4

APA ARTI IJAZAH BAGIMU? (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto January 12, 2021

Meskipun tidak bergelar sarjana penuh, hanya Ahli Madya ( A.Md ), tetapi aku sangat bangga dengan hasil yang kuperoleh saat kuliah ini. Aku mendaftar di Diploma tiga Bahasa Inggris di bawah naungan Fakultas Sastra Universitas Jember setelah dua kali gagal dalam Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( UMPTN ) pada tahun 1996.

Mungkin ini karena ucapan ibuku yang merasa tidak sanggup untuk membiayai 3 orang anaknya yang semuanya sedang sekolah dan kuliah seorang diri. Ya, kakakku saat itu sedang kuliah di Fakultas Pertanian Unej, aku lulus SMA, dan adikku naik kelas 3 SMP. Jadi ibu menginginkan aku mengambil D3 saja, agar cepat lulus dan bekerja.

Masa kuliah kujalani dengan sangat berat. Aku kos bersama adikku yang saat itu sudah SMA. Alhamdulillah ibu kos adalah kerabat baik ibuku di Banyuwangi, anak-anaknya adalah temanku dan adikku, sehingga kami mendapatkan keringanan biaya kos. Tetapi untuk makan seringnya kami harus puasa untuk bisa mencukupkan kebutuhan bulanan kami.

Jika keseharian kami cukup berat, Alhamdulillah untuk kuliahku tidak ada masalah. Semua berjalan lancar. Mungkin karena Bahasa Inggris adalah kegemaranku sejak masih kecil, aku merasa tidak berat menjalaninya. Bahkan sering kali saat musim ujian teman-teman kosku iri padaku, karena aku tidak terlihat serius belajar.

“Dyna, kamu kok gak belajar sih? Gak ada ujian?”

“Ada, 2 malah.”

“Kok santai banget? Aku aja pusing ini.”

“Mau belajar apa sayangku? Besok itu aku ujian Reading sama Listening. Belajarnya kayak gimana coba? Kan tinggal baca sama dengerin doang,” aku menjawab sambil tertawa.

Ya, begitulah. Meskipun santai, tetapi aku tetap serius dengan kuliahku. Aku sering ke perpustakaan jika butuh referensi untuk kuliah, karena tidak ada anggaran untuk membeli buku. Dan Alhamdulillah aku bias lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Itulah perjuanganku mendapatkan ijazah D3. Mungkin bagi orang lain itu hal biasa, tetapi bagiku itu sangat luar biasa. Karena aku harus melalui banyak kesulitan untuk mendapatkannya. Ibuku membiayai kami tiga bersaudara sendirian. Kami harus tahu diri untuk tidak menghabiskan uang kiriman ibu dengan seenaknya saja. Aku membantu temanku mengerjakan tugas akhirnya dengan imbalan mengantarkan ke rumah dosen yang susah ditemui. Ya, ijazahku kuperoleh dengan cucuran keringat dan airmata dariku dan ibu.

Lulus kuliah, ternyata aku berkecimpung di dunia yang jauh dari pendidikanku. Jika jurusanku adalah Bahasa Inggris yang mengarah ke bidang pariwisata, maka aku malah terdampar di dunia pendidikan. Menjadi guru di sekolah. Awalnya murid les privat ibuku butuh guru privat Bahasa Inggris, maka akupun mengajukan diri untuk mengajarnya. Dari awalnya seorang murid, di tahun kedua aku sudah mempunyai 5 murid privat yang kudatangi dari rumah ke rumah.

Dari kegiatanku ini ternyata ada seorang teman ibuku, seorang kepala SD negeri, yang kemudian meminta aku mengajar Bahasa Inggris di sekolahnya. Maka jadilah aku mengajar Bahasa Inggris di sekolah dasar.

Setelah sekitar 3 tahunan mengajar di sekolah, ada seorang guru yang menganjurkan padaku untuk melanjutkan S1. Setelah bertanya dan mengumpulkan informasi, maka kuputuskan untuk melanjutkan S1 di sebuah universitas swasta di Banyuwangi. Saat itu universitas tersebut jaraknya sekitar 50 km dari rumahku, cukup jauh jika harus kutempuh setiap hari. Tetapi ada solusi lain ternyata. Universitas tersebut mengadakan kelas jauh yang jaraknya lebih dekat dari rumah. Jadi aku mengambil yang kelas jauh ini.

Setelah satu semester berjalan, kupikir-pikir lagi aku kok kurang sreg dengan kuliahku yang sekarang. Mungkin karena kelas jauh dan pesertanya juga banyak yang sudah bekerja, sehingga memang hanya untuk mencari iajazah, maka dosennya sering tidak hadir. Kuliah pun seperti main-main saja. Kupertimbangkan lagi, ijazahku yang dulu dari perguruan tinggi negeri, yang kudapatkan dengan cucuran keringat dan airmata, yang menghasilkan predikat sangat memuaskan dan bergelar IPK tertinggi se-jurusan, akan tertutupi oleh ijazah baru yang sepertinya main-main saja ini. Gelar A.Md yang kudapatkan dengan susah payah akan tergantikan oleh gelar S.Pd dari perguruan tinggi swasta yang kesannya tidak serius. Akankah ada keberkahan di dalamnya?

Maka dengan berat hati kuputuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku. Aku menyayangkan jika nanti ijazahku yang sangat berharga itu tergantikan oleh ijazah baru yang gampang sekali didapatkan. Ibuku sangat menyayangkan keputusanku. Tetapi beliau tidak memaksa. Beliau menyerahkan segala keputusan padaku.

Anggaplah aku ini idealis yang kebangetan, aneh, atau apa pun itu. Tidak apa-apa. Aku hanya orang sangat menghargai proses. Proses kuliahku D3 jauh lebih berharga daripada prosesku ketika kuliah S1. Aku yakin Allah pun lebih meridhoi proses kuliahku di Jember dulu. Kubuktikan dengan banyaknya kemudahan dan kelancaran dalam menjalani kuliah. Aku tidak ingin merusaknya dengan cara yang salah dalam mendapatkan ijazah baru.

Setiap orang punya pilihannya masing-masing, dan harus siap dengan konsekuensinya. Aku telah memilih. Dan aku sudah siap dengan konsekuensi yang kuhadapi. Kalau kamu?

Comments (4)

  1. Benar sekali bu. Suatu gelar itu terkesan kurang berarti tanpa adanya suatu proses yang dilalui. Dari proses itulah kita akan merasakan suatu perjuangan yang maksimal atau bahkan sebaliknya..

    Bersyukur dengan segala yang hasil yang sudah dilalui..

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar