1

Bahasa Tulis Kita, Guru (0)

Urip Rukim October 18, 2020

Bahasa digunakan menyampaikan maksud agar dipahami lawan bicara. Dalam bahasa formal penyampaian bukan asal dipahami lawan bicara. Ada pakem, ada aturannya. Tidak sesuai aturan dianggap keliru. Bisa juga dikatakan tidak disiplin. Atau tidak peduli aturan. Belajar berbahasa formal sama dengan belajar disiplin.

Bagi guru yang pernah membuat karya tulis tahu betul bagaimana perjuangan ketika menulis karya berbentuk tulisan itu. Semakin terasa zaman dulu mengandalkan mesin ketik manual. Semua dikerjakan secara teliti dan sangat hati-hati. Menghindari salah ketik atau salah eja. Terutama tentang pemenggalan suku kata agar sesuai aturan. Kalau menggunakan aplikasi olah kata sudah tersedia proofing tools, membantu pengguna untuk menandai kesalahan penulisan. Sayang sekali ini belum semua diketahui banyak orang, bahkan guru.

Selain salah eja yang dapat ditandai otomatis, penulisan yang sering dijumpai keliru adalah penulisan kata kata depan di. Kekeliruan ini bisa saja dialami oleh semua kalangan, disengaja atau tidak, tahu aturan penulisan atau tak peduli. Kata depan selalu dipisahkan dengan kata yang diikutinya, sementara bila di- sebagai imbuhan ‘di’ harus digandeng, harus disambung, harus dirangkai, harus menempel pada kata yang diikutinya. Walau sudah tahu kadang siapa pun juga keliru, tapi ini bukan karena tidak tahu, tapi refleks untuk hal ini memang belum bagus. Untuk hal seperti ini memang belum ada alat yang dapat membantu mendeteksi pada aplikasi olah kata. Perlu sentuhan langsung yang menulis.

Ajang lomba seperti yang diselenggarakan Acer Guraru ini juga tampak guru masih ada yang kurang tepat dalam penulisan judul. Bila tidak mau repot buat saja tulisan dengan menggunakan huruf kapital. Kalau mau menggunakan kapitalisasi maka di sini perlu belajar lebih dahulu cara penulisannya. Seperti kata penghubung (seperti yang, dengan, dan lain-lain) bila tidak di awal kalimat judul harus ditulis menggunakan huruf kecil, bukan huruf kapital. Ini hal sepele tapi menandakan kita peduli dalam berbahasa tulis, kita guru.

Lalu apa hubungannya antara sebelum dan semasa belajar dari rumah (BDR) dengan topik tulisan ini? Semasa BDR guru banyak membuat tulisan, mengunggah video di kanal masing-masing. Semua menggunakan judul. Saya sering mengamati hal ini. Bila karya yang berjudul itu dibagikan ke grup yang saya ikuti, kerap saya berikan koreksi. Dengan bahasa yang cukup sopan, saya selalu menyarankan kalau tidak mau repot belajar aturan menulis judul, buat saja menggunakan huruf kapital. Ini paling aman. Kalau hendak tampak profesional mari belajar aturan Penulisan Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Tidak punya buku tentang aturan ini, buka saja tautan ini.

Mari kita jaga martabat guru dalam berbahasa tulis, termasuk berbahasa tulis di media sosial. Ini momen tepat menyimak kembali tulisan kita, mumpung masih bulan Oktober, bulan bahasa. Saling mengingatkan itu baik untuk sesama guru. Tolong ingatkan saya atau siapa pun yang kurang tepat dalam berbahasa tulis. Setiap orang bisa khilaf dalam menulis.

Salam sehat dari salah satu guru kimia di tepian hutan Borneo.
#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Sore 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar