0

Apa yg Dibutuhkan dalam Dunia Pendidikan Indonesia? (+1)

Muhammad Iskandar May 16, 2015

Pendidikan di Indonesia sangat memprihatikan, di lain sisi sungguh ironi ide seorang KI Hajar Dewantara yang luar biasa bagi dunia Pendidikan Indonesia tiadak pernah sama sekali dipakai. Sedangkan di belahan bumi lain (Finlandia), ideologi seorang pof Reuven Feuerstein yang memiliki kesamaan dengan ide KI Hjar Dewantara yang sudah diimplementasikan sejak tahun 1952. Melihat fakta bahwa Finlandia menjadi negara dengan tingkat pendidikan nomor 1 di dunia adalah atas dasar pemikirin professor Reuven Feuerstein. Dan ideologi tersebut secara istiqamah dipakai hingga saat ini. Di Indonesia, Ki Hajar Dewantara hanya sekedar dikenang saja jasa-jasanya lewat peringatan hari Pendidikan Nasional. Sedangkan ideologinya hanya dijadikan bahan kajian sejarah, bukan dijadikan bahan kajian penerapan kurikulum pendidikan di Indonesia. Dan parahnya lagi kurikulum di Indonesia akan berubah tergantung siapa pemegang kebijakan. Jadi hampir dapat dipastikan pendidikan di negri ini tidak akan ada progress. Tapi nampaknya “kesuraman pendidikan” di Indonesia perlahan akan menghilang setelah saya terlibat dalam sistem pendidikan sekolah alam.

Selama kurang lebih 5 bulan menjadi Shadow Teacher di salah 1 sekolah alam di Bekasi, saya menjadi semakin paham akan arti sebenarnya dari pendidikan. Pendidikan seharusnya menjadi sesuatu yg menyenangkan bagi anak-anak. Pendidikanlah yang mengajarkan anak-anak banyak hal dalam kehidupan dan juga menjadi bekal masa depan mereka mengarungi samudra kehidupan dewasa. Bagaiman bisa seorang anak dapat menyerap ilmu sebagai bekal mereka, kalau mereka merasa tidak nyaman dengan gaya pendidikan yang menjadi sarana penyampaian ilmu-ilmu tersebut.

Dan di sekolah alam ini saya menemukan sesuatu yang unik dalam sistem pendidikannya. Di sini anak-anak diajak untuk berpersepsi belajar sambil bermain. Mereka ditingkatkan produksi endorfinnya terlebih dahulu, sehingga pelajaran yang menjadi momok yang paling menakutkan dalam kegiatan belajar mengajar menjadi sesuatu yang sama menyenangkannya dengan permainan yang biasa mereka mainkan. Serta penekanan pada pendidikan akhlak

Selain itu anak-anak diberi kebebasan (tentunya masih berada dalam koridor yang benar) untuk dapat bereksplorasi apapun yang ingin mereka ketahui. Jadi dengan begini mereka dapat mengetahui, memahami, dan menerapkan ilmu atau pelajaran yang disampaikan dengan cara mereka sendiri. Hal ini tentu berbeada jauh dengan sekolah-sekolah yang lain, terutama di sekolah negri. Yang mana siswa-siswinya “didoktrin” untuk lebih banyak duduk di kelas mendengarkan penjelasan guru, kalau mau bereksplorasi pun hanya sebatas bertanya ke guru; mencari referensi bacaan di perpustakaan; atau hanya bertanya ke KI GOOGLE. Kalau banyak bertanya ke guru pun, guru menjawabnya dengan ketus. Sedangkan anak-anak yang memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi yang ingin bereksplorasi lebih jauh, lebih sering dicap sebagai anak yang nakal. Karna cara mereka untuk dapat mengetahui dan memahami pelajaran sedikit berbeda dibanding teman-temannya, terkadang dengan mudahnya sang guru menyebutnya “si pembuat kacau” atau sebutan negatif yang lainnya. Dengan begini sudah pasti dapat diramalkan bahwa masa depan sumber daya manusia Indonesia tidak ada perubahan, bahkan mengalami tren penurunan jika dibandingkan dengan era globalisasi ini.

Dengan masih berpatokkan terhadap sistem pendidikan yang seperti ini, anak-anak Indonesia tidak dapat menjadi lebih kreatif, lebih percaya diri, dan lebih dapat mengembangkan potensi dirinya. Sebagai perbandingan saja, di Jerman yang sudah menerpakan pendidikan alan Finlandia sudah mulai mendapatkan hasil positifnya. Dan saya pun sudah merasakan bukti nyatanya. Saya punya teman chatting seorang siswa gymnasium school (salah 1 type sekolah di Jerman, setara SMA). Selama kami melakukan chatting, dia selalu banyak bertanya-tanya pada saat saya menyampaikan sebuah tema percakapan. Dia selalu bereksplorasi untuk dapat lebih memahaminya. Dan rasa keberanian dan kepercayaan dirinnya luar biasa. Dia yakin dengan kemampuannya untuk berdiskusi dengan saya yang lebih tua 8 tahun dengannya, terlebih dari “negara anatah berantah”. Sedangkan teman saya semasa kuliah saja cendrung lebih “jiper” kalau saya minta dia untuk chatting dengan bocah Jerman ini.

Ya sistem pendidikan Sekolah Alam ini mungkin bagus dan cocok untuk pendidikan di Indonesia, walaupun bukan satu-satunya yang terbaik. Tentu harus ada modifikasi untuk dapat menjadi lebih baik. Tapi dasar dari sistem ini (belajar dengan cara yang menyenangkan dan membiarkan anak-anak bereksplorasi serta menekankan pendidikan akhlak) harus dilaksanakan demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih kreatif, percaya diri dan berakhlak yang baik. Selain itu, sistem inilah sistem yang paling menyerupai dengan apa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar