6

Ayah Terhebat di Seluruh Dunia (0)

AfanZulkarnain January 19, 2021

Tulisan ke-30 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Anda penggemar tetralogi Laskar Pelangi pasti tahu bahwa di buku ke-2, Sang Pemimpi, Andrea Hirata mempersembahkan karya sastra itu untuk seluruh ayah terhebat di dunia. Hal yang wajar, karena di novel tersebut sangat detail digambarkan hubungan ayah dan anak yang begitu hangat.

Lantas siapa ayah terhebat di dunia?

Setiap orang yang benar-benar tulus mencari nafkah untuk keluarga adalah ayah terhebat di seluruh dunia. Meski hujan badai menerpa, tak gentar, berjibaku dengan waktu untuk menjadi pemimpin di organisasi terkecil bernama keluarga.

Tulisan ini juga saya tujukan kepada siapapun yang kini memiliki status sebagai ayah.

Hari ini saya mendapati suatu pemandangan yang begitu menyentuh hati. Seorang lelaki paruh baya menuntun sepeda tua. Dengan kaos kumal dan celana sepanjang lutut ia berjalan di bawah terik matahari yang menyengat. Sesekali ia menyeka keringat lalu meneguk sebotol air mineral. Di tempat boncengan terikat beberapa balon warna warni berbentuk tokoh kartun yang sedang booming saat ini.

Saat itu aku duduk di atas motor di tepi jalan menunggu pesanan nasi lodeh di sebuah warung makan. Jarakku dan lelaki itu hanya sekitar 50 meter. Ia menyadari keberadaanku. Pandangan kami sempat beradu.

Bapak itu menghampiriku.

“Ngapunten. Njenengan nopo butuh balon kagem putro njenengan,Pak? Niki kulo badhe bayar SPP putro kulo, tapi kirang.”

Begitu katanya dalam bahasa jawa halus. Santun sekali. Dalam bahasa Indonesia artinya, “Mohon maaf. Anda apa butuh balon untuk putra anda, Pak? Saya akan bayar SPP anak saya, tapi kurang.”

Ia menyebutkan harga sebuah balonnya. Aku rogoh beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Aku membeli lima. Entah aku tak tahu balon itu akan kuperuntukkan untuk apa. Aku belum punya anak. Di kota ini pun aku hidup sendiri. Ah biarlah akan kuberikan pada anak tetangga-tetanggaku nanti.

Bapak itu mengucapkan terima kasih dan berpamitan lalu pergi. Aku memandang punggungnya yang tertutup balon dagangannya hingga ia menghilang di persimpangan jalan.

Suatu perjuangan seorang ayah untuk menyekolahkan anaknya.

Seketika ingatanku terputar kembali pada kenangan saat usiaku masih sepuluh tahun. Beberapa bulan setelah ayahku wafat.

Saat tengah belajar di ruangan kelas, Bu Mun memanggilku. Beliau adalah wali kelas yang sangat baik. Guru idolaku. Keras, disiplin, namun halus dalam bertutur. Sampai sekarang aku menjadikan beliau sebagai sosok panutanku sebagai pengajar.

“Afan, ada wesel buat kamu.” begitu kata beliau sembari menyerahkan selembar kertas agak tebal. Ada namaku tertulis di sana. Lengkap dengan kelas dan alamat sekolah. Tertulis pula nama sebuah majalah anak-anak di kolom pengirim. Saat itu aku merasa bingung, aku tidak paham maksutnya.

“Ini apa,bu?” tanyaku

“Ini wesel. Kamu sudah belajar di Pelajaran IPS,kan kalau orang berkirim uang lewat wesel. Kamu bisa ambil uang yang tercantum di sini lewat kantor pos,” begitu penjelasan Bu Mun.

“Kok ada nama majalah anak-anak di sini?” tanyaku lagi.

“Di sini tertulis cerpen Afan dimuat di majalah itu.”

Aku membaca kembali setiap kata dalam wesel tersebut. Memang tertulis bahwa cerpen atas namaku dimuat di majalah tersebut lengkap dengan nomer edisinya. Aku bingung sekali. Aku memang suka menulis cerpen. Tapi aku tak pernah mengirimkannya ke majalah apapun. Dan aku tak pernah menulis cerpen dengan judul yang tertera di wesel itu.

“Terima kasih,Bu.” kataku santun. Aku masukkan wesel tersebut ke dalam amplop cokelat kecil yang diberi oleh Bu Mun. Aku kembali ke bangkuku, memasukkan aplop berisi wesel kedalam tas, lalu kembali fokus pada pelajaran.

Setelah kejadian itu, aku memburu majalah dengan nomor edisi yang dimaksud. Alhamdulillah toko buku di kotaku masih memiliki stok edisi-edisi lama majalah tersebut. Benar adanya sebuah cerpen atas namaku termuat di sana. Rasa penasaran semakin mengisi pikiranku.

Aku membacanya. Seperti cerpen tulisanku, tapi alur dan judulnya sedikit diubah. Lebih menarik. Kalimatnya juga lebih tertata.

Namun, siapa yang telah mengirimkannya ke majalah itu?

Wesel belum aku cairkan. Aku pun belum menceritakan hal itu kepada ibuku. Aku masih bingung.

Sehari setelah itu, aku membongkar lemari tempat kusimpan majalah bekas dan buku-buku harianku. Aku selalu menulis di buku harian. Entah puisi, entah pula cerpen. Aku ingat betul, aku pernah menulis cerita yang isinya sama dengan cerpen yang dimuat di majalah itu pada sebuah buku harian berwarna biru. Lama sekali aku tak membukanya. Mungkin sudah setahun lamanya.

Aku mebuka lembar demi lembar buku harian. Terselip beberapa lembar kertas hvs yang terlipat di salah satu halaman. Aku membuka halaman tersebut. Itu adalah cerpen yang aku cari. Tulisan yang pernah aku tulis dan seorang malaikat sedikit mengubah alur dan judulnya untuk dikirimkan ke majalah. Dan dimuat.

Aku lalu membuka beberapa lembar kertas hvs yang terselip itu. Kertas yang berisi copy dari suatu ketikan. Tampak dibeberapa sisi ada bekas warna hitam. Itu adalah bekas terlapisi kertas karbon, kawan. Orang dulu saat mengetik di mesin ketik selalu melapisi kertas hvs dengan kertas karbon lalu kertas hvs kembali. Fungsinya untuk mengcopy tulisan. Dan lembar ayng aku pegang sekarang adalah copy dari cerpen yang telah dikirimkan ke majalah itu.

Ada sebuah tulisan di akhir copyan kertas itu.

“Untuk anakku, Afan.”

Saat itulah aku mengerti, malaikat baik yang telah mengubah alur dan judul tulisanku itu adalah almarhum ayahku. Beliau semasa hidup menjalani profesi sebagai wartawan dan cerpenis. Mungkin beliau tak sengaja membaca buku harianku lalu tanpa sepengatahuanku, beliau menyempurnakannya dan mengirimkannya ke majalah.

Cerpen itu dimuat setelah beberapa bulan beliau wafat.

Aku berlinang air mata. Ayahku sungguh luar biasa. Bahkan saat aku mencairkan wesel, aku selalu berpikir bahwa ayahku adalah ayah paling hebat di dunia. Meskipun beliau telah tiada, beliau masih menafkahiku lewat cerpen yang termuat di majalah.

Aku akhiri tulisan ini dengan membaca Surat Al Fatihah untuk almarhum ayah. Juga untuk seluruh ayah terhebat di dunia. Semoga selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam ikhtiar mencari nafkah.

Aku mungkin belum menjadi ayah. Semoga aku bisa menjadi ayah terhebat di dunia bagi anak-anakku kelak. Aamiin

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar