2

Anak Bukan Kopi Pahit !!! (+4)

Rama Wibi May 13, 2015

Kalau ditilik dari judulnya, rada-rada berat dan agak menyentil para orang tua yang sok kaya atau sok berjiwa pendidik atau apalah itu, padahal keputusan mereka untuk memaksakan apa yang disebut dengan peringkat atau pendidikan kepada mereka yang belum saatnya atau bukan minatnya malah menambah penderitaan si anak.

Buat teman-teman yang sudah punya anak atau yang berniat bikin anak setelah postingan ini, pasti suatu waktu bakalan mengeluh dengan keadaan anak-anaknya ini disebabkan, karena tidak pernah mendapatkan rangking, atau tidak berada di peringkat 1-3, sering bolos sekolah, nilai-nilai mata pelajarannya semua dibawah KKM. Yang lebih menohok dan menonjok ketika ada family gathering yang diadakan oleh tempat bapak atau ibunya bekerja, pasti sang teman-temannya membanggakan anak-anaknya dengan pelbagai macam kesombongan.

“deeuuuhhhh jeeeuung,,anak gw kemarin dari tempat kursus biolanya dikasih beasiswa buat ke Germany”

“eehhh seesss,,tau gak loh,,kemarin kata wali kelasnya anak gw termasuk anak yang berbakat dan bisa jadi penerus Habibie lhoo…”

“eh sob, anak lo peringkat berapa kemarin pas bagi raport?? anak gw peringkat 1”, *ya iyalah anak lu peringkat 1, anak2 yg lain g pernah masuk sekolah* jawab kita dalam hati

“eeehhhh booooo, jeeeejj tau ga, macinca anak eeiikeee dapet beasiswa ke New York booooo,,iihh hati eeiikee senang bagindang…..”

So, setelah mendapatkan curhatan para temen-temen dikantor atas prestasi anak-anak mereka terus kita jadi kalang kabut layaknya banci yang dikejar-kejar sama satpol pp ditengah malam, sibuk cari tempat kursus, marah-marah gak jelas karena raport anak kita tidak pernah terdapat rangking, masukin data ke sekolah-sekolah internasional dan lain sebagainya.

PUAS??? udah berhasil mendidik anak??? yakin anak kita semua bakalan dapet rangking atau bakalan berprestasi???

Hellloooo, sadar gak sih,,,

“mereka boleh anak-anak kalian tapi mereka juga punya hidup yang rindu pada dirinya sendiri, kasih mereka kasih sayang tapi jangan paksakan jalan pikiran mu.”

Kenapa kita tidak menjadikan mereka apa yang mereka inginkan, bukan apa yang kita inginkan. Analoginya anak-anak yang dititipkan ke kalian itu saya ibaratkan kopi pahit yang diminum oleh para penderita diabetes akut, kopi pahit saya ibaratkan sang anak dan penderita diabetes akut adalah kita para orang tua yang sok congak dan terus menerus mengaduk-aduk kopi manis yang diisikan gula bersendok-sendok.

Pada saat penderita diabetes akut meminum kopi pahit dan ingin merasakan kopi manis, maka secara terus menerus dia akan menambahkan gula kedalam kopi pahit tersebut, sesendok belum terasa manis, dua sendok pun belum terasa manis, ditambah lagi tiga sendok juga belum terasa manis, berpuluh-puluh sendok yang berisi gula dicemplungkan kedalam kopi pahit itu, belum juga terasa manis, hingga akhirnya kopi pahit itu tidak lagi berasa kopi manis dan tidak lagi berasa sebuah cita rasa kopi.

Ingin jadi anaknya udah gak berasa seperti kopi lagi???

Coba kita membimbing anak kita untuk menjadi anak yang disukai oleh teman-temannya, suka membantu orang terlebih teman-temannya, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak diajak berteman, enak diajak ngobrol, atau kita ajarkan dia optimis dan humoris. Kenapa gak ada orang tua yang mengajarkan mereka seperti itu?????

Bisa tidak kita menjadikan mereka dengan nilai sekolah yang biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar rangking satu, CAN WE!!!

Di dunia ini banyakkan orang yang bercita-cita pengen jadi seorang pahlawan, tapi belakangan menjadi seorang biasa di dunia yang fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak yang kita lahirkan dan jaga tidak boleh menjadi seseorang biasa tetapi baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang suami atau isteri yang berbudi luhur, seorang ayah atau ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik. Lalu ketika dia mendapatkan ranking 23 dari 40 orang murid di kelasnya, kenapa kita masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 17 anak-anak di belakang anak kita? Jika kita adalah orangtua mereka, bagaimana perasaannya?

Teman-teman sekalian, membaca tulisan sang rumi Khalil Gibran semoga bisa membuat kita merasa merinding dan menimbang kembali apakah kita sudah pantas menyanyangi anak-anak kita ?!?

Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya,

Tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmu lah Anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

 – Khalil Gibran –

 

 

 ~r4,20150513~ 

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar