2

Awal tahun yang gimana gitu (0)

@ahysholih January 12, 2021

Pagi-pagi sekali setahun yang lampau, dengan semangat 45, kayak mo perang aja deh. hehehe… kuangkuti tas berisi pakaian, bekal nginap nanti di Sorowako.

Nunggu di rumah kakak sebagai titik kumpul rombongan, aku gelisah lama banget ya jemputannya.

Sabar…., ku coba menata hati. ya namanya diajak ya mesti ikut aja tak usah protes. Tapi sempat deg-degan juga sih, Jangan sampai deh terulang rekreasi dengan anak didik di akhir tahun ga’ bisa ku ikuti akibat si perut tak mo kompromi.

Mudah-mudahan kali ini lancar ya Allah, doaku dalam hati.

Menjelang dhuhur, jemputan datang. Ternyata ada 4 rombongan mobil. Aku kebagian si merah seragam SD, mobil dinas punya desa. Diawaki suami teman lettingku yg kabur pindah ke Makassar setelah setahun berjuang brsama di bangku SMA.

Aku didapuk duduk di depan sebab hanya berdua lelaki dewasa di rombongan. Eh ralat pale, berempat dengan 2 bocah kecil putra drivernya.

Karena mobil penuh sesak dengan penumpang, dengan ikhlas & senang hati aku memangku si sulung.

“Aduh, jadi merepotkanmi ini pak Baso, si Qaffa senengnya duduk di depan” serunya berbasa-basi.

Ah, ga’ papa. Mumpung aku bisa deket ama dia, selama ini kan hanya bisa liat aja di fb”, jawabku dengan santai.

Temanku ini emang aktif di medsos. Segala aktifitasnya diupdate hingga jualan MLM-nya yang terkadang memenuhi linimasa.

Berangkat tak lupa berdoa dengan melirik gawai pintar, berharap keselamatan dalam perjalanan berisi kalimat ringkas dalam bahasa arab yang disitir dari sebuah hadits Nabi.

Ke empat kotak bermesin melaju di aspal yang kurang mulus menciptakan sensasi bak berlayar di lautan. Aku merogoh kantong menyobek sirup anti mabok produk dalam negeri yang sudah siap sejak tadi. ku berikhtiar tak merusak suasana riang liburan ini.

Melewati ashar, lewat info penumpang di belakang, kami akan singgah tuk melepas lelah sekaligus ngisi si kampung tengah yang sejak tadi sudah keroncongan. Setelah konsultasi, pimpinan genk memutuskan akan singgah.

Rombongan singgah di tepi sungai dekat jembatan. Aliran sungainya deras sepertinya aliran irigasi sebab tepinya di semen dan ada pintu airnya.

Selekasnya kami memenuhi hasrat si perut yang sudah unjuk rasa sejak tadi. Beberapa diantaranya menyempatkan selfi mengabadikan kebersamaan singkat di tempat itu.

Melanjutkan perjalanan, tibalah kami menjelang malam. Lampu-lampu dari perusahaan tambang nikel menyambut kami seperti kesemarakan bak cerita dongeng 1001 malam.

Aku takjub tapi malu juga menampaknya. Aku lebih memilih obrolan lainnya daripada berkomentar. Ya udahlah nasib, ini kan kunjungan kali pertamaku jadi nikmati aja dah, batinku.

Soroako ternyata hanya satu desa namun menjelma menjadi kota sebab diberkahi nikel, sda tak diperbaharui karunia sang Maha Kuasa. info selengkapnya, silahkan klik

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sorowako,_Nuha,_Luwu_Timurhttps://id.m.wikipedia.org/wiki/Sorowako,_Nuha,_Luwu_Timur

Ketika masih SD di pelajaran IPS kutahu nikel yang ada di Sorowako dikelola oleh PT. INCO, Tbk.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sorowako,_Nuha,_Luwu_Timurhttps://id.m.wikipedia.org/wiki/Sorowako,_Nuha,_Luwu_Timur

, ternyata sekarang bukan lagi, entah sudah beberapa kali berganti pengelola.

Kami tiba sekitar pkl 7 malam WITA, semarak lantunan dari Masjid komplek yang kami lewati sebelum menuju ke penginapan kami.

Sebuah rumah layaknya BTN di kota dengan sukacita menampung kami malam ini. Rumah sepupu, adik ipar yang ngajakin aku.

Setelah dinner, aku memilih beristirahat minum obat terlebih dahulu ketimbang gabung dengan lainnya ngobrol di teras.

Sebenarnya aku nekat, aku masih masa penyembuhan. Namun demi jalan-jalan, kapan lagi pikirku.

Menjelang subuh, ku terjaga dengan suara dengkuran di sekitarnya. Suaranya mirip kendaraan tua yang melaju menaiki tanjakan. hehehe…

Ku coba memejamkan mata, tapi sekonyong-konyong suara dari toa masjid membuyarkan keinginanku. Kubangkit dari peraduan menuju kamar kecil memenuhi hajat & bersiap menghadap sang Khalik.

Aku keluar tanpa rasa takut, ku langkahkan kakiku mengikuti sumber suara. Nyaris tersesat, roda dua yang lewat di jalan yang ku lalui menyadarkanku agar segera berbalik setelah sebelumnya malah menjauh dari tempat ibadah yang harusnya ku tuju.

Seorang pengendara motor memberi tumpangan. Seharusnya aku berterima kasih, namun ia keburu pergi memarkir tunggangannya setelah menurunkanku tak jauh dari gerbang masjid. Mesjid ini pekarangannya luas.

Pagi harinya, kuceritakan kisah singkatku ke tuan rumah. “Oh, disini memang ada beberapa masjid tapi jauh, mungkin yang anda dengar adalah gema” jawabnya.

Jalan-jalan pagi ke danau dekat rumah bersama bpk inisiator, dia ngajakin keliling kompleks jalan kaki tapi sepertinya menjadi siksaan bagiku.

“Uda capek”, tanyanya melihatku tersengal ga’ semangat.

Aku berusaha menyembunyikan kegundahanku dengan menuruti kehendaknya.

Pulangnya, seharusnya bugar malah sakitku malah kambuh. Secepatnya ku cari tuan rumah, adakah obat anti mencret. Ternyata ia lagi keluar beli persediaan untuk aktifitas “manre sipulung” di danau.

Aku terus berdoa memohon agar tak jadi biang kerok perusak suasana. Beruntunglah aku hanya sedikit lemas.

Tuan rumah pulang tapi tak ada persediaan yang kubutuhkan. Untunglah ada pohon jambu biji tumbuh di pinggir tembok pagar. Jadilah itu penolongku disaat kritis

Pucuk mentah bersama garam yang kulumat di dalam mulut kemudian didorong kesegaran segelas air menjadi penawar derita yang kambuh.

Orang-orang bergegas, demi ga mau jadi beban, kupaksakan ikut

Eh, sesampainya disana serasa ada yang mo keluar. Terpaksa deh ku tinggal rombongan menuju ke toilet masjid meski harus jalan kaki mendaki tanjakan jalan beraspal, bersegera mungkin sebelum ia nyelonong tanpa permisi.

Aku nunggu aja sebab sebentar lagi dhuhur. Setelah memenuhi kewajiban, aku balik, kutemui orang-orang pada bersantap siang. Nasi hangat dengan ayam panggang menggugah selera.

Aku makan sekenanya aja, Menu yang sebenarnya menggugah selera namun, nafsu makanku kalah dengan nyeri perutku yang kambuh.

Syukurlah kumpul-kumpul ga’ berlangsung lama, aku minta keponakan memboncengku. Sepertinya semangatku hilang terbawa sengsara sejenak.

Esok paginya, destinasi beralih kunjungan ke Vale, tuan rumah kerja disana guys. Berjalan mengitari pembibitan pohon reboisasi sampailah kami di parkiran alat berat punya perusahaan. Beberapa ambil selfi di kumpulan eskavator dan alat berat lainnya.

Destinasi selanjutnya adalah pantai, namun tak begitu bisa ku nikmati. Makan jajanan di kaki lima seputar pantai ku nikmati tanpa semangat lagi.

Begitu ada yang merencanakan pulang lebih awal, aku memutuskan ikutan meski ada rombongan yang pengen tetap tinggal mengikuti skejul liburan ala tuan rumah.

Ah, sudahlah paling tidak aku bisa liburan ga sekedar dengerin pengalaman orang yang pulang ngisi pakansinya.

Inilah kisahku diawal tahun 2020, Semoga bermanfaat.

Comments (2)

  1. terima kasih apresiasinya.

    tuk liburan tahun ini sepertinya perlu dipertimbangkan matang-matang meski diperbolehkan dgn prokes namun kasihan para nakes, negara lain uda gel. ke 2 lah negeri kita gel. satu aja belum klimaks. Jd mesti sama bersabar & prihatin dgn kondisi saat, klo masi boleh ditunda di reskejul langkah yang bijak.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar