6

Bagaimana kalau ilmu yang kita sampaikan salah? (+7)

Bu Etna @gurutematik February 21, 2014

Selamat Pagi Guraru. Ketika ada siswa yang bertanya tentang kebenaran suatu ilmu yang diperoleh dari guru, apakah Guraru akan meralat jika ilmu tersebut ternyata salah? Guraru merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan ilmu yang benar. Begitukah yang akan Guraru lakukan? Atau Guraru akan membenarkan ilmu yang salah itu? Seandainya Guraru sendiri suatu saat menyampaikan ilmu yang salah kepada para siswa, apakah Guraru segera meralatnya ketika ingat atau diingatkan oleh siswa? Mungkin siswa itu mengingatkannya langsung di kelas ataupun di luar kelas.

Saya pernah seperti itu. Suatu ketika mengajar dalam keadaan kurang siap. Eh ternyata apa yang saya katakan, berbeda dengan apa yang saya tuliskan di papan. Ada siswa yang mendekati saya dan mengatakan kalau apa yang saya katakan salah, namun tulisan di papan sudah benar. Tadinya saya tak percaya, sebab kebetulan yang menegur saya itu anak yang sering kurang perhatian pada pelajaran dan nilainya pas KKM. Untungnya saya bertanya kepada siswa yang lain dan banyak yang mengiyakan. Saya meminta maaf dan sekaligus mengatakan bahwa mereka dapat menegur saya, bahkan segera saja jika suatu saat terjadi kesalahan lagi.

Sejak kejadian tersebut di atas saya lebih berhati-hati. Saya selalu belajar sebelum mengajar, lama kelamaan menjadi terbiasa. Rasa dahaga muncul ketika saya tak menyisihkan waktu untuk belajar. Saya harus selalu belajar untuk mengajar. Harus membaca, menulis, membaca, dan menulis. Apa yang terjadi kemudian? Tak disangka, siswa saya bernama Totok Amin lulus sekitar tahun 79. Beliau telah membawa nama sekolah dan nama saya (#Ehmm GR) ketika kuliah di ITB Kimia. Nilai kimia teori/praktiknya terbaik. Beliau ditanya oleh dosennya Bpk. Hiskia Achmad yang terkenal killer: “Dari SMA mana dan siapa guru kimia Anda?” Langsung dosen tersebut menilpun kepala sekolah dan meminta ijin agar saya mengikuti tes menjadi instruktur. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Hadiah dari Allah SWT tak berhenti di situ saja, kemudian saya belajar mengajar di Malaysia, di sekolahkan ke Inggris dan Australia, dst-nya. Ketika menjadi instruktur nasional, sering berkeliling ke pelosok-pelosok Indonesia. Allahu Akbar, sungguh luar biasa. Pak Totok sekarang sudah menjadi Guru besar. Terima kasih banyak prof. Hiskia dan prof. Totok.

Guraru, saya getol sekali bergabung dengan Guraru dan Insya Allah terus berkarya hingga akhir hayat. Saya bersama Guraru terus rajin belajar dan mengajar, menularkan ilmu yang benar, tepat dan sesuai sasaran, demi optimalisasi layanan kepada bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Jangan biarkan pendidikan bangsa ini terpuruk. Saya terus terang amat sedih, kadang sebentar rasa kecewapun melintas, prihatin sekali dengan situasi dan kondisi bangsa di era cyber ini. Banyak hal sedang terjadi, penipuan, pemalsuan, korupsi dll. Kompleks sekali masalah kehidupan dewasa ini.

Satu hal yang amat saya sayangkan, mengapa hingga kemarin siang, masih saja ada siswa yang memperoleh ilmu salah dari gurunya? Mengapa bisa salah? Kalau salah itu sering terjadi, tak pernah diralat, apalagi tak pernah sadar kalau salah, bagaimana? Tidakkah nantinya bisa terbawa sampai mati (Maaf, halusnya: meninggal dunia); bagaikan hutang yang belum dibayar (lupa atau sengaja tak membayar?). Ayolah sahabat-sahabatku, para guru di mana saja berada, kapan saja ada waktu, bacalah, tulislah, bacalah lagi, dan revisilah tulisan itu. Ketika salah, janganlah malu untuk meralat. Segera lakukan itu, jangan ditunda-tunda lagi. Penundaan bisa menjadi penyebab kegagalan. Dahulu saya pernah juga diperingatkan oleh murid jadul yang sudah menjadi profesor itu. Di mata beliau saya pernah salah, namun saya mau mengakuinya dan saya meralatnya. Selanjutnya saya tak berani salah. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

Guraru, terima kasih telah membaca ungkapan gejolak hati saya, hehehe. Sekarang website ini ramai sekali, alhamdulillah. Saran saya, marilah saling bersilahturahmi, tak sekedar menulis dan posting. Agar kita semua benar-benar memanfaatkan dengan baik web ini, artikel beserta respon dan jawabannya. Insya Allah amat bermanfaat bagi pembaca. Harapan kita, web ini dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan kualititas pendidikan bangsa Indonesia hingga menyamai negara-negara maju yang lain, bahkan bisa lebih unggul. Amin ya rabbal alamin. Saya optimis bahwa suatu saat nanti, bangsa kita bangkit dengan pendidikan yang sangat mengejutkan dunia. Ayo bangsaku, belajar, membaca, menulis, membaca, dan menulis agar tak salah dalam menyampaikan ilmu.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (6)

  1. tadi siang sudah baca tulisan ini, tapi tidak bisa langsung berkomentar karena situasi yang tidak memungkinkan. hehe..
    —–
    makasih ya, ibu. lagi-lagi itu yang bisa saya ucapkan.
    betul, manusia mah tidak pernah luput dari salah dan lupa. kalau kemudian ibu etna mengatakan “Selanjutnya saya tak berani salah.” hem, iya kalau kita tahu bahwa yang kita lakukan salah, kalau tidak tahu, kan tetap salah juga. hehe…

    kadang-kadang kita melakukan kesalahan tapi tidak tahu bahwa perbuatan kita itu salah. apakah yang begini tidak dosa? misal, seorang siswa tidak tahu bahwa mencium wanita bukan mukhrim dengan diiringi bismilah itu dosa. bagaimana yang begitu itu? guru saya bilang, justru begitu itu dosanya lebih besar. itulah kenapa menuntut ilmu itu wajib. agar kita tahu kesalahan kita untuk kemudian meminta ampun dan memperbaiki kesalahan dengan diiringi perbuatan yang baik. nah, kalau siswa itu tidak tahu bahwa itu perbuatan salah kan repot.

    aduh, kok panjang banget ya ibu. hehe..ga papa ya.
    abisnya artikel ini sepi, yang koment cuma dua, jadinya saya koment panjang deh. yah sekali-sekalilah. tidak nulis artikel tapi koment panjang kan sama saja, poinnya bisa dapat 10. 😀

    oh, tentang pengalaman menyampaikan ilmu yang salah saya juga pernah. alhamdulillah ada siswa yang kritis dan segera meralat kesalahan saya. tapi lebih sering saya akan menjawab “tidak tahu” kalau ada siswa yang bertanya dan saya tidak tahu jawabannya. memang malu sih, tapi kan itu keren, mengakui kebodohan.

    nah, lagi ya, bu etna. mumpung lagi semangat komen nih. begini, kadang-kadang kita sebenarnya sudah menyampaikan ilmu yang benar. tapi siswa menanggapnya lain. itu bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya adalah cara kita menyampaikan yang kurang pas sehingga terjadi salah tafsir. mungkin kita menggunakan bahasa yang terlalu tinggi, atau terlalu mbulet dalam penyampaiannya. ya, siapa tahu.

    jadi intinya memang sebagaimana disampaikan ibu enta. Hati-hati. maka selalu kita awali pembelajaran dengan doa. kalau toh kemudian kita tetap salah, bisa jadi juga itu adalah cara Tuhan untuk membuat kita tahu. lho… hehe.. Tuhan memang luar biasa. Ia membuka pintu-pintu pengetahuan bagi siapa yang dikehendaki dengan banyak cara. salah satunya mungkin adalah dengan membiarkan orang untuk berbuat salah, lalu menyadarkannya.

    ada iklan juga mengatakan: ngga’ kotor ya nggak belajar. ini tidak sepenuhnya saya sepakat. untuk belajar tidak harus kotor-kotor dulu, tidak harus berbuat salah dulu. tapi memang, banyak orang belajar dari kesalahan.

    wah, benar-benar sudah panjang nih. maaf ya kalau ada kta-kata yang salah. mungkin saya terlalu bersemangat nih.

    salam
    TintaGuru

  2. Alhamdulillah, terima kasih banyak pak Yusuf atas responnya. Untuk pembelajaran, masih banyak ilmu yang salah. Namun banyak pula kesalahan yang terulang oleh guru yang sama. Apa yang terjadi kemudian? Anak didik banyak yang gagal akibat hal itu, sehingga banyak dampak negatif terjadi. Namun, sebagian guru yang demikian tetap saja seperti itu, walau sudah banyak kejadian dan sudah sering diperingatkan. Insya Allah tulisan ini dapat terbaca dan segera instropeksi diri, motivasi diri meningkat, semua guru dapat bersama belajar untuk mengajar sepanjang tugas guru masih berada di pundak. Hehehe begitulah maksudku. Thx dan salam perjuangan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar