2

Apapun kebijakannya, ujian jawabannya… (0)

Daniel Leonard Sinaga April 7, 2021

Salah satu kebijakan Nadiem yang monumental, saya apresiasi, adalah Penghapusan Ujian Nasional (UN). Tujuannya adalah untuk lebih menciptakan budaya belajar (learning culture) : long life learner, bukan budaya ujian, yang menekan, all at cost, mengukur sisi kognitive dengan hanya bertumpu pada 3/4 mapel, dan menjadikannya sebagai seleksi masuk sekolah selanjutnya. AKM (Asesmen Kompetensi Minimal), Literasi dan Numerasi, sendiri bukan sebagai pengganti UN, tetapi lebih untuk mengassess sekolah-nya, apakah proses belajar sudah berjalan dengan baik.

Meski demikian, ada yang menganggap AKM, sebagai pengganti UN, dan mendapat perlakuan sama dengan UN, meski sudah diwanti-wanti oleh Pengambil Kebijakan, perbaiki proses / budaya belajar dan ekosistem disekolah, bukan dengan model drilling, seperti biasanya dengan soal soal AKM, demikian juga bimbel dan toko buku, mempromosikan program soal kunci sukses AKM, untungnya AKM diundur. Ada waktu untuk melakukan sosialisasi AKM dengan lebih baik, bagaimana memperbaiki ekosistem dan proses belajar, sehingga tercipta learning culture, anak anak nyaman, senang belajar sebagai hak bukan kewajiban.

Sesungguhnya ini adalah intinya, yang tidak mudah untuk mencapainya. Tidak kurang Unesco memiliki concern bagaimana agar setiap insan, tujuan dari proses pendidikan adalah menjadi pembelajar seumur hidup, dengan membuat Unesco Institut for Long Life Learning (UIL), ketrampilan yang sangat penting di era yang tidak pasti ini. Tujuan ini juga sudah ada didalam cetak biru pendidikan Indonesia.

Nah… setelah surut AKM, muncullah Ujian Daerah (ASPD), setali tiga uang, model nya dengan UN, muncul hasil try out ASPD, mana mana saja tampil dengan ASPD tertinggi (sekolah sekolah favorit), saya sudah dapat hasil yang relative tidak berubah dari tahun ke tahunSebagai persiapan sekolah sudah melakukan drilling sejak awal semester, dan pada kebanyakan anak sekolah favorit, mengambil les tambahan di sekolah atau bimbel, untuk mengejar nilai yang bagus, mengangkat nama sekolah, dan sebagai saringan masuk sekolah selanjutnya, selain zonasi.

Kebijakan boleh berubah-ubah, tetapi sama sekali tidak mengubah tata cara pelaksanaannya dilapangan. Sekolah masih sama modelnya, dari ujian satu ke model ujian lainnya. Sedangkan saat ini, penilaian kompetensi anak sudah bergeser ke karya / portofolio (Project Based Learning), anak mempresentasikan hasil karyanya. Sudah banyak yang melakukan hal ini, kebanyakan yang melakukan adalah sekolah swasta, mereka tahu persis, karya lah yang melibatkan ketrampilan yang dibutuhkan saat ini : 4C, komunikasi, berfikir kritis, kreatifitas dan kolaborasi. Bukan model model ujian yang hanya ada kertas dan pencil. Nadiem tak kurang akal, muncul SK no. 1, 2021, typo SE, dimana penilaian hasil belajar akhir tidak harus berupa soal pilihan ganda semacam UN / ASPD, tetapi boleh berupa portofolio, karya, dan penugasan lain.

Sejauh ini Nadiem telah mengeluarkan kebijakan kebijakan yang cukup relevan, Ujian dihapus, guru penggerak, flexibilitas kelulusan sekolah, dengan tagline utama Merdeka Belajar. Namun menengok ke belakang, Kemerdekaan itu sulit terwujud, jika tidak ada perubahan mindset dan learning proses, yang masih sama : penilaian anak yang masih bertumpu pada nilai nilai sebagai tujuan akhir pembelajaran yang tidak memerdeka-kan, disebabkan oleh “belum merdeka”-nya mindset dan birokrasi dari para birokrat dan para pengampu di dunia persekolahan.

Dari dua sebab itu menjadi hampir mustahil untuk bisa meletakkan pondasi pertama kemerdekaan pada anak, adalah bagaimana anak bisa mengenali minat potensinya, bagaimana setelahnya ia dengan logika dan berfikir kritisnya mampu memilih sendiri kemerdekaan seperti apa yang ingin raihnya, menjadi tugas semua untuk memberikan lingkungan yang memerdekakan, bukan sekedar slogan, tanpa itu kita hanya memberikan senjata, tanpa tahu cara bagaimana menggunakannya.

Repost : Eka Rini; #foto : Brian Oshiro, TedxXiguan

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar