6

“Aku Terkena Covid, Van.” (0)

AfanZulkarnain January 10, 2021

Tulisan ke-11 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Hujan deras mengguyur Jombang dari siang. Sampai senja menjelang belum ada tanda-tanda akan berhenti. Mendung masih tebal. Halaman depan rumah pun semakin tergenang. Tingginya mungkin hingga mencapai mata kaki. Sementara dari kejauhan suara petir menggelegar membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ketakutan. Kondisi yang tepat untuk terjebak dengan lamunan.

Suara dering handphone memecah lamunanku. Seorang sahabat dari kota tempatku berasal menelponku tiba-tiba. Suaranya serak. Nafasnya begitu berat. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya meski ia masih bisa tertawa dalam celotehnya.

Dia bercerita banyak hal. Mengenai pekerjaan barunya yang cukup menantang sebagai marketing sebuah dealer sekaligus ojek online, mengenai rencana pernikahannya beberapa bulan ke depan, mengenai nostalgia kebersamaan kami saat berada di perusahaan yang sama, hingga segala cita-citanya di tahun 2021 ini. Beberapa kali kami larut dalam canda. Tertawa lepas seperti biasanya. Menertawakan segala kekonyolan yang pernah kami lakukan.

Dia juga menanyakan kabarku di Jombang. Tentang pekerjaanku, tentang kebiasaanku, tentang hubunganku dengan tunanganku, tentang pembelajaran daring, dan lain sebagainya. Ia tanyakan semua.

20 menit berselang, tiba-tiba ia terbatuk-batuk. Suaranya semakin serak. Aku cukup curiga. Sahabatku ini terkesan tidak baik-baik saja.

“Bro, kamu gak kenapa-kenapa, kan?” tanyaku.

“Hehehe tidak apa-apa, Van. Aku cuma pengen ngobrol saja sama sahabat yang udah lama gak ketemu.”

Beberapa minggu lalu aku sempat pulang kampung. Hanya tiga hari. Namun kami belum sempat bertemu. Aku sibuk dengan segala kegiatanku. Demikian pula dengan dirinya. Terlebih ia tinggal di kecamatan yang berbeda. Cukup jauh. Aku hanya berkomunikasi lewat WA.

“Van.” Dia menarik nafas. Terdengar jelas suara nafasnya.

“Gimana, Bro?”

“Aku terkena Covid, Van.” bisiknya pelan.

“Astagfirullah…,” aku sangat terkejut mendengarnya.

“Aku sedang isolasi. Do’akan aku ya, Van. Jujur, aku takut sekali.”

Temanku ini termasuk orang yang sangat memikirkan sesuatu secara berlebihan. Pernah, hanya karena dimarahi customer saja, ia sampai tidak bisa tidur beberapa malam. Overthinking sekali. Aku pasti mengerti, ada beban berat di pundaknya. Dia pasti sangat stress menghadapi kenyataan ini.

“Semoga segera pulih, bro. Apa yang bisa kubantu?” tanyaku.

“Hehehe do’a saja, Van.”

Temenku ini orang yang tidak enakan. Dia tipe orang yang tak mau merepotkan orang lain. Kalau bisa ia hadapi sendiri, ia lakukan. Kalau benar-benar membutuhkan, ia baru menghubungiku. Pernah aku menawarinya bantuan saat ia berada di kondisi sulit beberapa tahun lalu. Ia menolak bahkan memarahiku. Menurutnya, sikapku itu sangat meremehkan dirinya. Harga dirinya sangat besar. Ia tak ingin hidup dalam belas kasihan.

“Aku selalu mendo’akanmu,bro.” bisikku pelan.

“Sumpah, Van. Nelpon kamu dan ketawa-ketawa seperti tadi membuatku merasa agak baikan hehehe…”

Tawanya begitu lepas. Ia seperti lupa kalau ia menghadapi virus mematikan. Virus yang sudah menelan banyak korban.

Kami pun tenggelam dalam perbincangan hingga adzan maghrib berkumandang. Kami akhiri perbincangan melewati jarak ratusan kilometer itu. Tak lupa ia mengingatkanku untuk terus mengikuti protokol kesehatan. “Jangan lupa pakai masker,” menjadi kalimat yang ia ucapkan beberapa kali.

Aku sangat mengikuti perkembangan Covid semenjak virus itu menjadi pandemi di Wuhan. Sampai saat ini, aku selalu update data kasus baru hingga jumlah kematian setiap harinya. Selalu ada penambahan yang signifikan.

Aku tak bisa membayangkan jika aku terpapar. Sakit itu sangat tidak menyenangkan. Apalagi sakit karena virus yang saat ini menjadi pusat perhatian. Harus menghadapinya sendiri di ruang isolasi, itulah situasi yang sangat penuh dengan tekanan. Menelpon kerabat dan teman, bertanya kabar ,cerita banyak hal, bercanda hingga tertawa cekikikan dapat menjadi pengurang beban.

“Sumpah, Van. Nelpon kamu dan ketawa-ketawa seperti tadi membuatku merasa agak baikan hehehe…”

Kalimatnya masih terngiang di ingatanku. Kehadiran keluarga dan sahabat dekat sangat dibutuhkan untuk memberi kekuatan bagi yang telah terpapar.

Kondisi yang dihadapi sahabatku ini membuatku lebih aware lagi dalam mengahdapi pandemi ini. Memakai masker, dan membawa hand Sanitizer serta mengikuti protokol kesehatan harus menjadi kebiasaan.

Aku membagikan link artikel ini kepadanya. Dan aku persembahkan kalimat terakhir di artikel ini untuknya.

“Untuk kawan baikku, semoga lekas sembuh. Beberapa bulan lagi, aku ingin kau hadir dalam pernikahanku.

Comments (6)

  1. In Syaa Allah, badai pasti berlalu yg utama ikhtiar tuk sembuh harus tetap dijalankan & tetap semangat, semoga lekas sembuh & hikmah bagi terpapar tetap jaga kesehatan
    iman & imun mesti tetap dijaga
    Tetap berdoa berserah diri & tawakkal kpd-Nya.
    Ikhtiar & tawakkal harus sejalan
    Istiqamah dalam ibadah wajib dilakoni
    Bersyukur kita masi diberi kesempatan
    Jangan sampe seperti ahli kubur yang pengen balik memperbaiki kesalahan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar