8

ANAK DIDIK ATAU ANAK KANDUNG (0)

Firman Dedy Hermawan October 26, 2020

Rabu, tanggal 21 September 2016. Baru saja datang di rumah dari Diklat Penulisan Kreatif di kota Lumajang Honest menyambutku dengan tanpa baju sehelaipun di badannya. Aku berpikir “ada apa dengan putra bungsuku ini ? Pasti dia mau mandi. Dan benar adanya, hanya saja dia mendengar motorku di depan rumah, dia berlari untuk menyambutku dan tidak menghiraukan jika dia sudah tidak berpakaian sama sekali. “apa itu Bi ? Itu tuh yang ada di tas kecil yang Abi bawa ? kamera yach ?” Aku pun tidak langsung menjawab pertanyaannya, “sudah Honest, cepat kamu mandi sana !” Perintahku. Tapi dia sangat penasaran dengan tas hitam kecil yang aku sengaja bawa dari Diklat tadi padi sampai sore. “Itu pasti kamera yach Bi ? Aku loh tahu “. Tidak lama kemudian Putri – putri ku datang juga ke arahku dan Nisa pun bertanya sama seperti Kakaknya. “Apa itu Bi di tas kecil ?” Kakak Honest yang belum mendapat jawaban dariku sudah menjawab pertanyaan adiknya dengan tanpa ragu. “Itu Kamera Nis !” Akhirnya Aku pun mengiyakan apa yang di jawab Kakak Honest. “Aku pinjam Bi, Aku pinjam !” kata Nisa dengan semangatnya. “Iya boleh tapi kalian harus mandi dulu semuanya”. Pintaku dengan nada agak tinggi karena capek setelah beraktifitas.

Sekilas cerita diatas menggambarkan betapa Anak “kandung” kita sangat bersemangat jika orang tua mereka datang dari kerja dan kemudian tanpa pembukaan bicara satu katapun mereka sudah memberi pertanyaan bertubi tubi tentang hal yang belum mereka tahu sebelumnya. Berbeda hal nya ketika kita punya Anak Didik apalagi bertempat tinggal yang jauh dari perkotaan bertemu dengan kita sebagai orang tua di sekolah, mereka jarang atau bahkan tidak sama sekali bertanya kepada kita tentang sesuatu apapun bahkan tentan pelajaran yang akan mereka terima pada hari mereka masuk. Kita sendiri sebagai guru yang serign kali bertanya kepada Anak Didik kita mengenai sesuatu atapun mengenai pelajaran yang sedang kita sampaikan pada saat itu.

Dari satu perbedaan itu, kita mungkin langsung bisa menyimpulkan bahwa kita memang sudah lebih dekat dan lama berinteraksi dengan Anak Kandung kita sendiri. Berbeda dengan pertemuan Anak Didik kita di sekolah yang paling lama kita bertemu hanya empat jam pelajaran dalam seminggu. Ditambah lagi dengan jumlah Anak Kandung kita yang hanya mungkin satu atau paling banyak ada tiga Anak Kandung di rumah, itu adalah pengalamanku sendiri. Sedangkan Anak Didik kita bisa mencapai 20 atau bahkan 40 Anak Didik dalam satu kelas, belum lagi ketika kita harus mengajar 6 sampai dengan 12 atau lebih kelas dalam seminggu. Berarti bisa jadi kita bertemu dengan siwa – siswi baru bisa kurang lebih 20 kali 2 kelas yaitu 40 siswa – siswi jika di MTs aku. Sedangkan di SMK bisa jadi 25 kali 6 kelas bisa berjumlah 150 siswa – siswi dalam setahun. Bagaimana kita bisa mengenal semuanya atau dekat dengan semuanya ? Kedekatan inilah yang tidak bisa kita lakukan kepada Anak Didik kita sehingga meraka jarang atau bahkan menanyakan sesuatu meski pertanyaan itu hanya sepele. Dan mereka akan berpikir tidak akan bertanya juga ketika pelajaran sedang berlangsung.

Tidak heran kemudian kita sebagai guru harus mempunyai bidang ilmu diluar bidang ilmu yang sudah kita terima selama masa perkuliahan. Yang pasti ilmu yang kita terima di perkulihan itu harus kita tambah lagi agar bidang ilmu yang dibutuhkan Anak Didik kita seperti Kompetensi Pedagogik yang bisa membantu kita untuk lebih mengenal Anak Didik kita. Kadang kala kita lebih memilih untuk lebih dekat dengan Anak Kandung kita sendiri dari pada Anak Didik kita di sekolah. Banyak juga yang berpikir Anak Kandung kita lebih membutuhkan kita dari pada Anak Didik kita. Dengan seperti itu, maka kita akan bertambah lebih berat dalam menjalankan amanah yang sudah diberikan kita semenjak kita menerima SK Pegawai Negeri pertama kali. Mengapa kita tidak merubah pemikiran kita menjadi sebaliknya, kita mencoba untuk membantu Anak Didik kita yang kadang butuh untuk mencapai impian meraka. Dan kita niatkan bahwa dengan membantu Anak Didik kita, Maka yang Maha Kuasa akan dengan mudah mengetahui bahwa kita berbuat seperti itu karana kita ingin Anak Kandung kita diperlakukan juga seperti itu di sekolah mereka masing – masing. Harus kita yakini bahwa Yang Maha Kuasa bisa berbuat seperti apa yang kita harapkan meski kita tidak mengutarakannya. Yang Maha Tahu akan tahu persis kita ingin selalu dekat dengan keluarga kita sendiri. Maka daripada itu, kita tenangkan saja hati kita dan kita pasrahkan aja sandiwara dunia ini kepada-Nya. Mudah –mudahan kita semua yang berprofesi sebagai pendidik ini bisa bekerja maksimal di sekolah sehingga mendapatkan anugerah tiada tara dari Sang Pncipta alam semesta ini, aaamiiin …………………………..

Comments (8)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar