0

Apakah Corona Karena Ulah Manusia? (0)

Supadilah S.Si April 13, 2021

Sudah satu tahun Pandemi COVID-19 melanda dunia termasuk Indonesia. Kasus positif mencapai angka jutaan. Puluhan ribu orang meninggal. Covid-19 menyerang berbagai daerah di Indonesia.

Lingkungan memberikan imbal balik sepadan kepada manusia. Lingkungan yang terjaga dengan baik akan memberikan manfaat kepada manusia berupa ketersediaan air, udara, bahan makanan, dan lainnya. Sebaliknya, lingkungan yang dirusak akan memberikan reaksi merusak pula.

Ekosistem membentuk rantai makanan. Jika satu rantai makanan terputus, akan mengganggu rantai makanan lainnya. Rusaknya rantai makanan akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Kalau ekosistem terganggu, pasti ada dampaknya terhadap lingkungan bahkan pada kehidupan manusia.

Dalam hidup ini berlaku hukum aksi reaksi. Hukum aksi reaksi ini juga berlaku pada lingkungan. Eksplorasi kekayaan alam tanpa batas dan tidak mengindahkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan akan memberikan dampak kepada manusia itu sendiri.

Baca di sini

https://gurupembelajar.my.id/rawat-bumi-cegah-pandemi-datang-lagi/

Aktivitas pembangunan memang memberikan sejumlah pemasukan untuk masyarakat sekitar, pemilik truk, dan pengusaha. Tapi dampaknya tidak kalah besar. Akibat over tonase truk, jalanan rusak. Meskipun sudah berkali-kali diperbaiki, kerusakan tak bisa dihindari. Jalan aspal hancur. Lalu jalan dicor. Kerusakan jalan menular di jalan aspal lainnya.

Salah satu kegiatan manusia yang mengarah pada perusakan lingkungan adalah pertambangan tanpa izin alias peti. Saya menjadi saksi hidup betapa peti ini sangat merusak lingkungan. Pada umumnya masyarakat menginginkan hasil yang instan. Peti memang cepat menghasilkan.

Beberapa tahun belakangan di daerah kampung saya marak peti. Tergiur hasil yang besar dalam waktu cepat, lading-ladang sawit ditambang. Ada pula masyarakat yang menyewakan. Banyak pula yang menjualnya. Toke yang berduit berani membeli lahan sawit dengan harga di atas normal.

Kalau normal harga lahan sawit antara Rp. 150 juta hingga Rp. 300 juta, toke berani membeli lahan dengan harga Rp. 500 juta untuk lahan potensial. Masyarakat yang tergiur dengan sejumlah uang pun tak pikir panjang untuk menjualnya.

Akibatnya pun fatal. Tanah di lahan sawit tak lagi subur. Tanahnya semakin gersang dan panas. Koral, batu, dan pasir naik ke permukaan. Begitulah dampak peti. Penggunaan merkuri untuk mengumpulkan emas juga merusak kesuburan tanah. Beberapa sawit tumbang. Setelah peti, lahan sawit kelihatan seperti padang batu.

Ternyata banyak penyakit yang muncul akibat ulah manusia. Bahkan, virus corona pun muncul akibat ulah manusia.

Matthew Burton, Direktur Kantor Lingkungan Hidup USAID Indonesia mengatakan satwa liar menjadi sumber penyakit menular baru (Emerging Infectious Disease/ EID) terbanyak. Publikasi ilmiah menyebutkan 60 persen EID berasal dari hewan dan 70 persen EID berasal dari satwa liar. Sebagai contoh, HIV diketahui berasal dari simpanse.

https://gurupembelajar.my.id/rawat-bumi-cegah-pandemi-datang-lagi/

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda percaya bahwa Corona karena perbuatan manusia? Baik, sebab banyak penyakit muncul karena didului tangan manusia yang merusak alam.

Lalu, bagaimana kita mencegahnya?

Begini cara saya berupaya menjaga bumi untuk mencegah kerusakan alam. https://gurupembelajar.my.id/rawat-bumi-cegah-pandemi-datang-lagi/

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar