6

Anti Korupsi Membangun Negeri (0)

oloan December 6, 2020

Ironis memang ketika masa pandemi seperti ini, kasus-kasus korupsi masih merajalela, dibuktikan dengan adanya aksi tangkap tangan oleh KPK terhadap Menteri Kelautan dan Perikanan, pun OTT terhadap Bupati Banggai Laut menjadi berita paling miris ketika negara kita sedang berperang menghadapi pandemi corona virus yang entah sampai kapan mereda.

Ini menandakan bahwa pejabat di negeri kita ini ada sebahagian yang tidak memiliki rasa empati, rasa simpati dan merasakan apa yang masyarakat Indonesia rasakan sebagai akibat dari pandemi yang hampir meluluhlantakkan perekonomian kita dan mengakibatkan pendidikan harus berubah, dimana pembelajaran tatap muka harus diubah menjadi pembelajaran dari rumah.

Ironi maraknya tindak pidana kasus korupsi dimasa pandemi ini membuat kita harus kembali sadar bahwa korupsi masih menjadi penyakit akut yang masih bisa merajalela apabila ada kesempatan untuk berbuat korupsi. Dalam sebuah webinar yang dilaksanakan oleh Puspeka Kemendikbud pada hari Sabtu, 05 Desember 2020 yang saya ikuti dengan tema “Anti Korupsi Membangun Negeri”, disitu kita kembali sharing dan diingatkan kembali oleh para narasumber-narasumber hebat, seperti ibu Chatarina Muliana Girsang, Inspektur Jenderal Kemendikbud, Ibu Ratih Ibrahim, Psikolog Klinis dan CEO Personal Growth, Bapak Nurul Ghufron, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Bapak Hendarman, Kepala Pusat Penguatan Karakter dan banyak lagi yang mengisi acara webinar dan memberikan pencerahan materi Anti Korupsi Membangun Negeri.

Untuk membangun karakter dan generasi anti korupsi sangat diperlukan kolaborasi antara banyak pihak, termasuk orangtua, guru, masyarakat dan juga semua karya-karya seni yang bisa menggugah para pembaca, pendengar dan penonton untuk tidak berperilaku korupsi. Dalam sejarah sastra Indonesia, sudah banyak karya-karya seni yang menggambarkan bagaimana korupsi merajalela dan menjadi korbannya adalah rakyat Indonesia sendiri.

Bicara tentang korupsi, maka kita kembali ke pengertian awalnya. Korupsi berasal (dari bahasa Latin: corupption = penyuapan; corruptore = merusak), korupsi merupakan gejala dimana para pejabat, badan-badan negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan serta ketidak beresan lainnya. Adapun arti harfiah dari korupsi dapat berupa kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidak jujuran. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan sosok dan sebagainya.

Lantas mengapa harus korupsi? Saya mengingat kembali ketika saya mengikuti diklat Pra Jabatan di tahun 2010 sebagai syarat dari CPNS menjadi PNS. Saat diklat Pra Jabatan tersebut, banyak pelajaran berharga jadi bekal untuk menjalankan tugas sebagai Abdi Negara. Salah satu materinya adalah Materi Anti Korupsi. Disitu sang Dosen tidak henti-hentinya memberi nasehat kepada kami agar tidak korupsi.

Beliau selalu menekankan nasehat seperti ini, “Cukupkanlah Dirimu dan Keluargamu dengan Gaji yang Kamu Dapatkan”. Beliau bahkan mengatakan bahwa agama manapun di dunia ini sangat mengutuk dan melarang korupsi, termasuk suap dan gratifikasi. Nasehat sang Dosen itulah yang saya ingat sampai sekarang.

Nah, alasan mengapa korupsi masih ada bahkan merajalela belakagan ini? Merangkum materi-materi yang diberikan oleh para narasumber, maka alasan mengapa korupsi masih merajalela, diantaranya diakibatkan oleh:
#1. Masih menganggap korupsi itu adalah budaya dan kebiasaan yang masih diberikan toleransi, bahkan menganggap koruptor itu orang baik.

Sangat miris ketika Menteri KKP ditangkap tangan oleh KPK di Bandara Soekarno-Hatta berikut dengan barang bukti barang-barang mewah diduga dibelanjakan pakai uang hasil suap tersebut di Negeri Paman Sam, Menteri lainnya malah memuji bahwa Menteri itu sebenarnya orang baik. Memang benar, semua kita ini orang baik, tetapi mengapa korupsi? Yah itu tadi, para pakar mengatakan bahwa banyak alasan orang berubah menjadi korupsi.

Mungkin karena tuntutan hasrat yang tidak terbendung untuk memiliki sesuatu alias perilaku hedoniesme, atau kesempatan serta warisan budaya yang dilegalkan dan dilestarikan oleh oknum-oknum tertentu, bahkan toleransi dimana koruptor seakan-akan tidak berdosa dengan melambaikan tangan ke kamera, plus masih adanya ruang bebas bagi koruptor untuk menikmati fasilitas di penjara, menjadi alasan korupsi masih merajalela dengan niatan untuk memperkaya diri dan kelompok tertentu.

#2. Lemahnya keimanan, kejujuran, rasa malu, aspek sikap atau perilaku misalnya pola hidup konsumtif dan aspek sosial seperti keluarga yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku korup.

Faktor ekonomi juga bisa menjadi pemicu sikap korupsi. Dalam Novel 86 karya Okky Madasari menceritakan bagaimana seorang juru ketik yang ingin menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil. Dalam menuju tahapan tersebut, si juru ketik ini menghalalkan segala cara, dari mencari celah dalam pekerjaan agar bisa korupsi, hingga menyuap atasan agar bisa menjadi PNS.

Walau ceritanya fiktif, namun ada realitanya, karena era sebelum sekarang, kasus suap menyuap untuk menjadi seorang PNS bukan cerita baru lagi. Lalu ada aspek politis, dimana untuk mempertahankan, pun meraih sebuah jabatan, maka dilakukan suap menyuap, apalagi dalam masa Pilkada sekarang ini, berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan suara, termasuk money politic.

Lantas, bagaimana dan apa yang harus dilakukan agar tertanam dan terwujud Sikap Anti Korupsi Membangun Negeri bagi generasi muda maupun lintas generasi Indonesia? Tentu jawabannya sederhana, dimulai dari hati kita untuk menanamkan Nilai-Nilai Anti Korupsi tersebut.

Apa saja Nilai Anti Korupsi? Sikap Jujur, Peduli, Mandiri, Disiplin, Tanggung Jawab, Kerja Keras, Sederhana, Berani, Adil, dan Sabar. Namun apakah kita sanggup melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari dan saat melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita?

Menurut Pak Nurul Ghufron, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, bahwasanya untuk membangun Budaya Anti Korupsi Membangun Negeri, seluruh elemen masyarakat, terutama kaum milenial dan peserta didik kita harus memiliki Karakter Patriotis Bangsa, diantaranya:

#1. Kecintaan pada tanah air dan rakyat

#2. Kerelaan, Pengorbanan tenaga, harta dan jiwa

#3. Kesatuan dalam Keragaman Berbangsa

#4. Saling Menghargai dan Solidaritas

#5. Kesederhanaan

#6. Kemandirian

Lantas jika tidak memiliki karakter Patriotis Bangsa? Maka yang tinggal hanyalah sejarah dan kita semua tentunya tidak ingin karena korupsi maka sebuah negara hancur. Oleh karena itu untuk Membangun Budaya Antikorupsi, yang perlu ditanamkan pertamakali adalah Membangun Kesadaran tentang korupsi dan dampaknya. Kedua, Menjadi Pribadi yang Memiliki Integritas Tinggi. Ketiga, Keinginan untuk tidak pernah melakukan korupsi. Keempat, Menjadi pendorong untuk mencegah orang lain dan mengajak orang lain melawan tindakan korupsi.

Semoga Semangat dan Karakter Antikorupsi benar mampu kita untuk Membangun Negeri yang kita cintai ini…

Comments (6)

  1. Pak paaak

    Yang saya bayangkan
    Ketika benar TIDAK ada pejabat, dewan, atau bahkan rakyat biasa yang korupsi dalam negeri ini, betapa majunya Indonesia ini ya.

    Betapa makmurnya rakyat dan segala jajarannya. Tapi apalah daya, sifat manusia yang lebih sering dihasut oleh hawa panas 😁 jadinya tidak ada yang bisa menghalangi bahkan mencegah datangnya korupsi dijiwa 😆

  2. Dear Ms. FitriyaniElHasan…

    Ketika pejabat baik itu tinggi maupun rendah bahkan semua elemen masyarakat tidak korupsi?

    benarlah harapan ibu..betapa makmurnya Indonesia ini, tapi apa dikata? korupsi nyatanya masih ada dan merajalela…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar