12

Anak super malas itu mulai berubah (+5)

Bu Etna @gurutematik February 9, 2014

Selamat Siang Guraru. Gundi anak super malas yang telah saya posting terdahulu, mulai ingin berubah. Alhamdulillah. Artikel ini sebagai lanjutan laporan pembinaan saya terhadapnya. Walau tak mudah, Insya Allah tak sulit, itulah yang saya alami selama melayaninya. Gundi (nama samaran) akhirnya menyadari kekurangannya dan ingin mengubah sikap dari malas menjadi rajin. Artikel ini mengungkapkan langkah awal Gundi dalam mengubah karakter. Saya harus terus memotivasinya agar pembinaan karakter yang agak khusus ini tidak kandas di tengah jalan. Mungkin sulit bagi Gundi untuk mengubah diri sendiri tanpa perhatian dan bantuan orang lain.

Pagi ini saya berada di kelas Gundi pada jam pertama dan kedua. Doa awal telah berlangsung dan saya sudah mencatat kehadiran siswa. Ketika tanya jawab tentang prasyarat pengetahuan berlangsung, Gundi tampak serius. Wajah acuh yang selama ini terlihat sekali, sudah mulai hilang, alhamdulillah. Kalau beberapa tahap awal dapat dia lakukan dengan baik, Insya Allah dia akan berhasil melawan sisi negatif dalam dirinya yang selama ini menguasai perasaan dan pikirannya.

Alhamdulillah, kegiatan pembelajaran ini dapat berjalan lancar. Saya mendekati Gundi ketika para siswa berdiskusi dalam kelompok kecil. Buku tulisnya baru dan bersampul cokelat. Ada buku paket kimia dan dia sedang mengutip catatan di papan. Namun ada sesuatu yang berbeda, wajahnya tampak sedih. Mengapa dia sedih? Selama saya mengajar, tak pernah dia bersedih. Wah … saya harus membantunya sampai tuntas. Sedih juga merupakan faktor penghambat, bagaimana dia dapat belajar dengan baik kalau dia sering bersedih.

Sejak awal saya sudah mengira kalau ada sesuatu yang membuat dia tertekan, sehingga dia menjadi anak malas bahkan super malas. Sayang, ibu akan tetap melayanimu. Ibu akan berupaya membantumu, apakah sekedar motivasi atau lebih. Eh … ternyata bathin ini turut berbicara.

“Bagaimana khabarmu?”

“Ehm … baik Bu. Maaf Bu, saya sudah berusaha meninggalkan sifat malas jauh-jauh, tetapi masih sering gagal.”

“Sabarlah, sesuatu yang telah terbiasa memang sulit dibuang. Lakukanlah secara bertahap. Langkah awalmu, akan menentukan langkah berikutnya. Apa yang sudah kau lakukan selama 2 hari ini?”

“Saya mandi lebih bersih dari biasanya, mencuci rambut dan menyisir dengan rapi. Saya mulai sholat lagi. Pakaian kuseterika dahulu, kamar kubersihkan dan buku-buku kuatur. Saya membuat jadwal kegiatan dan berusaha mematuhinya, membeli beberapa buku tulis.”

“Bagus sekali. Langkah awalmu sudah baik. Selalu lakukan yang terbaik ya.”

“Bu ….”

“Ya sayang?”

“Tadi malam saya mendengarkan musik sambil tiduran, akhirnya tertidur hingga pagi. Hari ini ada 3 PR, kimia, fisika dan biologi. Biologinya tadi pagi sudah mengutip dari teman-teman. Tetapi kimia dan fisika belum mengerjakan Bu.”

“Sudahlah tidak apa-apa, asal kau terus berjuang ya.”

“Terima kasih Ibu tidak marah. Tetapi nanti saya kena marah lagi Bu, fisika jamnya setelah kimia.”

“Sayang, kau telah berusaha dan ibu menghargai usahamu. Tentang fisika, sudah tentu kau harus terima resikonya. Hadapilah, upayakan lebih sopan.”

“Bu saya minta ijin, bolehkah mengutip tugas fisika sebentar?”

“Menurut aturan, permintaanmu tidak dapat kuijinkan.”

Tadi Gundi sudah mulai tersenyum, garis-garis sedih di wajahnya tertutup oleh senyumnya. Namun sekarang wajah itu tampak aneh. Apakah dia merasa kecewa dengan jawaban tadi? Saya kan harus mendidiknya menjadi anak yang tahu aturan. Saya harus membantu dia menjadi pribadi yang baik, tak sekedar malas menjadi rajin. Insya Allah dia bisa menyadari bahwa semua sifat yang tak disukai Allah SWT harus dibuangnya jauh-jauh. Namun mengapa sekarang wajahnya berubah seperti itu?  Apa yang dia pikir dan rasakan?

“Gun, mengutip pekerjaan teman itu tidak benar. Kalau ditanya kaupun juga tidak mampu menjawabnya. Iya kan? Sebaiknya kau nanti menurutlah pada guru fisikamu, perhatikan dan ikuti dengan baik. Kalau kurang mengerti segera bertanya ke teman terdekatmu.”

Dia menatapku dan mata itu kembali tampak sedih, walau sekarang sudah tersenyum lagi.

“Terima kasih sarannya Bu, akan saya lakukan.”

“Sayang, kalau ibu boleh tahu, mengapa kau bersedih?”

“Bagaimana ibu tahu kalau saya sedih?”

“Wajahmu nak, ibu dapat membaca dari garis-garis di wajahmu.”

“Ceritanya panjang Bu, nanti saja saya ke ruang ibu, istirahat siang.”

“OK sayang, do the best and take care.”

“Thanks mom.”

Gundi sudah berusaha untuk menjadi anak rajin, walaupun usaha itu belum optimal. Mendengarkan musik sambil tiduran, itu yang dikatakan tadi. Sebenarya tak masalah, asalkan sudah mengerjakan semua tugas. Hal ini juga harus dibahas; tadi saya belum sempat menegurnya. Nanti istirahat siang dia mau ke ruang guru. Semoga langkah berikutnya ini dapat berhasil. Saya pikir kasihan juga anak ini. Tegakah saya membiarkan dan meninggalkannya? Ya tak mungkinlah, serepot apapun saya dalam menanganinya, tetap harus saya tuntaskan. Bagi Guraru yang belum sempat membaca bagian pertama, berikut ini linknya. Insya Allah bermanfaat.

http://guraru.org/guru-berbagi/menangani-anak-yang-super-malas/

To be continued.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (12)

  1. Salut atas semangat Bunda, ketika Allah hadirkan anak yg “malas” menurut pandangan kita sebagai manusia. Ternyata jika kita renungkan, Allah menguji tingkat kesabaran dan keikhlasan kita sebagai guru. Jika kita lulus ujian tersebut Allah akan meningkatkan derajat ketakwaan kita. Insya Allah, dengan niat yg baik, Allah akan ringankan tugas2 yg kita kerjakan. Semangat terus Bunda..

  2. Amin ya rabbal alamin. Alhamdulillah bu Fitria, walau tak mudah namun tak sulit ya. Kita memang harus sabar. Kita amat bersyukur menjadi guru, sebab selalu dapat beramal ilmu tanpa uang bahkan dibayar. Ibadah yang luar biasa nikmatnya ini, tegakah kita meninggalkan mereka para anak bangsa itu? Alhamdulillah bu, saya masih terus memiliki niat kuat utuk belajar mengajar sepanjang hayat, amin. Thx responnya bu. Wah saya jadi malu, ibu cepat sekali merespon, sampai saya terkejut. Hehehe, bahagianya berbagi itu ya. Jangan putuskan silahturahmi ini, apalagi sebenarnya sejak awal saya sudah kagum pada ibu. Sungguh lho. Wawasan ibu luas sekali, saya senang membaca artikelnya. Salam perjuangan.

  3. @bu Fitria: Hehehe saya makin suka pada pribadi ibu. OK ibu, mari kita terus sharing tentang pembelajaran, termasuk pembinaan karakter bagsa. Dengan begitu kita sendiri harus terus berjuang untuk bisa menjadi figur contoh bagi anak bangsa, terutama anak didik yang sedang menjadi tanggung jawab kita. Pada jaman seperti ini, masalah anak bangsa makin kompleks, tidak seperti kita dahulu. Sampai berjumpa di dunia maya lagi. Salam perjuangan.

  4. Hehehe, bu Sri begitulah anak-anak bu. Insya Allah kita bisa sabar dan terus memiliki niat kuat untuk membina mereka, semalas apapun. Thx responnya bu, maaf agak terlambat membuka. Tadi saya malah buka-buka artikel tentang pak VS terus, hehehe sampai tidak fokus pada kegiatan yang lain. OK deh, salam.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar