0

Baku Mutu Kualitas Air (0)

Wahid Priyono, S.Pd. February 13, 2021

Dalam penentuan mutu air yang kita minum sehari-hari, kita perlu mengetahui lebih dalam bahwa air yang dikonsumsi harus bebas dari bakteri yang berbahaya dan ketidakmurnian secara kimiawi. Untuk mengetahui apakah air yang kita konsumsi layak dikonsumsi atau tidak, alangkah baiknya kita mengetahui beberapa syarat/kreteria air yang baik bagi kesehatan, seperti:

(a). Kriteria Secara Kimiawi (Kemis) Dan Fisik

Analisa secara kimiawi dalam pengujian persediaan air bersih sangatlah berguna dalam banyak hal. Sehubungan dengan persediaan air melalui pipa, perhatian banyak ditujukan pada pencarian dan perkiraan adanya bahan-bahan kimia yang bersifat racun dan beberapa bahan yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyediaan air pipa (piped water).

Karena air begitu penting untuk kehidupan, kita harus memikirkan sumbernya dan lingkungan kita untuk menghindari adanya malapetaka. Kita harus menjaga sumber air itu jangan sampai terkontaminasi oleh zat-zat berbahaya dan polutan. Polutan yang terbawa air dapat menghancurkan sel-sel dalam tubuh kita.

Sangat disayangkan adanya kenyataan bahwa air yang didesinfeksi dengan bahan kimia menyebabkan orang menderita sakit. Dalam artikel ”Chlorine-The Chemical” di New York Newsday, 19 Juni 1995 disebutkan bahwa: Klorin yang digunakan di New York City untuk membunuh organisme dalam air minum, ternyata juga dapat mengancam kesehatan.

Suatu studi mengungkapkan bahwa penggunaan air yang mengandung produk klorin pada bahan alami seperti daun-daunan dan ranting-ranting menyebabkan kanker rektal dan kandung kemih, spina bifida dan anensefali.

Bahaya produk dari klorin seperti trihalometan (THM), telah menimbulkan pertanyaan apakah cara yang digunakan di New York City untuk mendesinfeksi kuman dalam air sudah aman. Sebagai contoh THM merupakan kloroform yang sering terdapat dalam air minum.

Problem air minum dari sistim publik tidak eksklusif untuk New York City saja. Untuk kita semua, dimanapun kita tinggal, kita rentan terhadap polutan yang mencemari lingkungan. Jika lingkungan kita bersih, kita tidak perlu memerlukan zat kimia lagi untuk menjaga kualitas air kita.

(b). Kreteria Bakteriologis

Organisme merupakan petunjuk adanya pencemaran kotoran (faeces). Bahaya terbesar sehubungan dengan air minum adalah bila air tersebut telah tercemar oleh bahan buangan atau kotoran manusia (tinja). Bagi penduduk yang bermukim di sekitar air sungai, umumnya mereka membuang kotoran tinjanya secara sembarangan di sepanjang aliran sungai. Bagi penderita disentri atau demam usus, air tersebut mungkin mengandung bibit-bibit penyakit yang masih hidup. Meskipun metoda-metoda modern telah memungkinkan penemuan bakteri-bekteri penyebab penyakit tersebut di dalam saluran pembuangan dan saluran terusan dari pembuangan. Biasanya untuk mengetahui jenis bakteri apa yang terkandung di dalam air, seorang peneliti menggunakan uji koliform untuk mengetahui keberadaan bakteri jenis apa yang mungkin saja mencemari sampel air yang akan diuji.

Uji coliform yaitu suatu uji coba yang dilakukan terhadap sampel air tertentu untuk mengetahui bahwa suatu sampel air mengandung mikroorganisme pathogen atau tidak. Uji ini dilakukan untuk melihat ada atau tidak adanya bakteri Eschercia colli yang hidup pada air tertentu. Uji coliform ada tiga teknik/tahap yang harus dilakukan yaitu diantaranya: uji penduga, uji penguat, dan uji pelengkap.

Pertama, uji penduga yaitu memperkirakan terlebih dahulu kira-kira bakteri apa yang terdapat pada sampel air yang akan diuji coliform tersebut. Dan yang kedua uji penguat yaitu kita sudah mengetahui bahwa di dalam sampel tersebut ada jenis bakteri A misalnya, maka kita selanjutnya dapat memperbanyak bakteri itu (isolasi bakteri) pada media air tertentu untuk memperoleh koloni-koloni bakteri secara lengkap (uji pelengkap).

Selain kreteria-kreteria di atas, air bersih yang belum tercemar oleh bahan-bahan lain, maka akan memiliki tampak/tekstur air yang bening, tidak adanya endapan/warnanya berubah akibat pencemaran air, tidak berasa dan berbau serta tidak mengandung bahan yang tersuspensi atau kekeruhan (termasuk bahan kimia di dalamnya).

Sumber Referensi Bacaan:

Pearce, Evelyn. 1990. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sajogyo,dkk. 1994. Gizi Baik yang Merata. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Santoso, Soegeng dan Anne L.R. 1999. Kesehatan dan Gizi. Jakarta: Rineka Cipta.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar