2

Allien(cerpensingsek) (+2)

Botaksakti November 28, 2012

Menjelang hari kemerdekaan itu, kampung kami begitu berubah. Geliat warganya terlihat jelas sekali. Mereka tampak begitu rajin membersihkan lingkungan sekitar rumah masing-masing. Hari-hari begitu hidup. Halaman yang sudah bersih, menjadi semakin berkilat karena pemiliknya seolah tak pernah membiarkan satu daun keringpun mengotorinya.

Rumah-rumah yang dulu tampak kusam kini bersinar kembali. Dipoles dengan berbagai cat berwarna terang, rumah-rumah itu tampak bercahaya seperti halnya cahaya yang benderang di wajah-wajah penghuninya. Sebuah pemandangan dan suasana yang tampak kontras dengan sebelumnya.

Bertahun-tahun, kampung kami seakan lupa pada hari kemerdekaan. Setiap tiba waktu memperingati hari kemerdekaan itu, kampung kami seolah tidak lagi peduli. Meski di kampung sekitar suasana begitu riuh dan penuh kegembiraan, kampung kami bergeming. Terpaku pada keadaan hidup segan mati tak mau.

Namun, seketika kampung kami berubah pada peringatan kemerdekaan kali ini.. Bermula dari kegelisahan Pak RT tentang keadaan kampung, Beliau mengajak warga mendiskusikan tentang bagaimana mengubah penampakan kampung kami. Akhirnya, dengan diskusi yang tidak terlalu panjang, dicapailah kesepakatan bahwa untuk merayakan kemerdekaan kali ini, di kampung kami akan diadakan sebuah lomba. Tajuk lomba itu adalah pemilihan "Rumah Inspirasi'.

Rumah inspirasi yang kami maksud adalah sebuah rumah lengkap dengan penghuninya plus lingkungannya yang terawat baik sehingga mampu menginspirasi warga untuk merawat rumahnya masing-masing. maka, sejak lomba itu diumumkan, lengkap dengan hadiahnya, giatlah warga kampung kami. Semua berlomba merawat dan mendandani rumah serta lingkungannya semenarik mungkin.

"Wah….sepertinya rumah Pak Surya yang akan jadi pemenang!", kata bang Sani menyapaku pagi itu.

"Eh, Bang Sani. Gimana, Bang? Nggak, lah! Rumah Bang Sanilah yang akan jadi juara!", saya merendah.

"Sudah didaftarkan ke Pak RT, Pak?"

"Memang harus didaftarkan, Bang?"

"Iya, lah! Aturannya begitu!"

"Wah…belum itu. Masih bisa, kan ya?"

"Masih, Pak! Sudah banyak  lho yang mendaftar!"

Tanpa buang waktu, selepas percakapan dengan Bang Sani, saya segera meluncur ke rumah Pak RT untuk mendaftarkan rumah saya.

Sebetulnya, jujur saja, meski memang rumah saya tampaknya cukup menarik, tapi masih banyak rumah tetanggaku yang juga menarik. Bahkan,menurut saya, rumah-rumah mereka jauh lebih menarik daripada rumah saya. Dan yang paling menarik, memang rumah Pak Jody, yang letaknya persis di samping rumah saya. Rumahnya besar, mewah, dan indah.

Kabarnya, Pak Jody adalah seorang pejabat terkenal. Selama ini, Beliau lebih sering tinggal di rumah dinasnya di kota. Sementara rumah yang berada di samping rumah saya itu adalah rumah pribadinya. Sehari-hari, hanya lima orang pembantunya yang merawat dan menempati tumah itu.Meski hanya pembantu yang tinggal di situ, namun memang rumah itu terlihat sangat  terawat.

Meski kadang-kadang Pak Jody menengok rumahnya, sepertinya beliau jarang sekali bertegur sapa dengan tetangga. jangankan dengan tetangga jauh, dengan saya yang tinggal di samping rumahnya saja sepertinya belum pernah.

"Ah, mungkin Beliau sibuk, maklum pejabat!", kata saya ketika menanggapi warga yang sering 'ngrasani' Beliau.

"Tapi kalau nanti rumah Beliau yang menang, kan lucu, Pak!

Memang, kalau nanti rumah itu yang menang lomba, sepertinya lucu juga. Lha rumahnya menang kok pemiliknya tidak kenal dengan warga sekitar! Hemm……..

Hari berganti hari. Warga masih begitu antusias mendandani rumahnya. Meski ada kekhawatiran rumah 'tak jelas' itu yang akan menang, tapi tidak mengurangi semangat warga. Beberapa orang sempat berkata,"Nggak menang nggak apa-apa, yang penting kita berbuat. Toh, kalau rumah kita bersih dan indah kita sendiri juga yang memetik manfaatnya!"

Dan hari yang ditunggu tiba. Tepat setelah upacara di halaman balai kampung, Pak RT mengumumkan rumah siapa yang menjadi pemenangnya.

"Dan yang menjadi pemenang dari lomba kali ini sehingga berhak menyandang gelar "Rumah Inspirasi" adalah rumah………..Bapak Jody!", suara Pak RT lantang.

Terdengar tepuk tangan membahana. Namun itu tidak lama.

"Pak, benar, kan, rumah itu yang menjadi juara!", kata Bang Sani.

"Iya, Bang, tapi wajar kan?", saya mencoba menenagkan.

"Memang sih, tapi kok sepertinya aneh gitu, lho!"

"Aneh bagaimana?"

"Ya, kita yang jelas-jelas tinggal di sini, hidup bersama warga di sini….eh, malah nggak dianggap!", tukas Bang Sani ketus.

"He..he..he…sudahlah, Bang! Nanti itu kita sampaikan ke Pak RT sebagai masukan untuk lomba yang akan datang!"

"Tapi, Pak, saya khawatir, ini akan menjadi preseden buruk. Takutnya, warga akan kembali malas merawat rumah dan lingkungannya seperti dulu.Masa, warga dikalahkan sama 'allien'?"

Saya menghela nafas. Benar kata Bang Sani, bisa jadi karena kejadian ini warga akan pupus semangatnya.

"Ah, sudahlah. Kalaupun itu terjadi, saya akan terus berusaha 'memprovokasi' warga untuk terus merawat rumah dan lingkungannya. Nyatanya, dengan cara itu rumah dan lingkungan kami menjadi lebih nyaman dan hidup.

@Tangerang, 28 November 2012 sesaat setelah kemenangan Timnas.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!