0

ALLAH AKAN MENGUJI DENGAN APA YANG PERNAH KITA UCAPKAN (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto March 4, 2021

            Sebagai seorang muslim tentu kita percaya bahwa semua yang terjadi pada diri kita adalah atas kehendak Allah SWT. Akan menjadi apa, berjodoh dengan siapa, berapa anak kita, bagaimana status social kita, itu semua sudah tertulis di lauh mahfudz. Tugas kita hanyalah ridho terhadap segala ketentuan yang telah digariskan oleh Allah.

            Sering kita mendengar bahwa, apa yang sering kita ucapkan akan kembali kepada kita. Ucapan yang baik akan menjadi kebaikan, begitu juga ucapan yang buruk akan menjadi keburukan juga bagi yang mengucapkannya. Sebagai contoh di sebuah media social yang pernah say abaca beberapa waktu yang lalu. Seorang ibu berkisah bahwa dia dulu saat masih gadis dan bekerja jauh dari orangtuanya sering dibicarakan oleh para tetangga, “hati-hati anak gadis yang jauh dari keluarga, nanti pulang pulang hamil duluan,” Ternyata di kemudian hari diketahui bahwa anak si ibu yang mencela inilah yang hamil duluan, sedang si gadis yang dibicarakan adalah anak baik-baik.

            Begitulah, Allah akan menguji dengan apa yang pernah kita ucapkan. Begitu pun saya. Pada awal masa kepemimpinan saya sebagai kepala sekolah, saya sering menyampaikan kepada teman-teman guru bahwa rolling kepemimpinan di Yayasan Al Uswah ini adalah suatu hal biasa, bukan sesuatu yang istimewa. Naik turun jabatan tidak perlu dirisaukan. Seorang guru bisa menjadi kepala sekolah, begitu pun sebaliknya, seorang kepala sekolah bisa kembali menjadi guru biasa. Sebagai seorang prajurit, kita harus siap mengemban apa pun yang dibebankan kepada kita.

            Nah, rupanya Allah ingin melihat kesungguhan saya dalam mengucapkan kalimat tersebut. Dia ingin melihat apakah saya mampu menjalani apa yang telah saya sampaikan. Setelah 18 bulan saya mendapat amanah sebagai kepala sekolah, yayasan memanggil saya. Mereka menyampaikan bahwa aturan tentang guru dan kepala sekolah sekarang semakin ketat. Seorang kepala sekolah harus berpendidikan minimal sarjana strata 1, sedangkan saya hanya diploma 3. Maka saya harus legowo untuk tidak lagi menjadi kepala sekolah.

            Bagi saya pribadi, menjadi kepala sekolah ataupun guru biasa itu sama saja, toh saya dulu juga guru biasa dan menjadi kepala sekolah pun baru 18 bulan. Saya tetap akan berkontribusi untuk sekolah ini, cinta saya sudah terlanjur mengakar kuat di sini. Yang tidak pernah saya duga dan perkirakan adalah sikap teman-teman guru kepada saya. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang baru bergabung kurang dari 5 tahun di sekolah ini. Kepala sekolah pengganti saya pun adalah orang yang benar-benar baru bagi kami, mutasi dari SMPIT.

            Ujian pertama datang dari Tim PPDB sekolah, tanpa sepatah kata pun nama saya dicoret dari brosur PPDB dan sama sekali tidak dilibatkan dalam proses observasi calon siswa. Padahal sayalah yang membuat tim itu dan merencanakan segala pernak perniknya. Program penerbitan buku untuk anak-anak pun diambil alih, padahal pelaksanaannya masih dalam masa kepemimpinan saya.

            Mungkin ini semua hanya perasaan saya, atau karena ketidakpahaman para pimpinan sekolah itu akan tupoksi masing-masing. Atau mungkin juga kepala sekolah yang baru ingin membangun imej baru tentang kepemimpinan di sekolah. Saya tidak mau berburuk sangka. Saya anggap ini adalah ujian dari Allah atas apa yang pernah saya ucapkan dulu. Bahwa saya akan tetap berjuang dan berkontribusi di sekolah yang telah membuat saya jatuh cinta ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar