2

AYAH, BUNDA … PULANGLAH! (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto March 8, 2021

Beberapa tahun yang lalu, di kelas Bahasa Indonesia yang saya ampu, saya meminta siswa untuk membuat puisi dengan tema bebas. Salah satu siswa menulis tentang “Ibu”. Bagaimana sang ibu selalu ada di sisinya, menemaninya di setiap waktu, dan selalu menyediakan kebutuhannya. Hati saya bagai teriris. Bagaimana tidak, siswa ini tidak tinggal bersama ibunya. Dia diasuh oleh kakek neneknya karena orang tuanya bercerai. Ibunya hanya sekali waktu datang menjenguk, karena tinggal di luar kota. Artinya, puisi yang dia buat sebenarnya adalah impian terbesarnya akan kehadiran seorang ibu.

Di sekolah tempat saya mengajar, bukan cuma satu siswa itu saja yang tidak diasuh sendiri oleh orang tuanya. Ternyata banyak sekali yang senasib dengan dirinya. Ada kira-kira seperempat jumlah siswa yang mengalami nasib sama dengan anak itu. Tinggal jauh dari orang tua, menahan rindu akan pelukan dari orang-orang yang seharusnya berada paling dekat dengan mereka. Ada yang karena orangtuanya bekerja jauh dan sering berpindah tempat, sehingga si anak dititipkan kepada kakek neneknya agar lebih nyaman. Ada juga yang seperti si anak tadi, orangtuanya bercerai, masing-masing sudah berkeluarga lagi, untuk lebih amannya si anak dititipkan kepada kakek nenek.

Saya ingat diri saya dulu di SMP tumbuh menjadi anak yang minder dan kuper, karena saya merasa keluarga saya aneh tidak seperti orang kebanyakan. Hanya ada ayah yang penuh intrik dan intimidasi agar saya tidak bisa bertemu ibu. Betapa kondisi seperti saya dulu kini dialami oleh banyak anak yang usianya bahkan jauh di bawah saya dulu. Saya bisa membayangkan rasanya sakit hati anak-anak itu. Bisa dimaklumi jika tingkat stress yang dialami anak-anak sekarang semakin tinggi. Mereka kemudian melampiaskan ke hal-hal negatif seperti ikut geng motor, terjerat narkoba, kecanduan game online dan pornografi. Miris sekali.

Ayah, bunda, tidakkah kalian ingat, saat membina rumah tangga dan memutuskan punya anak. Kalian pasti sudah merencanakan hal-hal baik yang akan kalian berikan kepada anak-anak kalian? Kemana perginya rencana-rencana indah itu? Tidakkah kalian ingat tangisan pertama anak kalian? Malam-malam panjang yang kalian habiskan demi melihatnya tumbuh menjadi bayi yang lucu? Jika sekarang mereka kalian anggap menyebalkan dan merepotkan, sudahkan kalian menjadi orang tua yang menyenangkan dan membawa kebahagiaan bagi mereka?

Sejatinya anak adalah cerminan orangtuanya. Jika orangtuanya menorehkan jejak dan teladan yang baik, niscaya mereka akan mengikutinya. Begitu pun sebaliknya. Maka sebelum terlambat, pulanglah ayah, bunda. Peluklah anak-anak kalian. Hadapkanlah badan kalian kepada anak-anak untuk mendengarkan mereka bicara dan bercerita. Habiskan waktu bersama mereka. Sesungguhnya kebersamaan ini tidaklah panjang. Sebentar lagi mereka akan mulai mengepakkan sayapnya untuk melihat dunia. Semoga mereka bisa menjadi lebah atau kupu-kupu yang menebar manfaat bagi sekitar.

Comments (2)

  1. Kerepotan yang dirasakan sebenarnya sesaat , karena mereka senantiasa berubah. Akan tiba masanya ingin mengulang kembali saat-saat dulu masa mereka kecil. Jadi dinikmati aja ya sesuai masanya. Mantap. Terimakasih artikelnya

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar