4

Asyiknya Belajar Puisi dengan Memperhatikan Aspek Multiple Intelligence (+2)

Rosiana Febriyanti May 12, 2015

Guruku galak sekali

Wajahnya seperti singa

Kupingnya semerah kepiting rebus

 

Ketika ada siswa yang menulis puisi seperti itu, kira-kira apa reaksi apa yang akan saya perlihatkan  sebagai guru?Apakah saya akan menyalahkan dan memasukkannya ke ruang BP lalu menasihatinya agar tidak mengulanginya? Saya berusaha untuk tidak emosional dalam menghadapi siswa semacam ini dan justru mengoreksi diri sendiri terhadap metode pengajarannya selama ini. Namun semoga tulisan ini tidak menghakimi guru atau siswa, melainkan sebagai renungan kita bersama.

Kalau saya berada di posisi seperti tadi, saya akan mencairkan suasana hati saya dengan mengaitkannya dengan mata pelajaran yang saya ajarkan, yaitu bahasa Indonesia , terutama pada pelajaran puisi. Puisi tersebut mengandung majas perumpamaan yang menggunakan kata seperti dan semerah.

Ha-ha! Anak-anak pasti terheran-heran mengapa saya tidak marah. Mengajarkan puisi tidaklah sulit, tetapi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut saya, guru Bahasa Indonesia yang baik tidak harus yang pandai berpuisi, karena guru bukan penyair. Selain itu, tidak semua guru memiliki bakat dan keterampilan membaca puisi dengan intonasi, tempo, penghayatan, jeda dan volume suara yang tepat. Maaf, ada juga guru yang tidak suka berekspesi, terutama yang berkepribadian introvert atau pendiam, tetap sesungguhnya ia suka menulis puisi.

Ada orang yang lebih bebas mengekspresikan isi hatinya lewat tulisan tapi malu luar biasa kalau disuruh membaca puisi. Ada orang yang bisa membaca puisi tapi tidak pandai menyusun kata-kata (seperti saya) dan ada pula orang yang hanya senang mengoleksi puisi-puisi cinta.

Sebenarnya, orang yang tadinya tidak suka sama sekali menulis puisi ternyata setelah diberi kesempatan menulis, bisa juga walau puisinya sangat sederhana. Saya menyuruhnya menulis apa saja, misalnya benda-benda yang ada di sekitarnya atau yang sempat terekam di kepalanya, lalu merangkainya menjadi kalimat-kalimat pendek.

Kalimat-kalimat pendek yang saling bertalian makna itu disusun menjadi bait-bait puisi sederhana, walaupun menurut sebagian orang puisinya tidak indah sama sekali. Saya berupaya membimbing dalam hal memilih kata-kata yang tepat dengan menuliskan kata-kata semakna lebih dari dua kata, lalu siswa memilih kata mana yang menurutnya lebih mewakili perasaannya dengan mempergunakan kecerdasan yang mereka miliki untuk mengajarkan puisi.

 

  1. Kecerdasan Angka

 

Jika anak lebih tertarik pada angka, maka anak dapat menuliskan tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya, lalu dibuat puisi pendek tentang apa saja yang menarik hatinya. Hal ini bisa dimulai dengan menyebutkan angka-angka dengan intonasi dan suara yang naik-turun. Pertama-tama anak akan tertawa dan merasa aneh, lalu dibimbing mengubahnya menjadi puisi. Misalnya,

 

1                diucapkan dengan nada tinggi, tempo lambat

2,3,4          diucapkan dengan nada rendah tempo cepat

5,6             diucapkan dengan nada tinggi tempo cepat pula

7,8             diucapkan dengan nada rendah tempo lambat

9dan10      diucapkan terputus-putus

Sem-bi-lan dan se-pu-luh

 

Lalu anak menulis puisi dengan menggunakan tanggal lahirnya. Misalnya anak yang lahir pada tanggal 3 Februari 1985.

 

Tiga burung merpati merunduk sedih

Dua sayapnya digunting anak lelaki

Delapan tahun usia anak itu

Lima jam menderita kesakitan

 

 

 

  1. Kecerdasan Huruf

 

Hal yang menakjubkan pernah terjadi pada saat saya mengajar. Seorang siswi bernama Nur Afifah memiliki daftar kata yang sulit, bahkan ia sendiri tidak paham maknanya. Kosa katanya beragam, indah, tidak lazim tetapi mengandung nilai seni karena diperolehnya dari setiap puisi yang pernah dibacanya, baik di buku maupun di internet. Sekitar empat buku tulisnya penuh dengan puisi karyanya sendiri. Guru seharusnya merespon siswa yang memiliki kecerdasan luar biasa ini dengan mendorongnya untuk mengirimkan karya-karyanya ke penerbit buku.

Menurut saya, membuat daftar kata atau kamus kata sangat membantu dalam pengajaran puisi. Tentu sebelumnya siswa sebaiknya membaca antologi puisi terlebih dahulu, lalu menyusun daftar kata yang menarik, indah, dan mengandung makna yang dapat menyentuh perasaan.

Cara lain untuk mengajarkan puisi adalah kita dapat mengajarkan puisi akrostik yang menggunakan huruf-huruf nama siswa. Berikut kutipan puisi yang ditulis oleh seorang siswa kelas VIII SMP bernama Yusuf Zaim.

 

Yang Maha Esa menciptakannya dalam kesunyian

Umpama butir mutiara putih mengkilau

Serangkai katanya ‘ kan singkap kabut kegelapan

Untuk mencerahkan dunia dengan sinar-Nya

Fajar pagi seakan menyambut kehadirannya

 

Kutipan puisi akrostik yang menggunakan namanya sendiri itu mengajak kita untuk memaknai hidup, bahwa kita terlahir fitri, suci, yang sayang jika harus terkotori oleh kabut kegelapan nafsu dan angkara murka. Tidak hanya sampai di situ, ia pun menulis dalam catatan kaki di bawah puisinya;

 

Puisi ini kupersembahkan pada mereka

yang sulit memaknai sebuah nama

yang sukar tuk memahami harapan seorang Ayahhanda

yang bingung menapaki hidup

yang jauh dari belaian kasih tangan-Nya

 

Subhanallah, seorang siswa kelas VIII SMP telah dapat memaknai namanya sendiri karena sadar bahwa nama adalah doa sang ayah dan kini ia tengah menapaki jalan hidupnya. Saya pikir, tidak akan menurunkan derajat seorang guru jika harus belajar dari siswanya. Belajar tentang kearifan dalam menjalani hidup ini, selain belajar tentang kesabaran dalam menghadapi kenakalan-kenakalan mereka. Dari mereka pulalah kita dapat belajar tentang metode pengajaran puisi yang bermakna.

 

 

 

  1. Kecerdasan Gambar

 

Jika siswa menyukai bidang seni lukis, saya menyajikan sebuah lukisan atau foto pemandangan lalu siswa disuruh mendeskripsikannya dengan menyebutkan benda-benda yang terlihat secara rinci berdasarkan bentuk, warna, dan suasana atau kesan yang ditimbulkannya. Setelah itu siswa pun menuliskannya dalam puisi. Misalnya puisi yang ditulis oleh Fathuddin Yazid, siswa kelas VIII SMP.

Fajar yang muncul pada siang hari

Awan yang dating dari balik gunung

Terbit matahari dari arah timur

Hari ini adalah hari yang cerah

Untuk itulah burung bernyanyi

Dan terbang ke sana ke mari

Di atas langit yang sangat tinggi

Iri hati melihatnya bebas di alam luas

Namun semua itu kulewati

 

Jangan pula kita menyalahkan siswa jika ia menulis langit itu merah, ada lembayung di kalbunya, batu itu kotak, laut itu kuning, coklat rasa getir, dan layang-layang tidaklah trapesium. Mungkin itulah yang hendak disampaikannya, bahwa apa yang ia bayangkan atau ia harapkan tidak sama dengan kenyataan hidup yang dihadapinya.

 

 

 

  1. Kecerdasan Gerak

 

Jika siswa menggilai bola, saya pun menggunakan bola sebagai media. Tiap siswa diberikan potongan-potongan puisi. Siswa dibawa ke tengah lapangan lalu berbaris. Setiap siswa yang selesai membaca potongan puisi harus menendang bola atau memasukkan bola ke ring basket. Lalu ia berlari ke belakang barisan. Hal ini terus dilakukan secara bergantian dengan siswa yang berbaris di belakang siswa tadi. Ini terinspirasi dari film Dead Poet’s Society yang diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama.

 

 

  1. Kecerdasan Spasial atau Ruang

 

Jika siswa lebih tertarik pada ruang dan bosan pada puding (puisi dinding), saya menggunakan tali yang tidak hanya dipasang di dinding tapi juga dipasang melintang di langit-langit seperti memasang bendera kalau agustusan. Lalu siswa diperbolehkan menggantungkan atau mengelem bagian atas potongan-potongan puisi karyanya sendiri di tali tersebut. Saya serahkan urusan menghias kelas dengan beragam media kepada mereka untuk meletakkan puisi-puisi. Yang jelas mereka sangat handal dalam kreasi. Saya tinggal memantaunya saja.

 

  1. Kecerdasan Musik

 

Mengajarkan puisi bisa dengan mendengarkan kaset lagu-lagu yang memiliki bunyi akhir (rima). Lalu siswa menulis dan membacakannya sebagai puisi. Hal ini bisa dimulai dengan lagu-lagu yang sedang digemari siswa. Setelah itu saya mengajak mereka menemukan majas-majas, misalnya

 

Bagaikan langit di sore hari (majas perumpamaan)

Kau seperti nyanyian dalam hatiku (majas perumpamaan)

Jam dinding pun tertawa, karna kuhanya diam (majas personifikasi)

 

Untuk sekolah berbasis agama bisa memperdengarkan kaset atau VCD kasidah, nasyid, kaset Ebiet G.Ade, kaset Opick, atau lagu-lagu rohani lainnya. Saat saya mengajarkan gurindam, saya juga membebaskan siswa-siswi untuk membawakan gurindam dengan cara menyanyikannya, boleh bernada pop, dangdut, rock, nasyid, dan lain-lain. Alhasil, setelah mereka mendiskusikan maksud isi gurindam, mereka dapat mempresentasikan di depan kelas, diawali dengan yel-yel kelompok, kemudian menyanyikan gurindam sesuai versi mereka.

Ini link video yang saya unggah di You Tube

https://www.youtube.com/watch?v=FV8X8OfZr9s . Saya merekamnya dengan HP lama yang kualitasnya tidak begitu bagus karena tiada kamera digital untuk merekamnya.

Mengajarkan puisi tidak luput dari mengajarkan latihan mengatur pernafasan dan artikulasi yang diucapkan dengan jelas dan lantang. Hal ini dapat dilakukan dengan  mengajak siswa ke lapangan yang luas, ke kebun, ke sawah, ke sungai atau ke pantai untuk belajar artikulasi, mengucapkan a-i-u-e-o dengan lantang. Lalu siswa mengekspresikan puisinya di sana sambil belajar memahami maknanya.

Kemudian saya memperkenalkan musikalisasi puisi, puisi yang dinyanyikan dengan iringan insrumen musik, baik yang tradisional maupun yang modern. Cara lainnya adalah menciptakan irama sendiri dari galon bekas yang dipukul, kacang hijau yang dikocok-kocok, atau gelas yang dipukul dengan sendok.

 

  1. Kecerdasan Interpersonal

 

Saya mengajak mereka untuk mengenang peristiwa yang membuat mereka dekat dengan seorang sahabat, sejak mengenal, bergaul, bertengkar, berpisah, saling memaafkan, saling berbagi, dan cara mereka melepaskan ego masing-masing serta cara mempertahankan persahabatan mereka. Bisa dengan bercerita lewat lisan atau siswa langsung menuliskannya dalam bentuk puisi.

Cara lainnya adalah membuat puisi berantai yang dibuat secara kolektif dan dihias dengan media apa saja, lalu dibacakan secara bergantian. Ada larik yang dibacakan sendiri-sendiri, ada larik yang dibaca koor (bersama-sama).

 

  1. Kecerdasan Intrapersonal

 

Siswa diperdengarkan musik lalu diajak mengenang peristiwa yang paling berkesan menyangkut dirinya. Kemudian ia menuliskan pokok-pokok peristiwa dalam beberapa kata. Setelah itu barulah siswa merangkainya menjadi sebuah puisi. Siswa membaca dalam hati lalu menyuntingnya, kemudian memperbaikinya dengan memilih kata-kata yang tepat untuk mewakili perasaannya.

Cara lainnya, siswa disuruh membawa album foto masa kecilnya.Lalu siswa menceritakan kenangannya yang terekam dalam foto itu. Kemudian siswa menuliskannya dalam bentuk puisi.

 

 

  1. Kecerdasan Alam

 

Guru menyajikan isu global warming sebagai pengantarnya. Saya mengajak saiswa  mengenali alam sekitarnya, misalnya ke halaman, ke lapangan bola, ke sawah, ke gunung, ke sungai atau ke pantai dan merekamnya dalam puisi mereka. Bahkan jika di hadapan mereka adalah gundukan sampah, penghuni kolong tol, kendaraan yang berasap penuh timbal, dan kuburan di samping sekolah, mereka harus menuangkan perasaannya dalam bentuk puisi dambil merenungi langkah apa yang harus mereka perbuat untuk melestarikan alam. Kegiatan ini bisa berintegrasi dengan pelajaran IPA/SAINS atau ekstrakurikuler yang mendukung tema alam.

Puisi itu ditulis dalam beragan media yang memanfaatkan benda-benda yang ada di alam. Misalnya ditulis di atas kertas daur ulang yang dapat dibuat sendiri oleh siswa, kardus bekas, stereofoam bekas box makanan, kulit kayu yang sudah mati, piring dari batok kelapa, piring melamin, atau sachet-sachet yang dijahit lalu ditulisi puisi dan dihias. Puisi yang sudah ditulis di kertas daur ulang dapat pula digulung lalu dimasukkan ke dalam botol minuman kemasan bekas yang sudah dihias. Dengan demikian, kemampuan berpuisi mereka bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari dalam mengatasi sampah yang mengotori alam kita.

 

  1. Kemampuan Spiritual

 

Siswa diperdengarkan kaset, VCD, DVD yang berisi kasidah, nasyid, kisah nabi, sahabat nabi, atau tokoh-tokoh Islam yang sekiranya dapat mengilhami mereka untuk menulis puisi religius. Selain itu, siswa dapat diajarkan puitisasi Al Quran, membaca terjemahan dengan irama dan intonasi yang tepat. Dengan demikian akan menggairahkan siswa untuk belajar makna AlQuran yang dibacakan seperti puisi.

Jika saya belum bisa menjadi model pembaca yang baik, saya bisa putarkan kaset atau CD yang berisi pembacaan puisi. Jika sekolah sanggup, saya ingin mengundang penyair atau mengajak para siswa ke TIM (Taman Ismail Marzuki). Bisa juga dengan mengundang rekan guru atau siswa yang berbakat untuk membaca puisi di kelas.

Namun, yang terpenting dalam pengjaran puisi adalah kemauan. Jika saya mau sedikit meluangkan waktu, tenaga dan melapangkan dada dalam menghadapi “ulah” siswa, maka saya tidak perlu lagi kesal terhadap siswa yang tidak mau ke depan kelas untuk membaca puisi.  Saya pun tergerak untuk menulis puisi untuk memotivasi diri sendiri.

 

Ajarkan siswa menulis kebenaran dengan pena kejujuran

dan menyampaikannya dengan cara yang benar

sehingga ia dapat menemukan arah menuju kebenaran hakiki.

 

Puisi lahir dari hati,

ia bicara dengan bahasa hati,

ia pun hadir mengisi hati,

menyirami kuntum-kuntum hati yang hampir mati

karena hidup tiada abadi

 

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Guru Ngeblog di www.guraru.com

Baner-Guraru2

 

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar