5

Asyiknya Menulis di Guraru (+1)

Rosiana Febriyanti May 11, 2015

Awalnya, saya tak kenal siapa pun di sini. Akan tetapi, saya merasa seperti didukung oleh para pejuang pendidikan. Di sini saya merasakan tempat yang nyaman untuk saling menyapa, tidak seperti lainnya, yang hadir hanya minta di-vote, di-like, dan dipuja-puji. Kita bisa berbagi ilmu tanpa pamrih. Yang tadinya saya tak tahu, menjadi tahu setelah membaca postingan teman-teman guru. Saya berharap, tak ada udang di balik bakwan eh, pokoknya itulah maksud saya. 🙂

Sudah dua malam ini saya begadang untuk menulis, meskipun tak ada sinyal, saya tak patah semangat. Tak ada maksud apa-apa, hanya menulis dan menulis, sambil membaca buku-buku pelajaran untuk kemudian menyarikannya ke dalam catatan kecil untuk mengajar besok. Terkadang, kalau saya sedang menulis, tanpa terasa air mata mengalir karena menahan kantuk. Saya merasa tak punya bekal apa pun untuk bisa menulis bagus, tapi saya selalu teringat pesan Om Jay, “Menulislah setiap hari!”

Blog saya apa adanya, karena saya tak pernah belajar membuat blog. Yang saya tampilkan di blog adalah hasil belajar otodidak, sama seperti saya membuat akun multiplay dulu. Email saya saja dibuatkan teman, tapi yang paling berkesan adalah multiplay sebagai rumah pertama saya di dunia maya. Di sana, saya bebas menaruh lagu, video, foto, bergabung dengan Komunitas Puisi, Apresiasi Puisi, dan segalanya yang berbau puisi hingga email yahoo saya penuh dengan pesan multiplay. Sayangnya, multiplay akhirnya ditutup dan memaksa saya berpindah rumah.

Rumah saya selanjutnya adalah blog yang mengharuskan saya membuat akun gmail. Kali ini saya buat sendiri, loh. Akan tetapi, karena saya tidak tahu cara mengembangkan blog, akhirnya menjadi seperti catatan harian saja yang polos tanpa aplikasi apa pun. Karena keseringan lupa password, blog tidak bisa saya buka, mungkin sudah lumutan dan berdebu kalau itu rumah sungguhan. 

Kemudian saya belajar membuat akun facebook, dan di sana saya jadi tahu facebook itu sosial media, yah mentok-mentoknya saya cuma mempergunakannya untuk bergaul saja. Kemudian saya bergabung dengan beragam komunitas di sana, tapi lagi-lagi hanya yang berkaitan dengan puisi, cerpen, dan guru saja. Mungkin passion saya di situ. Kata teman saya, “Sayang kalau facebook tidak digunakan untuk berbisnis!” Saya tak acuh padanya, karena bukan itu passion saya, saya lebih senang menggunakan facebook untuk berpuisi, mencari informasi lomba menulis, dan yang saya kunjungi hanya itu. Kuper banget, kan?

Teman-teman saya mengira saya online terus, padahal saya tak pernah log out, karena saya pelupa, sering lupa password. Bagaimana mau online terus, sinyal di sini tidak begitu bagus, selalu hilang-timbul. Di facebook, saya bergabung dengan Komunitas Penulis Bacaan Anak yang diasuh dulu oleh Mas Sinyo Egie. Dari sana, pergaulan saya mulai meningkat, jadi berkenalan dengan para penulis BIP, Mizan, dan Tiga Serangkai. Luar biasa, di sana saya banyak mendapat ilmu menulis cerita anak, hingga saya dapat melahirkan satu buku berjudul “Ranger Fadhil” terbitan Laksana Kidz, imprint Diva Press. Sebelumnya, saya sudah pernah menulis kumpulan cerpen anak yang berjudul “Subsea Relic Wariors” terbitan Meta Kata, penerbit indie. Saya sering mengikuti efen-efen menulis yang diadakan penerbit-penerbit indie, meskipun saya jarang membeli buku antologi karena keterbatasan dana. Setidaknya, saya bisa terus mengasah kemampuan menulis saya melalui efen-efen tersebut.

Kemudian, dari facebook saya bergabung dengan Komunitas INDI-TIK. Walaupun saya tidak memenangkan predikat juara, tapi dari sana saya berkenalan dengan Mbak Hayya Aliya Zaky dan Pak Wijaya Kusuma, blogger kondang. Akan tetapi, Om Jay-Pak Wijaya Kusuma- terus memotivasi saya menulis setiap hari di blog dan mengajak saya bergabung dengan Komunitas Sejuta Guru Ngeblog. Komunitas itulah yang pada akhirnya mengantarkan saya menjadi pemenang tantangan menulis blog selama 7 hari berturut-turut. Dari sana pula saya akhirnya kembali ke Guraru, padahal saya sudah masuk Guraru sejak 2013! Percaya atau tidak, baru sekarang-sekarang ini saya memberanikan diri menulis di sini. Mungkin terdorong oleh Om Jay, Pak Subakri dari Ayo Mendidik, Pak Iwan Sumantri, dan Bu Atjih. Celinguk sana-celinguk sini, belajar otodidak bagaimana cara menulis di Guraru, coba ikon ini dan ikon itu, semuanya try and error.

Lantas, bagaimana dengan twitter, ah sekali-sekali saja ke sana karena twitter itu gak seasyik menulis di blog. Walaupun kata santri saya, menulis di twitter itu tantangan karena hanya bisa menulis dalan 350 karakter, eh benar gak sih? Saya jarang menggunakannya, apalagi sinyalnya kurang bersahabat.

Hingga akhirnya, saya pun terdampar kembali di Guraru dan minder lagi melihat blog teman-teman yang sudah canggih. Ah, selagi saya mau belajar, rasanya tak ada yang tak bisa saya coba. Membaca tulisan teman-teman mengenai Quipper-school, saya malah tidak tahu itu apa. Saya bertekad, kalau pun saya belum bisa Quipper-school mungkin suatu saat sayalah yang akan menjadi salah satu penulisnya. Halah, mimpi kali yeee.

Tulisan teman-teman di Guraru sangat inspiratif dan terbuka menerima segala masukan dari sesama rekan guru. Inilah menariknya, semua saling mendukung seperti layaknya sebuah keluarga saja.  Suatu saat, saya juga bisa membuat aplikasi HP untuk pembelajaran! (Kapan yaaa, ah ya kapan-kapan…kita berjumpa lagi…mungkin lusa…atau di lain hari…) Halah, malah nyanyi lagu Koes Plus. Wes laaaah, rapopo kan?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Guru Ngeblog di www.guraru.org

Baner-Guraru2

Comments (5)

  1. KAMI DOAKAN DAPAT YANG BARU … boleh juga ACER ONE 10 heeeee …. 🙂 amiin
    ====================================================
    Percaya atau tidak, baru sekarang-sekarang ini saya memberanikan diri menulis di sini. Mungkin terdorong oleh Om Jay, Pak Subakri dari Ayo Mendidik, Pak Iwan Sumantri, dan Bu Atjih. Celinguk sana-celinguk sini, belajar otodidak bagaimana cara menulis di Guraru, coba ikon ini dan ikon itu, semuanya try and error.
    ====================================================
    ada nama saya di situ yaaa … trims 🙂 jadi GR
    selamat menulis bun …

    bantu juga menilai yang di link berikut ini
    http://guraru.org/guru-berbagi/pr-ipa-siswa-desa-bermodal-it-jadul/
    🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar