4

Awas, Ada Pungli pada Mutasi Guru! (+2)

Mustafa Kamal September 7, 2012

Ada cerita menarik dari kunjungan seorang teman ke kota kami. Sebut saja namanya adalah Pak Ramli, beliau berprofesi sebagai guru di sebuah Kabupaten tetangga. Adapun kunjungannya ke kota kami adalah mengunjungi mertuanya memanfaatkan Libur Sekolah selama puasa di provinsi kami. Dalam obrolan yang panjang tersebut Pak Ramli menceritakan pengalamannya dalam mengurus mutasinya baru-baru ini.

Pak Ramli mengajukan mutasi untuk pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya. Beliau sudah 5 tahun honor di sekolah lama tersebut dan baru diangkat PNS baru 2 tahun ini dan ditempatkan tetap disekolah tersebut. Padahal sekolah tersebut sangat jauh sekitar 100 km dari tempat domisilinya. Selama 7 tahun beliau lakoni hidup berjauhan dengan anak istri, jika kondisi tubuh fit beliau Pulang-Pergi (PP) dengan berkendara motor selama 1, 5 jam sekali berangkat atau 3 jam PP. Jika kondisi kurang fit beliau tinggal di kos-kosan seadanya di sekitar lokasi sekolah tersebut.

Beruntung ada kenalan istrinya menawarkan bantuan untuk Mutasi ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya. Kenalannya mengatakan dia kenal dekat dengan kepala dinas dan beberapa pejabat penting di Badan Kepegawaian Daerah. Pak Ramli sangat senang sekali, maka diuruslah seluruh berkas yang diperlukan seperti surat rekomendasi dari kepala sekolahnya, kepala UPT setempat, SK terakhir, DP3 terakhir dan lain -lain. Urusan selanjutnya seperti rekomendasi dari sekolah yang dituju dan lain-lain diurus oleh teman tersebut.

Singkat cerita, proses mutasinya selesai bersamaan dengan mutasi puluhan guru dan kepala sekolah awal Ramadhan ini. Namun ternyata dia dimutasikan bukan kesekolah yang dekat dengan rumahnya seperti dijanjikan teman tersebut, tapi sekolah baru yang baru mulai tahun ajaran baru tahun ini, yang jauhnya sekitar 60 km dari rumahnya. Alasan teman tersebut disekolah yang dekat dengan rumahnya guru yang sama mata pelajarannya sudah pada penuh dan kepala sekolahnya tidak mau mengeluarkan rekomendasi, akhirnya dia usahakan dipindahkan kesekolah baru saja yang lumayan dekat dengan rumahnya.

Walau agak kecewa Pak Ramli menerima saja, toh setidaknya sudah agak dekat dengan rumahnya. Pak Ramli berpikir urusannya sudah selesai sampai disitu, diapun sudah menyiapkan sedikit tanda ucapan terima kasih buat teman yang sudah membantu ini. Tapi, jelang beberapa hari waktu SK dan SPT nya akan diserahkan temannya ini menelepon agar dia menyiapkan uang sekitar 5 juta untuk tanda ucapan terima kasih untuk pejabat-pejabat dan teman-teman di Dinas serta BKD yang sudah menguruskan mutasinya tersebut.

Pak Ramli sangat terkejut, uang 5 juta tersebut sangat besar nilainya baginya. Temannya mendesak bahwa harga tersebut sudah biasa dan pasaran nya memang segitu untuk pengurusan mutasi, ditambahkan juga Pak Ramli baru 2 tahun PNS seharusnya belum bisa mutasi karena syarat mutasi minimal 5 tahun berdinas di sekolah yang ditunjuk sesuai SK pertama, kemudian sedikit ditekan jika Pak Ramli tidak mau, maka Pak Ramli jika berurusan dengan kedinasan seperti naik pangkat, pelatihan-pelatihan bisa dipersulit karena sudah di “black list” Orangnya pelit. Lalu diimingi-imingi disekolah baru tersebut Pak Ramli adalah senior, urusan sertifikasi, pelatihan, kenaikan pangkat bisa dipermudah nantinya, makanya temannya tersebut menyarankan agar diusahakan uang tersebut secepatnya sebelum SK dibagikan.

Akhirnya Pak Ramli setelah berdiskusi dengan istri menyetujui apalagi merasa tidak enak dengan teman tersebut yang sudah bantu sejak awal. Pak Ramli akhirnya berhutang kesana -sini dan terkumpullah sebesar 3,5 juta. Apalagi kondisi Pak Ramli waktu itu sangat sulit, ibunya sakit dan memerlukan biaya yang sangat besar. Setelah diceritakan kesulitan itu akhirnya temannya menyetujui, temannya menegaskan bahwa dia tidak mengambil sepeserpun dari uang tersebut, dia murni untuk membantu Pak Ramli, sedang uang tersebut nanti akan diberikan pada teman-temannya di Dinas dan BKD yang sudah membantu kepengurusan mutasi tersebut, kekurangannya akan dia jelaskan nanti kepada mereka. Pak Ramli jangan khawatir katanya.Cuma Pak Ramli harus jaga rahasia jangan sampai hal ini sampai diketahui oleh umum, bisa membahayakan Pak Ramli dan teman-teman di Dinas, tegas teman tersebut.

Pak Ramli merasa tidak enak tapi apa daya segitulah kemampuannya. Setelah SK diterima, Pak Ramli iseng bertanya dengan mereka yang juga dimutasi ke sekolah baru tersebut. Sekali lagi Pak Ramli terkejut bahwa rata-rata yang dimutasi PNS baru yang sama dengannya dan mereka tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk mutasi. Rata-rata mereka di mutasi karena memang diusulkan oleh kepala sekolah mereka yang lama, ada yang tersangkut kasus disiplin seperti sering tidak masuk dan sebagainya. Ada juga yang di mutasi karena kelebihan guru disekolah asalnya. Sebagian besar yang dimutasi kesekolah tersebut bahkan adalah guru honor atau guru bantu (GTT).

Pak Ramli merasa ditipu mentah-mentah oleh temannya tersebut. Tapi Pak Ramli sadar ini adalah kesalahannya sendiri yang mau-mau saja menggunakan jasa orang lain dalam mengurus mutasi tersebut. Seandainya dia ikut prosedural, mengurus sendiri tentu tidak sebanyak itu dia mengeluarkan uang terimakasih tersebut. Pak Ramli berusaha untuk ikhlas, toh dia juga pernah mendengar bahwa modus seperti ini sudah lama terjadi. Dia pernah mendengar mutasi kepala sekolah biayanya bisa 30-an juta, Mutasi guru dari daerah terpencil ke Kota bisa 10 jutaan. Pak Ramli menganggap uang itu adalah sedekah, karena mumpung mau lebaran.

Mendengar cerita miris tersebut saya hanya bisa meringis. Ternyata praktek pungli oleh Dinas Pendidikan dan BKD itu benar adanya. Semua terjadi hampir di semua daerah di Indonesia. Korbannya adalah para guru dan kepala sekolah. Berbagai macam cara digunakan untuk melakukan pungli kepada para abdi pendidikan tersebut. Kalo kepala sekolah mungkin bisa mengembalikan uang yang sudah dia keluarkan untuk mutasi dengan memotong uang BOS dan laian-lain. Tapi kalau guru ya harus pasrah saja….

Cerita ini Pak Ramli ini mengajarkan kepada kita, untuk urusan apapun yang berkaitan dengan kedinasan jangan mengunnakan “calo” atau bantuan orang lain. Lebih baik diurus sendiri, jika ada yang mempersulit tinggal lapor atasannya. Syaratnya adalah berani saja! Toh, kita berada di jalur yang benar.

Salam Prihatin untuk Pendidikan Indonesia!

Comments (4)

  1. Indonesia banget !!! …. memang dimanapun… sopir truk kalau ingin lancar nyebrang… harus keluarkan upeti ke oknum petugas pelabuhan , guru/kepsek kalau mau mutasi harus keluarkan upeti ke oknum disdik/pemda… para pelaku kejahatan… ayo dengan siapa mainnya? pelanggar hukum ayo ebak dengan siapa? dimana-mana ada pasangannya. Oknum mengerti benar orang butuh, dan yang calon korbanpun senang berlomba dengan korban lainnya… entah sampai kapan… Kasihan sekali para pejuang pendiri Bangsa ini, negara yang dibangun dengan susah payah dihiasai banyak oknum dan korban yang saling membutuhkan (simbiosis mutuaisme kali ya)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar