2

Ario Tidak Kerasan (0)

AfanZulkarnain July 9, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Aku menerima sebuah pesan di aplikasi Whatsapp. Sebuah pesan yang membuatku terbelalak. Pesan dari siswaku.

“Pak, berapa harga kost di daerah dekat sekolah? Saya ingin kost”

Aku menjawab, “Untuk apa? Kan kamu sudah mondok?”

Ia balas mengetik, “Saya tidak kerasan, Pak.Saya ingin kost saja. Apa boleh?”

Aku membalasnya, “Apa yang membuatmu tidak kerasan?”

Dia menceritakan segala permasalahannya. Panjang sekali. Intinya ia belum terbiasa dengan kebiasaan di pondok pesantren. Aku memahaminya. Sebagai santri baru mungkin dia belum dapat beradaptasi. Ini adalah kali pertama ia mondok. Orang tuanya pernah bercerita bahwa sengaja mengirimkannya ke pondok agar ia bisa mendalami ilmu agama dan memiliki akhlak yang bagus.

Aku hanya menjawab, “Jalani aktivitas di pondok dengan hati riang dan ikhlas. Insya Allah kamu akan kerasan.”

Ia tidak menjawab. Nomornya kemudian tidak aktif.

Aku melirik jam. Pukul 9 pagi. Tanda handphone santri harus dikumpulkan. Santri memang diberikan waktu menggunakan handphone dari jam 7 hingga jam 9 untuk mengikuti kegiatan pembelajaran daring dari sekolah.

Besoknya, ia kembali menghubungiku.

“Pak, beneran saya tidak kerasan. Apa boleh saya tinggal sama Bapak?”

Aku terbelalak. Langsung aku menjawab, “Maaf,le. Saya belum bisa mengabulkan permintaanmu. Mondok itu menyenangkan,le. Kamu saja yang belum terbiasa.”

Ia membalas pesanku dengan emoticon menangis.

Sebut saja namanya Ario. Bukan nama sebenarnya. Aku sama sekali belum pernah bertemu dia. Aku hanya berkomunikasi lewat chat WA. Itupun sekedar mengingatkannya untuk rajin masuk kelas zoom dan mengerjakan tugas. Tak lebih dari itu.

Beberapa jam kemudian, tiba-tiba orang tua Ario menghubungiku. Beliau menyampaikan bahwa putranya selalu mengeluh dan meminta untuk pulang. Namun beliau tak mengizinkannya. Beliau bersikeras ingin anaknya tetap mondok. Beliau meminta tolong padaku untuk memotivasi Ario.

“Titip putra saya, nggih Pak. Jauh-jauh saya memondokkannya agar ia jadi anak yang soleh.”

Begitu kata beliau dengan nada penuh harap.

Aku berpikir keras. Bagaimana caranya membuat ia kerasan di pondok.

Hal pertama yang aku lakukan adalah berkomunikasi dengan guru BK. Aku menyampaikan segala sesuatu tentang Ario kepada Bu Elsa selaku guru BK. Komunikasi dengan BK menjadi solusi karena BK terbiasa menangani siswa seperti Ario.

“Dia butuh teman,Pak. Sepertinya njenengan yang bisa mengajaknya bicara karena selama ini anda yang dianggap paling dekat dengannya.” Begitu kata Bu Elsa sembari memberiku beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan permasalahan Ario.

Sebagai wali kelas tentu aku menjadi guru yang paling sering berkomunikasi dengannya. Terlebih dalam pembelajaran daring seperti ini, wali kelas selalu menjadi pendamping anak-anak pada kegiatan KBM.

Aku pun bergegas menuju pondok. Kepada pengurus pondok aku sampaikan tujuanku. Aku ingin bertemu dengan Ario. Alhamdulillah, pengurus pondok sangat ramah. Ia langsung bergegas memanggil Ario. Tak kurang dari tiga menit, Ario berdiri di hadapanku.

Itu adalah kali pertama aku bertemu dengan Ario secara langsung. Ia menunduk dengan masker yang melekat di wajahnya. Kami berjarak kurang lebih 1,5 meter. Dalam pondok memang protokol kesehatan sangat dijaga ketat.

Aku memintanya duduk di kursi, namun ia memilih duduk di lantai sambil menunduk. Aku memintanya untuk bercerita tentang apa yang ia rasakan.

Seperti apa yang ia utarakan lewat pesan Whatsapp, ia mengaku tidak kerasan. Ia ingin pulang dan bersekolah di kampung halamannya.

Aku lantas menunjukkan pesan dari ayah Ario.

“Ario satu-satunya anak laki-laki saya, Ustadz. Saya ingin Ario menjadi anak yang soleh , yang kelak kalau saya sudah meninggal, dialah yang akan menyelamatkan saya dari api neraka. Saya ingin dia tetap mondok. Minta tolong motivasinya untuk Ario, Ustadz.”

Mata Ario berkaca-kaca. Ia membacanya dengan sepenuh jiwa. Aku memberinya motivasi agar dia tetap semangat belajar di pondok pesantren, “lakukan dengan hati riang dan ikhlas, le. InsyaAllah kamu akan kerasan.”

Ario mengangguk pelan. Kami berpisah. Aku melihat punggugnya yang berjalan menyusuri lorong pondok pesantren sambil berdoa semoga Allah dapat menguatkan hati anak baik itu.

Sesaat sebelum aku pulang, aku bertemu dengan seorang santri yang aku kenal. Kami berbincang cukup hangat. Aku juga meminta tolong kepadanya untuk sering mengajak Ario bercanda agar dia merasa tidak tertekan di pondok. Anak itu menyanggupinya.

Beberapa hari kemudian aku menerima sebuah pesan. Dari orang tua Ario.

“Alhamdulillah, Ustadz. Ario sudah kerasan. Terima kasih motivasinya untuk putra kami.”

Aku menarik nafas lega. Aku selalu berharap Ario selalu bersemangat menjalani aktivitasnya di pondok pesantren. Sejatinya banyak hal positif yang akan ia peroleh di sana. Semoga.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar