2

Anakmu Bukan Dirimu (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto April 2, 2021

            Kali ini giliran film remaja Sky High yang akan saya bahas. Ya, film remaja superhero yang bercerita tentang William Stronghold. Will ini mempunyai ayah dan ibu yang keduanya merupakan superhero paling hebat di kota tempat tinggal mereka. Biasanya jika orangtuanya seorang superhero, maka anaknya pun mewarisi kekuatan orangtuanya dan menjadi superhero pula. Bahkan ada sebuah sekolah menengah yang sengaja didirikan untuk membimbing anak-anak superhero ini mengembangkan bakatnya. Namanya adalah Sky High, dan sekolah ini terletak mengambang di angkasa karena menggunakan sistem anti gravitasi.

            Sebagai seorang anak dengan kedua orang tua yang sangat terkenal di penjuru kota, sangat wajar bila semua orang berharap Will juga mewarisi kemampuan kedua orangtuanya. Bahkan ayahnya bermimpi suatu saat mereka bisa beraksi bertiga menyelamatkan kota. Will merasa terbebani dengan bayang-bayang nama besar kedua orangtuanya. Maka semua kecewa saat Will tidak bisa menunjukkan bakat superheronya. Dia tidak memiliki tenaga super kuat seperti ayahnya maupun kemampuan terbang seperti ibunya. Ayahnya sangat jelas menunjukkan rasa kecewanya, meskipun ibunya agak lebih lunak sikapnya.

            Beginilah kurang lebih kultur yang terjadi di sekitar kita. Saat ada tokoh populer kita berharap anaknya pun mewarisi bakatnya. Banyak sekali orang tua yang ingin anaknya pintar secara akademis, karena mereka dulunya adalah bintang di sekolahnya. Bahkan ada yang rela merogoh kocek lebih dalam untuk memberikan les privat kepada anaknya, agar prestasi anaknya melejit di sekolah. Ini terjadi kepada keponakan saya sendiri. Karena kakak saya dan istrinya dulu berprestasi di sekolah, maka mereka ingin anaknya yang cuma satu itu juga punya prestasi yang mentereng.

            Saya dulu juga pernah diprotes oleh seorang guru di sekolah pertama tempat saya mengajar. Beliau terkenal sebagai guru bertangan dingin yang sukses mengantarkan anak didiknya lulus dengan nilai yang bagus. Saat itu putra beliau kelas 5, dan saya yang mengajar Bahasa Inggris di kelasnya. Ternyata hasil ulangan sang putra ini sangat jauh dari ekspektasi, seingat saya waktu itu hasil ulangannya berkepala 3. Esoknya beliau menemui saya untuk menanyakan tentang hasil ulangan putranya, ya saya jelaskan memang hasilnya seperti itu. Meskipun sangat terlihat kekecewaannya, beliau berusaha menerima penjelasan saya dengan lapang dada. Sang putra ini memang sehari-harinya bagus prestasinya, wajarlah ibunya merasa kecewa dan curiga kepada saya. Tetapi memang untuk bahasa Inggris anak ini memang perlu usaha yang lebih keras dari  biasanya. Pernah juga ada murid saya yang selalu ketakutan jika mendapat nilai kurang dari 80, karena ibunya pasti akan marah besar. Padahal 80 itu sudah bagus lho.

            Begitulah, masih banyak yang seperti ini di kalangan masyarakat kita. Apakah jika kita berprestasi, otomatis anak-anak kita akan berprestasi pula? Ingat, anak kita bukanlah kita. Mereka pribadi yang sepenuhnya berbeda. Ada DNA pasangan kita yang ikut menentukan potensi dan bakat mereka. Anak juga bukan komoditi yang bisa kita perlakukan seenaknya, kita bentuk sesuai mau kita. Mereka punya perasaan. Ada rasa tertekan yang mereka alami jika apa yang mereka hasilkan tidak sesuai kemauan orang tua. Seperti dalam kisah Will Stronghold.

            Maka yang perlu kita lakukan sebagai orang tua adalah menerima apa pun kodisi mereka, serta mendampingi mereka menemukan potensi terbesarnya dalam proses yang wajar dan tanpa tekanan. Denagn begitu, mereka akan berkembang dengan wajar, maksimal, dan bahagia. Inilah yang paling penting. Tumbuh dengan bahagia.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar