2

Andai NKRI dan Finlandia Sama….. (+3)

Rama Wibi May 4, 2015

Berandai-andai itu memang yang paling enak dan tidak dilarang oleh siapapun, begitupun dengan saya yang berandai jika sistem pendidikan di NKRI dapat sebagus dan seefektif di Finlandia, meski jauh dari harapan tentang sistem pendidikan yang sama tapi berharap untuk menjadi salah satu pendidik yang mempunyai cara berfikir dan mengajar yang sama dengan disana, boleh bukan.

Di tahun 2015 ini, hari Pendidikan Nasional sudah diperingati kurang lebih hampir 55 tahun di negara kita ini, dan sepanjang itu pula kurikulum baik ditingkat dasar, menengah dan tinggi mengalami perubahan-perubahan untuk mencapai yang lebih baik. Namun entah kenapa semakin berubah suatu kurikulum malah membuat kemunduran-kemunduran dalam sistem pembelajaran di negara ini, entah kita sebagai pengajar yang tidak mengerti apa mau dari Kemdikbud atau Kemdikbud yang terlalu percaya diri menetapkan suatu kurikulum tanpa menerapkan motto dari sebuah logo yang tertera di lobi kantor mereka.

Pendidikan adalah hak mutlak dan hak dasar bagi setiap manusia tanpa terkecuali, jauh sebelum negara ini terbentuk, jauh sebelum bahtera Nuh terombang ambing di lautan luas, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia untuk pertama kalinya agar menjadi khalifah di muka bumi ini, khalifah secara luas bukan hanya sekedar berjalan dan menyusuri planet bumi ini. Pendidikan menjadi kunci bahwa manusia dibedakan fikirannya dan juga nafsunya, pendidikan menjadi jembatan untuk manusia menjadi lebih baik dibandingkan manusia terdahulunya.

Di NKRI tercinta ini sudah menjadi barang mewah membicarakan tentang sistem pendidikan kita, tidak banyak (baca : pusing) yang bisa dibicarakan memang dalam segi teoritis, tapi dalam hal hasil kita bisa bicara banyak melalui peserta didik yang bisa membanggakan kreatifitas dan ilmu pelajarannya melalui beasiswa dan karya-karyanya. Namun sangat sayang jika melihat para peserta didik tersebut, mereka adalah peserta didik yang lebih banyak tinggal di daerah seberang dan jauh dari segala kemewahan informasi juga teknologi, mereka tidak jarang tertinggal dari segala macam kebutuhan dalam pendidikan, namun dalam hal prestasi dan juga daya juang mereka lebih unggul dibandingkan para peserta didik yang berada di ibu kota tercinta ini.

Kita sebagai pengajar memang menjadi pion pertama yang dijalankan dalam sebuah sistem percaturan (baca : pendidikan), ketika pion (baca : guru) salah langkah maka habis sudahlah para peserta didik menjalani masa depannya. Namun pion (baca : guru) juga bisa menjadi menteri atau apapun yang di inginkan ketika sudah mencapi ujung papan permainan lawan, maksudnya adalah guru mempunyai otoritas penuh ketika didalam kelas, dia bisa menjadi raja yang otoriter atau bijaksana, atau menjadi perdana mentri yang mempunyai banyak tips dan juga trik strategi, atau menjadi benteng yang akan selalu melindungi peserta didiknya dari segala macam kekurangannya.

Menjadi pengajar adalah suatu penjelmaan tangan Tuhan, sama seperti profesi dokter yang menjadi penjelmaan tangan Tuhan dimuka bumi ini, jika dokter adalah pencabut/penyelamat nyawa manusia, maka guru atau pengajar adalah perusak/penyemangat kehidupan manusia. Memang tidak sepenuhnya disalahkan ketika ada peserta didik yang tidak sukses dan banyak melakukan kesalahan/kriminal dalam kehidupannya, namun ketika peserta didik tersebut bilang kalau dia seperti ini karena gurunya yang bla, bla, bla, bla, bla. Maka mau tidak mau kita sebagai pengajar terkena imbasnya, mungkin pengajar tersebut hanya mengejar target sebuah lembaran bersertifikasi dan juga penyetaraan profesi tanpa memperhatikan apa yang diinginkan oleh peserta didik.

Dalam pendidikan Plato berucap “Pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belengggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dst.“. Lain lagi dengan Socrates yang mempunyai keyakinan bahwa “Seseorang guru tidak memaksa wibawanya atau memaksa gagasan-gagasan atau pengetahuan kepada seorang siswa, yang mana seorang siswa dituntut untuk mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis, ini adalah suatu metode untuk meneruskan inteleknya dan mengembangkan kebiasaan¬¨kebiasaannya dan kekuatan mental.“.

Dari dua filsuf sejati saat ini, kita sebagai pengajar seharusnya bisa mengambil kesimpulan sederhana tanpa harus membaca berlembar-lembar Silabus dan juga RPP ~yang lebih sering mendekam diatas meja kita diruang guru~ yang senantiasa menjadi acuan kita setiap proses pembelajaran. Kesimpulan sederhana tersebut bagi saya adalah “keberhasilan peserta didik dalam satu mata pelajaran yang kita ampu bukan dari sederet angka yang kita berikan untuk buku hasil pembelajaran mereka, melainkan mereka dapat mengetahui apa yang sedang mereka pelajari tanpa harus mereka bisa dan mereka terpaksa dapat mengerjakannya” itulah kesimpulan sederhana yang saya buat dari setiap proses pembelajaran yang saya lakukan.

Itulah saya menjadi apa yang saya bisa didalam kelas, karena bagi saya kelas adalah wilayah kekuasaan saya, orang lain (baca : kepala sekolah, pengawas, dll) tidak berhak mengatur kita selama apa yang kita lakukan didalam kelas dalam koridor dunia pendidikan. Kadang saya hanya memutarkan film kepada peserta didik saya, atau saya memutarkan lagu-lagu untuk menenami mereka belajar bersama saya. Namun ketika saya terbentur dengan sistem yang mengharuskan mereka mendapatkan sederet angka didalam buku hasil pembelajaran saya mau tidak mau harus melakukan penilain tersebut. Meski kadang saya merasa tidak nyaman dengan proses penilaian yang memihak kepada peserta didik yang mempunyai kriteria pengetahuan yang layak, sedangkan peserta didik yang mempunyai kriteria lain selalu dianggap tidak layak memenuhi ketuntasan nilai minimal.

Namun itu sistem pendidikan kita, suka tidak suka, mau tidak mau, kita sebagai pengajar harus mengikutinya namun kita bukan menyerah, melainkan kita bisa menciptakan kreasi didalam kelas bersama peserta didik, kita bisa menjadi pendidik seperti pendidik di Finlandia sana yang lebih mengutamakan peserta didik dibandingkan selembar kertas bertuliskan sertifikasi.

 

~r4,20150504~

 

Comments (2)

  1. Setuju sekali dengan pernyataan…kita sebagai pengajar harus mengikutinya namun kita bukan menyerah, melainkan kita bisa menciptakan kreasi didalam kelas bersama peserta didik, kita bisa menjadi pendidik seperti pendidik di Finlandia sana yang lebih mengutamakan peserta didik dibandingkan selembar kertas bertuliskan sertifikasi.

  2. Namun itu sistem pendidikan kita, suka tidak suka, mau tidak mau, kita sebagai pengajar harus mengikutinya namun kita bukan menyerah, melainkan kita bisa menciptakan kreasi didalam kelas bersama peserta didik, kita bisa menjadi pendidik seperti pendidik di Finlandia sana yang lebih mengutamakan peserta didik dibandingkan selembar kertas bertuliskan sertifikasi.
    ====================================
    heeeeeeeeeee inti dari semua tulisan di sini
    kurikulum firlandia DIHARAP SAMA dengan indonesia
    tapi sy kurang setuju dengan dihubungkan sertifikasi ….. profesional itu ya digaji mas ….. yang jelas sertifikasi atau tidak kita tetap maksimal mengajar … jika ada sertifikasi ya dinikmati … itu penghargaan loe … oke? TETAP SEMANGAT

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar