6

Bahagianya Menjadi Guru (+5)

amalia May 21, 2015

Selamat pagi bapak dan ibu guru guraruers. Apa kabar ? Semoga semua guru di Indonesia selalu dalam keadaan baik, sehat dan selalu dalam lindunganNya.

Berapa banyak dari bapak ibu yang ada disini yang dulunya memang bercita-cita menjadi seorang guru ?

Hayo ngaku ? hehe… Kalau kita mau jujur, mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang memang benar-benar bercita-cita menjadi seorang guru. Penggambaran sosok guru yang jauh dari kehidupan mapan membuat sebagian besar dari kita malas untuk memilih guru sebagai profesi yang diinginkan. Sosok ‘Umar Bakri’, baju safari, sepeda kumbang mungkin hanya sebagian kecil dari keseharian guru yang bisa ditangkap oleh mata masyarakat umum dikala itu. Walaupun dalam perkembangannya, guru-guru sekarang sudah sedikit lebih mapan dibanding beberapa dekade yang lalu-seiring dengan semakin besarnya persentase anggaran untuk bidang pendidikan pada APBD maupun APBN- namun belum dapat menarik minat generasi penerus yang cerdas untuk memilih profesi ini sebagai penyokong perekonomiannya di masa depan karena profesi lain lebih menjanjikan.

Namun apapun profesi lain itu, tidak ada yang lebih membahagiakan saya selain profesi yang saya geluti sekarang ini. Saya telah berada disini, berkecimpung di dunia ini dan sekarang menyandang status sebagai seorang guru.

Selama menjadi guru, banyak hal yang saya pelajari, banyak hal yang menjadikan saya lebih dewasa dalam menjalani belantara kehidupan yang maha luas ini. Dan pembelajaran terbanyak adalah dari siswa itu sendiri dengan beragam perasaan yang campur aduk di dalamnya.

Mungkin perasaan haru adalah bagian terbesar dari yang saya rasakan dalam menjalani profesi guru. Siswa yang setiap harinya kita temui, memakai baju seragam yang sama-sama putih, bawahan yang sama abu-abu, sepatu yang sama-sama hitam, namun memiliki latar belakang yang berbeda, sehingga mereka mensikapi belajar di sekolah dengan reaksi yang berbeda pula.

Pernah saya dapati seorang siswa yang menjelang siang selalu mengantuk di kelasnya. Bahkan ia sudah sering dihukum akibat ulahnya itu. Namun ketika ditelusuri lebih lanjut, kita sebagai seorang guru tidak bisa serta merta hanya memberikan hukuman. Tidak ada api jika tidak ada asap. Dan benar saja, ketika ditanyakan pada siswa tersebut, ternyata ia mempunyai alasan dibalik tingkah lakunya itu. Ia selalu mengantuk karena ternyata ia tinggal di kota menumpang pada pamannya sedangkan Kedua orangtuanya tinggal di desa. Pamannya ini mempunyai kedai kopi yang dibuka hanya ketika malam saja. Untuk itu ia selalu membantu pamannya itu di kedai kopi sejak jam 8 malam sampai menjelang subuh, tidur sebentar untuk kemudian langsung pergi ke sekolah. Dan rutinitas ini dilakukannya setiap hari. Nah, bapak ibu guraruers bisa kan membayangkan bagaimana mengantuknya si siswa ini ? Saya kasihan melihat kondisinya ini karena ia sudah kelas 3 SMA, yang nota bene harus belajar ekstra untuk menghadapi ujian akhir. Namun jika keadaannya tidak berubah, maka sudah pasti ujian yang akan dihadapinya tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu saya berinisiatif untuk membolehkannya tidur sebentar selama 15 menit untuk mata pelajaran yang saya ajarkan. Biasanya ia memilih musholla sekolah sebagai tempat melepas kantuknya. Dan ternyata upaya ini berhasil, setelah 15 menit ia masuk lagi ke dalam kelas dengan kondisi yang lebih segar. Tentu saja hal ini menimbulkan pro dan kontra, namun saya lanjutkan saja. Toh ini jam pelajaran saya dan tidak mengganggu mata pelajaran lain. Hal itu berlangsung selama 1 semester sebelum akhirnya si siswa ini menamatkan sekolahnya. Pada saat mengambil ijazahnya, ia membawa kabar gembira bahwa ia diterima di perguruan tinggi negeri yang cukup bergengsi dan sangat berterima kasih dengan ilmu yang saya ajarkan. Sangat berguna, begitu ia menggambarkan pelajaran fisika yang saya ajarkan. Saking bergunanya, ia selalu membawa catatan fisika SMA nya ketika kuliah di PTN tersebut. Alhamdullilah …

Rasa haru yang lain hadir ketika saya yang seorang guru justru mengambil salah satu perilaku seorang siswi sebagai panutan. Siswi ini tidaklah pintar. Bahkan pada mata pelajaran yang saya ajarkan-fisika-ia termasuk siswa yang selalu remedi. Ia juga tidak cantik. Namun perilakunya sopan, supel dan karakter keagamaannya sangat kuat. Ia selalu berpuasa Senin dan Kamis. Sholat dhuha juga selalu dilaksanakannya. Ia juga selalu mau membantu teman maupun gurunya. Selalu bersemangat dan murah senyum. Duhai, orangtua dan guru ! karakter apalagi yang lebih diidamkan oleh kalian selain dari karakter tersebut di atas. Walaupun nilai mata pelajaran fisikanya kurang, namun bukan nilai fisika yang akan dibawa ke masyarakat nantinya. Saya sangat yakin, dengan tetap berpegang pada karakter tersebut, siswi ini akan sangat sukses di masa depannya. Aamiin ….

Selain rasa haru, hal terbesar lainnya yang saya rasakan sebagai seorang guru adalah rasa senang. Banyak hal yang mendatangkan kesenangan dari profesi sebagai guru.
Bukan rahasia umum lagi kalau guru bisa mempunyai hari libur yang sedikit lebih banyak dibanding PNS yang lain. Kalau siswa libur, guru pun pasti libur. Masa iya sih, siswa libur gurunya harus datang ? Terus, yang mau diajar siapa ? Hehe …

Hal selanjutnya yang membuat saya sangat menyenangi profesi guru adalah banyak menemukan hal-hal lucu pada ulangan, latihan atau catatan siswa.

Misalnya, ketika saya memeriksa soal seperti ini :
Seseorang menawari Anda sebongkah emas dengan massa 14,7 kg dengan harga murah. Karena ragu, Anda menimbangnya dalam air dan mendapati massa emas 13,4 kg. Jadi atau tidak jadikah Anda membeli emas itu ? Jelaskan alasan Anda secara matematis terhadap keputusan tsb ! Diketahui massa jenis emas = 19 300 kg/m3.

Jawaban siswa : “kalau saya sih yes !” Cukup mampu membuat saya tersenyum-senyum sendiri, walaupun setelah dihitung dengan benar jawaban si siswa itu salah.

Atau ketika memeriksa catatan siswa. Pernah saya dapati catatan seorang siswa pada bab listrik dinamis. Yang diminta digambarkan pada catatan adalah alur atau jalannya listrik dari PLN sehingga sampai ke rumah tangga sebagai konsumen. Seharusnya alur tersebut seperti ini : PLN-trafo step up-kabel transmisi-trafo step down-rumah tangga. Nah untuk siswa yang ‘kreatif’ alur tersebut tidak berakhir pada gambar rumah. Dibelakang rumah ia gambarkan anak main layangan, bapak-bapak main gaple di pos ronda dan ibu-ibu yang mengerumuni tukang sayur. Cukup sukses untuk membuat saya tersenyum.

Selain dari catatan, ulangan maupun PR, tingkah polah siswa di kelas juga kadang-kadang cukup menghibur. Pernah saya meminta siswa untuk membuat PR menggubah lirik lagu favoritnya menjadi lagu bertema bab-bab tertentu dalam pelajaran fisika. Sebelum mereka mengerjakan tugasnya ini, saya berikan contoh lagu yang sudah digubah liriknya yang diambil dari lagu daerah setempat seperti pada video berikut :

Setelah siswa menggubah lagu favoritnya, mereka diminta untuk menyanyikannya ke depan kelas secara individual. Dan saya mendapati aneka ragam hasil dari PR tersebut. Ada siswa yang nilai fisikanya selalu baik, tapi ternyata tidak punya bakat sama sekali di bidang seni alias lebih baik tidak usah menyuruhnya menyanyi. Adapula siswi yang terlihat kalem tapi ternyata hobi dan dapat menyanyi lagu cadas dengan baik. Ada juga siswa yang biasanya selalu remedi pada pembelajaran fisika, namun ketika disuruh menyanyi lagu bertema fisika malah minta untuk dapat menyanyi tidak hanya satu lagu, namun dua lagu sekaligus. Teriakan ‘huuu’ dari teman sekelas pun tidak ia hiraukan. Ia tetap menyanyikan lagu kedua dengan semangatnya. Kalau sudah begini, guru mana yang bisa menahan senyum.

Ah.. Siapa sangka profesi yang dicap kurang menjanjikan ini dapat membuat hidup saya menjadi begitu dinamis. Hari-hari seorang guru tidak akan pernah monoton. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini dapat memotivasi generasi cerdas untuk mau memilih guru sebagai profesinya di masa depan, karena kemuliaan seorang guru bukan hanya ada di dunia tapi juga di akhiratNya kelak.

Ditulis oleh : Amalia, M.Pfis

Penulis adalah Guru Fisika di MAN 1 Palembang

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (6)

  1. @ Pak Umar Tholib dan Pak M. Subakri … Jadi malu nih, di vote up sama petinggi-petinggi di sini (blush mode on.. 🙂 )

    Masih mencoba belajar terus Pak , terutama pada guru-guru senior seperti bapak.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar