang guru. Dia ingin menjadi seorang akuntan kantor-kantor. Namun karena suatu hal ketika selesai kuliah dia ingin mendaftar jadi guru di sebuah sekolah. Dan ternyata diterima.

Karena sebelumnya tidak pernah belajar tentang menjadi seorang guru. Bu Ratih  tentu punya banyak ketidaktahuan tentang profesi guru. Dan jika dibandingkan dengan teman-temannya yang merupakan lulusan pendidikan guru maka dia banyak ketinggalan.

Awalnya memang canggung. Satu dua kali Bu Ratih mengalami kekeliruan saat mengajar ataupun memenuhi kewajiban administrasinya sebagai pengajar.

Dia juga sudah banyak membaca di internet ataupun buku-buku. Namun dirasakannya masih banyak yang kurang. Belum lengkap benar bertanya sebagai guru lalu apa yang mesti dilakukannya.

Dia sadar bahwa ada satu lagi langkah yang bisa dilakukannya. Dia harus banyak tanya kepada guru senior. Ya meskipun tidak ada senior atau junior dalam guru tetapi dia menganggap bahwa temannya yang lebih dulu menjadi guru merupakan seniornya baik itu usianya lebih tua maupun lebih muda. Dan ia menganggapnya sebagai seniornya. Menganggapnya sebagai sumber ilmu untuk belajar.

Sejak saat itu Bu Ratih tak malu lagi bertanya kepada guru baik guru laki-laki atau perempuan. Dia belajar banyak hal tentang pedagogi, tentang cara mengajar yang baik, mengenal dan memahami berbagai metode pengajaran, strategi strategi pembelajaran, penilaian dan pemenuhan administrasi guru termasuk pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Banyak hal baru bagi Bu Ratih. Awalnya memang dia begitu berat untuk belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di kampus. Akan tetapi demi kemajuan profesinya sebagai guru, demi membawa memberikan hal yang terbaik kepada peserta didik maka dia memaksakan diri berjuang untuk menguasai berbagai hal itu.

“Bu Ratih, jangan sungkan-sungkan bertanya. Kita juga masih sama-sama belajar kok,” cetus Bu Susi di suatu siang di ruangan guru. Meja mereka berdekatan satu sama lain. Jadi mereka bisa sambil ngobrol sama sekalian belajar.

“Iya Bu Susi. Mohon bimbingannya ya saya awam banget nih,”

“Ya semua orang juga mulai dari nol, Bu. Bisa jadi bu Ratih nantinya malah lebih pintar daripada kami,”

“Enggak kok Bu. saya nggak mau melancangi teman-teman di sini. Saya menganggap teman di sini guru saya.”

Hari berganti hari bulan berganti pekan. Dia kini tak lagi canggung saat mengajar. Semakin matang karakter dan pengetahuannya pun semakin meluas. Namun Bu Ratih tetap belum puas. Dia masih terus belajar belajar banyak hal dari internet buku dan banyak diskusi dengan para guru.

Jika ditanya apa hal yang paling berat dalam menjalankan profesinya sebagai guru, Bu Ratih menjawab kemampuan pedagogik seorang gurulah yang menurutnya paling berat. Bagaimana seorang guru harus memahami kepribadian seorang siswa dan cara membimbingnya.

Itulah yang yang menurutnya paling susah karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda sehingga dia juga harus mampu memahami dan membimbingnya

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar