1

ALIRAN KONSTRUKTIVISTIK DAN BEVAHIORISTIK DALAM PEMBELAJARAN IPA (0)

Elisa Kristiyanti February 3, 2022

IPA adalah suatu singkatan dari kata “Ilmu Pengetahuan Alam” yang merupakan terjemahan dari kata “Natural Science” secara singkat sering disebut “Science”, Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau berkaitan dengan alam, sedangkan Science artinya ilmu pengetahuan (Husamah,dkk.2016). Pada hakikatnya IPA merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala alam yang dituangkan dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, dan hukum yang teruji kebenarannya dan dilakukan dalam suatu rangkaian kegiatan metode ilmiah (Djojosoediro). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan pengetahuan yang mengkaji gejala – gejala alam yang terdapat di alam semesta, sehingga membentuk sebuah konsep atau prinsip (Susilo, 2016). Sebagai ilmu yang mempelajari pengetahuan akan alam, sains atau IPA tidak hanya berupa kumpulan pengetahuan saja, tetapi sains mengandung empat komponen, yaitu : konten atau produk, proses, metode, sikap dan teknologi. Sehingga dalam pembelajarannya, sains harus dipelajarai secara utuh (Widowati, 2008). Saat ini pembelajaran IPA di sekolah – sekolah sedang terus berbenah, dengan adanya perubahan paradigma dari pembelajaran yang bersifat behavioristik kepada pembelajaran yang bersifat konstruktivistik. Pemahaman akan aliran behavioristik dan konstruktivistuk dapat dipelajari dengan memahami teori belajar dari keduanya.

Teori belajar behavioristik merupakan teori dengan pandangan tentang belajar sebagai perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus (rangsangan) dan respon (perilaku reaktif). Teori belajar behaviorisme menekankan bahwa factor eksternal dan dampaknya memiliki peranan dalam perubahan perilaku seseorang. Teori behaviorisme menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses pemberian tanggapan atau respon terhadap stimulus yang dihadirkan, dan hasilnya dapat diukur dan diamati. Teori ini memandang individu sebagai makhluk reaktif yang dapat memberikan respon terhadap lingkungan. Seseorang dianggap belajar sesuatu apabila sudah menunjukan adanya perubahan tingkah laku, dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami peserta didik dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yang dimaksud tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Respon muncul sebagai akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulus. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon). Menurut teori behavioristic, apa saja yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa saja yang dihasilkan oleh peserta didik (respon) semua harus bisa diamati, diukur, dan tidak boleh hanya implisit (tersirat). Factor lain yang penting adalah factor penguat, penguat disini diartikan sabagai segala sesuatu yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambah (positive reinforcement) responpun akan semakin dikuatkan begitu sebaliknya jika penguat dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan.

Suyono dan Hariyanto (2014), mengatakan ada beberapa ciri dari aliran teori belajar behavioristik, yaitu:

  1. Mengutamakan bagian – bagian kecil atau perihal kecil
  2. Bersifat mekanistis
  3. Menekankan peranan lingkungan
  4. Mementingkan pembentukan respon
  5. Menekankan pentingnya latihan

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon, dan yang terpenting dalam belajar adalah adanya input sebagai stimulus dan output yang berupa respon.

Para ahli behavioristik memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah dan mengabaikan aspek-aspek mental, dengan kata lain behavioristik tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu (Husamah & Setyaningrum, 2013).

Konstruktivistik memandang pengetahuan tidak bersifat mutlak dan bersifat subyektif, dimana pengetahuan dibentuk oleh pengalaman subyek, oleh karena itu pengetahuan akan terus berubah sesuai dengan pengalaman manusia. Berkat pengalaman yang dimiliki, manusia membangun pengetahuan melalui proses mengorganisasi dan adaptasi (Abdulhak & Darmawan, 2013).

Pemikiran konstruktivisme mengatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi aktif manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang diberikan oleh alam karena adanya interaksi manusia dengan alam. Pengetahuan bukanlah sesuatu tiruan dari kenyataan, dan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif dari kenyataan melalui suatu kegiatan dari individu. Konstruktivitis percaya bahwa pembelajar mengkonstruksikan sendiri realitas atau paling tidak menerjemahkan berlandaskan persepsi tentang pengalamannya, sehingga pengetahuan individu adalah fungsi dari pengalaman sebelumnya (Suyono dan Hariyanto, 2014).

Bagi konstruktivis, belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu, bukan sesuatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Belajar itu suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka pengertian yang berbeda. Siswa harus berpengalaman dengan membuat hipotesis, menguji hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan persoalan, mencari jawaban, menggambarkan, meneliti, berdialog, mengadaan refleksi, mengungkapakan pertanyaan, mengekpresikan gagasan, dan yang lainnya untuk membentuk konstruksi yang baru, siswa harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu.

Beberapa asumsi dasar dari konstrukstivisme, menurut Merril (dalam Suyono dan Hariyanto, 2014: 106) adalah :

  1. [P]engetahuan dikonstruksikan melalui pengalaman
  2. [B]elajar adalah penafsiran personal tentang dunia nyata;
  3. [B]elajar adalah sebuah proses aktif di mana makna dikembangkan berlandaskan pengalaman;
  4. [P]ertumbuhan konseptual berasal dari negosiasi makna, saling berbagi tentang perspektif ganda dan pengubahan representasi mental melalui pembelajaran kolaboratif;
  5. [B]elajar dapat dilakukan dalam setting nyata, ujian dapat diintegrasikan dengan tugas-tugas dan tidak merupakan aktivitas yang terpisah (penilaian autentik)

Sehubungan dengan itu, menurut Trianto (dalam Husamah,dkk : 2016) terdapat  4 prinsip konstruktivistik dalam belajar yakni sebagai berikut:

  1. Pengetahuan dibangun oleh iswa sendiri baik secara persona lmaupun sosial
  2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kepada siswa kecuali dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar
  3. Siswa aktif mengkonstruksi terus-menerus sehingga sekali terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah
  4. Guru berperan sebagai fasilitator menyediakan sarana dan situasi agar kontruksi pengetahuan siswa berjalan mulus.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru hanya bertindak sebagai motivator, fasilitator sedangkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran dan dapat mengkonstruksi pengetahuan yang didapat dari pembelajaran sebelumnya. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka masing-masing. Maka dari sinilah dengan dasar pembelajaran harus dikemas menjadi “Mengkonstruksi” bukan “Menerima” pengetahuan.

Pembelajaran IPA seharusnya lebih menekankan pada proses, dimana siswa aktif selama proses pembelajaran untuk mengkonstruksi atau membangun pengetahuan melalui serangkaian kegiatan agar pembelajaran menjadi bermakna. Dalam memperoleh pengalaman yang merupakan proses belajar siswa dapat diperoleh dengan berbagai cara, berikut adalah beberapa persentase pengalaman belajar yang dapat diperoleh siswa: Membaca (10%), Medengar (20%), Melihat (30%), Diskusi (50%), Presentasi (70%), dan Melakukan (90%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa melakukan proses penemuan menjadi sangat penting untuk membuat proses belajar menjadi lebih bermakna (Siahaan & Suyana, 2010).

Melihat dan memahami definisi behavioristik dan konstrutivistik serta pembelajaran IPA, maka dapat disimpulkan bahwa teori belajar yang tepat untuk untuk pembelajaran IPA adalah teori konstruktivistik, karena pembelajaran IPA berkembang dari hasil observasi tentang fenomena alam atau gejala alam, dengan demikian pembelajaran IPA perlu menerapkan kegiatan – kegiatan supaya siswa mampu menemukan sendiri pengetahuan atau konsep melalui pengalamannya sendiri dengan cara melakukan pengamatan, percobaan, diskusi tentang gejala alam.  Pendekatan kontruktivisme merupakan pendekatan yang yang berpusat pada siswa, dan peran guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep atau prinsip bagi diri siswa sendiri. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial dan pengetahuan diperoleh melalui aktivitas siswa untuk bernalar. Siswa akan berpartisipasi berperan aktif dalam proses pembelajaran,  serta mengembangkan kemampuan belajar mandiri, dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri. Guru berperan sebagai fasilitator, mediator, dan manajer dalam proses pembelajaran (Pujiastuti). Implementasi teori kontruktivisme dalam pembelajaran IPA dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa model pembelajaran diantaranya adalah model siklus belajar (Learning cycle). Model pembelajaran generatif (generative learning model), model pembelajaran interaktif (interactive learning model), model CLIS (Children learning in science), dan model strategi pembelajaran kooperatif atau CLS (Cooperative learning strategies). Masing-masing model tersebut memiliki kekhasan tersendiri, tetapi semuanya mengembangkan kemampuan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional (Rustaman, 2000).

Berdasarkan penjelasan diatas, perlu dipahami juga bahwa bukan berarti pendekatan behaviorisme tidak bisa digunakan sama sekali dalam pembelajaran IPA. Behavioristik dalam pembelajaran IPA dapat diterapkan melalui pembelajaran atau pengalaman belajar berulang dan dapat juga digunakan untuk menyediakan media atau metode pembelajaran sebagai stimulus yang menyenangkan bagi siswa untuk belajar IPA.

Selama ini sistem pendidikan lebih cenderung kepada sistem behavioristic dimana guru menjadi pusat dalam pembelajaran. Pada wal abad ke – 21 terjadi pergeseran dari penggunaan pendekatan behavioristik menjadi pendekatan kontruktivistik. Implementasi pendekatan kontruktivistik dapat memperhatikan beberapa hal berikut ini :

  • Belajar aktif
  • Siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran yang bersifat otentik dan seimbang
  • Aktivitas belajar harus menarik dan menantang
  • Siswa harus dapat mengaitkan pengetahuan yang sudah mereka dapat dengan pengetahuan baru
  • Siswa harus mampu merefleksikan pengetahuan yang sedang dipelajari
  • Guru berperan sebagai fasilitator
  • Guru dapat memberi bantuan berupa scaffolding yang diperlukan siswa dalam menepuh proses belajar (Pribadi, 2009).

Kenyataannya apa yang ditemui dan terjadi lapangan tidak sesuai dengan harapan, masih banyak guru belum melakukan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik. Hal ini bukan sepenuhnya kesalahan atau kelalaian dari seorang guru, akan tetapi pemerintah juga. Tuntutan kurikulum dan adanya UNAS menjadi kesulitan tersendiri dan membuat guru menjadi bingung. Untuk menerapkan pembelajaran yang bersifat kontrutivistik butuh waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran dengan pendekatan behavioristic, sementara guru juga dituntut untuk menyelesaikan materi sesuai dengan batas waktunya, selain itu sistem belajar yang selama ini berlangsung dengan pembelajaran behavioristic sudah secara tidak langsung membentuk “situasi nyaman” baik oleh guru maupun siswa sehingga pembelajaran dengan pendekatan konstuktivistik tidak sepenuhnya dapat dilakukan, hanya pada materi pembelajaran tertentu. Oleh karena itu, guru harus pandai membagi waktu, melihat situasi, karakteristik siswa, dan tujuan dari pembelajaran itu sendiri, untuk dapat menerapkan pembelajaran konstruktivistik.

Daftar Pustaka

  1. Abdulhaak, Ishak dan Darmawan, Deni. 2013. Teknologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
  2. Djojosoediro, Wasih.(Tanpa tahun). Pengembangan Pembelajaran IPA SD. [online]. Tersedia : http://pjjpgsd.unesa.ac.id/dok/1.Modul-1-Hakikat IPA dan Pembelajaran IPA.pdf (5 Mei 2016, pk. 07.50)
  3. Husamah,dkk. 2016. Belajar dan Pembelajaran. Malang: UMM
  4. Husamah & Setyaningrum, Y. 2013. Desain Pembelajaran Berbasis Pencapaian Kompetensi. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya
  5. Pujiastuti, Pratiwi.(Tanpa tahun). Pembelajaran IPA Bermakna bagi Siswa Melalui Pendekatan Konstruktivisme. [online]. Tersedia : http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dr.Pratiwi Puji Astuti, M.Pd./PEMB IPA MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME.pdf (5 Mei 2016, pk. 09.35)
  6. Rustaman, Nuryani Y. Dr. 2000. Konstruktivisme dan Pembelajaran Biologi (Makalah disampaikan pada Seminar / Lokakarya Guru –guru IPA SLTP Sekolah Swasta di Bandung 7 – 15 Agustus 2000). Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI. [online]. Tersedia : http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/195012311979032-NURYANI_RUSTAMAN/KONSTRUKTIVISME_DAN_PEMBELAJARAN_IPAIBIOLOGI.pdf (5 MEi 2016, pk. 10. 26)
  7. Siahaan, Parsaoran & Suyana, Iyon. 2010. Hakekat Sains dan pembelajarannya (Disampaikan dalam pelatihan guru MIPA Papua Barat ).[online]. Tersedia :http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/195803011980021-PARSAORAN_SIAHAAN/Makalah Modul/Pelatihan_Guru_MIPA_Papua_Barat-11 15_Januari_2010/HAKIKAT_SAINS_DAN_Pembelajaran_IPAx.pdf(5 Mei 2016, pk. 08.30)
  8. Suyono dan Hariyanto. 2014. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
  9. Widowati, Asri. 2008. Diktat Pendidikan Sains. FMIPA UNY [online]. Tersedia : http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/diktat Pendidikan Sains.pdf (5 Mei 2016, pk. 10.20)

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar